Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Menikmati Ibadah Ramadhan di Rumah | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Menikmati Ibadah Ramadhan di Rumah

Fenomena Ahok

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bisa menjadi fenomena politik baru di tanah air. Bukan sekadar menjadi tokoh yang mampu menerobos sekat-sekat...

Mengetuk Pintu Hati Presiden

Ada baiknya kita mundur kurang lebih satu dekade. Masih segar dalam ingatan kita, seorang perempuan hebat bernama Sri Mulyani Indrawati kala itu menjabat sebagai Menteri...

Jokowi, DPR, dan Kemiskinan Produk Legislasi 2015

Tahun 2015 kurang dari dua bulan lagi. Banyak catatan terhadap jalannya kinerja pemerintahan hasil Pemilihan Umum 2014. Setelah banyak evaluasi terhadap satu tahun pemerintahan...

Polwan dan Kinerja Polri

Menarik pesan yang disampaikan oleh Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi M. Tito Karnavian di Hari Ulang Tahun Polisi Wanita yang ke-68 pada 1 September...
Avatar
Biyanto
Gurubesar UIN Sunan Ampel Surabaya dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Pada Jumat (24/4/2020), umat Islam secara serentak mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Kondisi yang agak berbeda dari Ramadhan sebelumnya, umat menjalankan ibadah puasa tahun ini di tengah pandemi Covid-19. Kasus Covid-19 bahkan menunjukkan tren peningkatan. Seiring dengan kondisi itu, sejumlah daerah dinyatakan berada dalam zona merah. Dampaknya, daerah-daerah tertentu mengajukan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada pemerintah pusat.

Kondisi pandemi Covid-19 turut memengaruhi kemeriahan umat dalam menyambut Ramadhan. Padahal dalam kondisi normal umat biasanya menyambut (tarhib) bulan suci Ramadhan dengan penuh kegembiraan (targhib). Kini umat hanya bisa menyambut Ramadhan dalam suasana kedaruratan seraya mengucapkan Marhaban ya Ramadhan. Pada tahun ini acara tarhib Ramadhan umumnya diisi dengan kajian keagamaan yang dilaksanakan secara online. Sementara umat mengikuti kajian melalui berbagai media dari rumah.

Dalam kajian keagamaan itu umat diajak untuk menyiapkan diri dengan cara melapangkan dada dan membersihkan hati sanubari agar disinari dengan nilai-nilai kebaikan dari bulan Ramadhan. Budaya tarhib Ramadhan juga diisi dengan serangkaian upacara keagamaan sesuai kearifan lokal (local wisdom) setiap daerah. Di daerah tertentu masih ramai kegiatan ziarah atau nyekar ke makam lelurur dan kerabat sebagai bagian dari budaya menjelang Ramadhan.

Dalam kondisi normal, budaya agama yang paling fenomenal setiap menjelang Ramadhan adalah mudik ke kampung halaman. Hawa kampung halaman terasa begitu menyengat pada setiap menjelang Ramadhan dan Lebaran. Suasana kebatinan itu terutama dirasakan mereka yang bekerja di perantauan.

Menurut Andre Muller dalam Ramadhan di Jawa: Pandangan dari Luar (2002), budaya mudik dengan beragam ekspresinya merupakan fenomena keagamaan yang khas dari umat Islam Indonesia. Rasanya tidak ada budaya agama di negara lain yang semeriah negeri tercinta pada saat menjelang Ramadhan dan Lebaran.
Tetapi umat harus menerima dengan berlapang dada bahwa semua kemeriahan itu tidak dapat dinikmati pada Ramadhan dan Lebaran tahun ini.

Budaya mudik, pulang ke udik (kampung halaman), untuk bersilaturrahim serta berbagi dengan kerabat dan handai taulan pasti tidak akan semeriah biasanya. Hal itu karena ormas keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, dan NU jauh hari telah mengeluarkan himbauan untuk tidak mudik. Himbauan itu berlaku bagi mereka yang bekerja di perantauan, baik dalam atau luar negeri.

Padahal, kondisi para perantau yang umumnya pekerja harian di sekor informal pada saat ini sudah tidak bekerja. Kondisi sulit itu terlebih dirasakan pekerja mingran Indonesia (PMI) di berbagai negara. Mereka yang umumnya bekerja di bidang jasa konstruksi, restoran, pabrik, dan toko kebutuhan pokok telah diberhentikan seiring terjadinya wabah Covid-19. Hal itu karena ada kebijakan lockdown di negara tempat mereka mengais rejeki.

Dampaknya, mereka sudah tidak lagi berpenghasilan. Kondisi tersebut tentu mengganggu kehidupan para perantau. Karena itu, mereka ingin segera mudik sekaligus menikmati Ramadhan dan Lebaran bersama keluarga tercinta.
Tetapi kehadiran pemudik tentu sangat berpotensi menjadi sumber mata rantai penularan virus corona. Karena itulah Presiden Jokowi akhirnya juga memutuskan larangan mudik. Keputusan ini memang agak terlambat karena berdasarkan data Kemendagri sudah lebih dari satu juta orang mudik lebih awall ke kampung halaman.

Larangan mudik penting sebagai bagian dari implementasi pengaturan jarak sosial (social distancing) dan jarak fisik (physical distancing). Apalagi pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan tentang PSBB sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020. Semua regulasi itu penting untuk meminimalkan dampak Covid-19.

Penting juga dipesankan agar masyarakat mematuhi semua peraturan pemerintah dan himbauan ulama dengan penuh kesadaran. Jangan ada lagi golongan umat yang berperilaku sembrono seraya menantang takdir. Mereka selalu mengatakan tidak takut dengan corona. Yang ditakuti hanya Allah Swt. Kelompok ini juga memrovokasi umat untuk tetap meramaikan masjid atau musala selama Ramadhan. Padahal jika merujuk pada substansi ajaran agama, jelas sekali ada perintah untuk menjaga diri (hifdzun nafs) dari bahaya. Umat juga diajarkan untuk tidak menjatuhkan diri dalam kebinasaan (QS. Al-Baqarah: 195).

Para ahli ushul fikih (hukum Islam) menekankan pentingnya berpikir dengan menggunakan kaidah: Dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih (Menghindari bahaya harus lebih diutamakan daripada mewujudkan kebaikan). Kaidah lain juga menegaskan: La dlarara wala dlirara (Janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan diri dan orang lain).

Firman Allah dan kaidah ushul fikih itu penting diterapkan dalam suasana Ramadhan yang diwarnai pandemi Covid-19. Karena itulah rangkaian ibadah ramadhan, seperti teraweh, tadarus, berbuka puasa, sahur, dan iktikaf yang biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid harus ditiadakan.

Untuk menjaga diri sendiri dan orang lain dari bahaya Covid-19, maka umat harus menikmati ibadah Ramadhan bersama keluarga di rumah. Para perantau juga harus melupakan nikmatnya mudik ke kampung halaman. Bahkan jika Covid-19 terus mewabah, umat juga harus menyiapkan diri untuk tidak menjalankan shalat Idul Fithri di tanah lapang atau masjid. Demikian juga dengan budaya halal bi halal dan saling mengunjungi sebagai rangkaian Idul Fitri juga harus dihindari.

Penting disadari bahwa pandemi Covid-19 ini menjadikan situasi serba darurat. Karena itulah setiap orang harus berpikir dengan kaidah; “Pada dasarnya semua orang sakit kecuali yang benar-benar terbukti sehat.” Kaidah ini berbeda dari situasi normal sehingga kita berpikir: “Pada dasarnya semua orang sehat kecuali yang benar-benar terbukti sakit.” Dengan berpikir dalam situasi kedaruratan, maka diharapkan ada kewaspadaan dan kehati-hatian. Sebab, secara fisik memang sangat dulit dibedakan orang yang sudah terkena virus corona dan bebas dari Covid-19.

Berdasarkan pemberitaan di media, bahkan ada kecenderungan peningkatan orang tanpa gejala (ODG) tiba-tiba dinyatakan positif Covid-19. Karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali kita menaati peraturan pemerintah dan fatwa ulama.

Semoga wabah Covid-19 tidak mengurangi kekhusyukan dan kesyahduan kita dalam menjalani ibadah Ramadhan tahun ini. Bahkan sebaliknya, pandemi Covid-19 menjadi pembelajaran untuk lebih menyayangi diri dan orang lain.

Sebagai hamba yang lemah kita juga harus membangun kedekatan hubungan dengan Allah seraya bermunajat kepada-Nya agar para pemimpin dan seluruh elemen bangsa diberi kekuatan untuk melawan pandemi Covid-19.

Avatar
Biyanto
Gurubesar UIN Sunan Ampel Surabaya dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.