My Brilliant Career bukan sekadar cerita; ia adalah warisan berharga Australia yang tak lekang oleh waktu. Kini, sebuah adaptasi terbaru siap menyapa generasi baru. Kami berkesempatan mengintip langsung ke balik layar proses produksinya.
Di dalam studio raksasa Adelaide Studios yang megah, atmosfer Australia pada pergantian abad ke-20 dibangun kembali dengan begitu hidup. Di balik sebuah pintu, berdiri Caddagat—sebuah rumah pedesaan anggun di New South Wales milik keluarga Bossier, yang menjadi panggung utama bagi pergolakan batin dalam novel autobiografi liar karya Miles Franklin yang terbit tahun 1901. Sementara di balik pintu lain, kemewahan memancar dari Five Bob Downs, kediaman megah milik tetangga mereka, keluarga Beecham. Di antara dua setelan kontras inilah para kru dan pemeran berlalu-lalang, berbalut jubah mandi kasual yang kontras dengan gaun korset (bustle) klasik era Federasi yang mereka kenakan.
Bagi Pip Northeast, sang pemeran utama, proyek ini terasa seperti takdir yang magis.
“Cerita ini punya kedekatan emosional yang mendalam bagi saya. Ibu sering membacakannya waktu saya masih kecil,” kenangnya penuh binar.
Perjalanannya mendapatkan peran Sybylla pun penuh liku. Ia sempat mengikuti audisi untuk karakter lain, namun semesta seolah menggeser jadwal dan membuka jalan agar peran impian ini kembali ke pelukannya.
Uniknya, Sam Reid—pasangan Pip—tumbuh besar di peternakan yang dulunya menjadi lokasi syuting film adaptasi legendaris tahun 1979 (yang dibintangi Judy Davis dan Sam Neill). Pip bahkan sempat mengajak Sam dan anjing mereka menjelajahi peternakan itu selama dua hari demi mencari sisa-sisa set lama, berharap mendapat pertanda baik.
Saat menemukan puing-puing seng tua yang sudah runtuh, Pip langsung berswafoto dan mengirimkannya ke produser. Senin berikutnya, peran itu resmi jatuh ke tangannya. Kostum desainer Kerr menggambarkan Pip sebagai sosok yang “ceria dan lincah—ia selalu tahu cara menghidupkan suasana.”
Setahun setelah proses syuting, kami kembali berbincang di sebuah kafe estetis di Marrickville, Sydney. Tempat ini sengaja dipilih Pip karena di sinilah ia pertama kali mendapat kabar bahwa ia lolos audisi, tepat saat ia sedang menemani ibunya yang berkunjung dari Melbourne.
Bagi Pip, karakter Sybylla adalah representasi dari sang ibu dan perempuan di zamannya yang terjebak oleh batasan sosial. “Ibu saya sangat kreatif, tapi hidup di era yang berbeda. Jika ia lahir di generasi saya, ia pasti sudah menjadi seniman teater atau pemain boneka handal,” ungkapnya.
Ketegangan emosional inilah yang menjadi urat nadi My Brilliant Career. Sybylla adalah pemberontak yang menolak tunduk pada tuntutan pernikahan konvensional.
“Saya ingin berkarya, bukan bereproduksi,” tegas Sybylla dalam satu adegan ikonis.
Bagi Pip, perjuangan ini masih sangat relevan. Sybylla adalah potret perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri dengan keberanian luar biasa, yang selalu punya cara untuk bangkit setiap kali dihempas badai kehidupan.
Memerankan Sybylla adalah tantangan fisik dan batin yang luar biasa bagi Pip. Karakter ini digambarkan sebagai gadis remaja yang meledak-ledak, keras kepala, dan selalu bergerak aktif—berlari membelah ladang, menceburkan diri ke sungai, hingga bajunya robek dengan dahi yang terus bersimbah keringat.
“Peran ini benar-benar menguras seluruh energi dan sel dalam tubuh saya, tapi saya sangat menikmatinya,” aku Pip sambil berkaca-kaca. Begitu totalnya Pip, hingga ia merasa jiwa Sybylla masih tertinggal di dalam tubuhnya.
Begitu syuting selesai, Pip langsung terbang ke Melbourne dalam kondisi lelah luar biasa demi menyambut kelahiran keponakannya di hari yang sama. Sebuah akhir proyek yang manis, menutup lembaran cerita fiksi untuk menyambut kehidupan nyata yang baru.
Pada akhirnya, adaptasi Netflix ini berhasil menangkap esensi terdalam dari karya Miles Franklin: bahwa hidup adalah tentang merayakan cinta dan gairah. Sybylla merasakan dunia lewat seluruh indranya—menikmati setiap cecapan makanan, tegukan sampanye, hingga sentuhan fisik. Namun, ruang paling intim dalam serial ini justru terjadi saat ia sendirian dengan imajinasinya di dalam bak mandi tembaga. Semua jalan hidupnya selalu berujung pada meja tulisnya.
Miles Franklin sendiri menulis hingga napas terakhirnya pada hari ia wafat. Semangat membara itu kini mengalir dalam darah Pip Northeast.
“Pilihan karier ini memang penuh kecemasan, tapi saya tahu, saya ingin terus berakting sampai hari saya mati,” pungkasnya mantap.
