OUR NETWORK
Senin, Oktober 25, 2021

Mencari Sosok Jubir Presiden

Santri Itu Keren

Pinjol Merajalela, di Mana Lembaga ZIS?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Iding Rosyidin
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Program Studi Ilmu Politik Indonesia (Apsipol).

Peran juru bicara (jubir) bagi para pejabat publik, para pebisnis, dan semacamnya sangatlah penting. Merekalah pada kenyataannya orang yang selalu berada di garda depan ketika berhadapan dengan publik; mereka menyampaikan apa yang diinginkan oleh para bosnya tersebut secara tepat sehingga publik dapat menangkapnya dengan tepat pula.

Seperti diketahui Jubir Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini, Fadjroel Rachman, akan memangku tugas baru sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kazakhstan. Tentu saja posisinya sebagai jubir harus ditinggalkan. Itulah kenapa saat ini muncul wacana tentang siapa sosok yang tepat untuk menggantikan dirinya.

Sejumlah Kriteria

Untuk menjadi seorang jubir presiden, tentu tidak bisa sembarangan orang karena tugasnya yang cukup berat dan posisinya sangat strategis. Terutama karena saat ini banyak sekali kritikan dilontarkan terkait dengan manajemen komunikasi publik pemerintahan. Karena itu, kehadiran seorang jubir menjadi sangat penting. Ada sejumlah kriteria yang mesti dimiliki oleh para calon jubir presiden, dalam hal ini, Presiden Jokowi.

Pertama, juru bicara presiden harus memahami betul pikiran-pikiran dan keinginan-keinginan Jokowi secara utuh sehingga mampu menerjemahkannya dengan tepat ketika sedang bertugas. Hal ini karena jubir merupakan representasi dari presiden sehingga pesan yang disampaikan jubir, selain harus jelas dan tegas, juga mesti sama persis dengan apa yang diinginkan presiden.

Sangatlah fatal kalau, misalnya, apa yang disampaikan jubir berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan presiden karena pemahaman jubir yang kurang utuh. Jelas, hal itu bisa memunculkan kesalahpahaman atau mispersepsi di kalangan publik. Padahal, dalam perspektif komunikasi, persepsi, seperti dikatakan Prof Deddy Mulyana dalam Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar, merupakan inti komunikasi. Jika persepsi komunikator (pemberi pesan) dan komunikan (penerima pesan) berbeda, maka proses komunikasi itu tidak efektif.

Ada banyak kasus fatal yang terjadi ketika timbul mispersepsi atau kesalahpahaman antara komunikator  dan komunikan dalam berbagai kasus. Jika dalam kasus pertemanan saja, hal seperti itu bisa menimbulkan pertikaian bahkan keributan di antara mereka, lebih-lebih jika hal itu terjadi dalam kasus yang lebih besar dan sensitif seperti politik praktis. Sangat mungkin terjadi hingar bingar atau bahkan turbulensi politik.

Kedua, juru bicara presiden juga diharapkan menguasai komunikasi dan politik pada saat yang bersamaan, mesti tidak harus berlatar belakang kedua ilmu tersebut. Yang pertama berkaitan dengan kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan presiden kepada publik. Tentu saja, orang yang memiliki kemampuan komunikasi akan mudah menyampaikan beragam pesan secara jelas.

Sementara yang kedua, merupakan sebuah keharusan, karena bagaimana pun posisi seorang jubir presiden sendiri sudah kental dengan politik. Tentu saja, tugas-tugas yang diembannya berkaitan erat dengan dunia politik secara luas. Oleh karena itu, ia dituntut untuk memahami dan menguasai persoalan-persoalan politik secara memadai.

Ketiga, selaiknya seorang juru bicara presiden adalah orang yang mampu menguasai diri dalam berbagai situasi, misalnya mengontrol emosi dengan baik, terutama ketika berhadapan dengan situasi yang dipenuhi ketegangan. Alangkah tidak eloknya, jika sang jubir ikut terpancing emosi ketika berada di dalam situasi tersebut.

Seperti diketahui, tidak sedikit kritikan-kritikan yang tajam bahkan terkadang lebih bernuasa nyinyir terhadap Jokowi atau pemerintahannya. Lebih-lebih kalau kita melihatnya di berbagai platorm media sosial. Dalam memberikan respons terhadap hal tersebut, jubir presiden diharapkan dapat melakukannya dengan tetap elegan, tidak terbawa emosi dan seterusnya.

Keempat, idealnya seorang jubir presiden adalah orang yang performanya, terutama performa kebahasaannya, santun dan elegan. Misalnya, ketika memilih kata atau diksi, ia bisa memilihnya yang tepat, meski pada saat berhadapan dengan ungkapan-ungkapan yang cukup kasar dari para pengkritik presiden.

Seorang jubir presiden yang santun dalam berbahasa, bukan hanya mampu menenangkan suasana ketegangan. Melainkan juga, pada saat yang sama, meningkatkan citra dan kredibilitasnya di mata publik atau khalayak. Apalagi sosok yang direpresentasikannya, dalam hal ini Jokowi, dikenal sebagai orang yang santun dalam berbahasa. Maka, kalau ia bisa menampilkan dirinya sama dengan Jokowi, besar kemungkinan publik akan menyukainya.

Sosok yang Tepat

Belakangan ini beredar kabar bahwa Ali Mochtar Ngabalin digadang-gadang sebagai calon pengganti Fadjroel Rachman seperti banyak diberitakan oleh berbagai media. Pertanyaannya, tepatkah Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP) itu menjabat sebagai Jubir Presiden Jokowi?

Agaknya, pada diri Ali Ngabalin ada di antara kriteria jubir presiden, seperti telah disebutkan di atas, yang sulit dipenuhi, khususnya tentang kontrol emosi dan kesantunan dalam berbahasa. Dalam sejumlah kasus, responsnya terhadap kritikan pedas yang dialamatkan kepada presiden cenderung keras, dan pemilihan kata yang digunakannya tampak kasar. Hal ini, misalnya, terlihat baru-baru ini ketika menjawab kritikan dari Rizal Ramli.

Bahwa kritikan dari Rizal Ramli atau mungkin tokoh oposisi lainnya cenderung keras, seyogianya tidak dibalas pula dengan keras pula, karena hal itu justeru akan menjadi kontraproduktif. Keras dilawan dengan keras biasanya tidak akan menyelesaikan persoalan, alih-alih akan semakin memperuncing masalah yang ada.

Seorang jubir presiden yang baik, saat menghadapi kritikan pedas dari kalangan oposisi, misalnya, tidak akan tersulut emosi atau terpancing. Ia tetap mampu mengontrol diri seraya memfokuskan pada substansi kritikan yang disampaikan. Pada gilirannya, ia dapat menjawab kritikan tersebut dengan argumentasi yang kuat. Kritikan-kritikan yang lebih diarahkan pada personal presiden tidak perlu diladeni.

Kalau boleh memberikan saran, hemat penulis, Jokowi lebih baik mengangkat jubirnya dari kalangan profesional, tentu yang memenuhi keempat kriteria di atas. Kalangan profesional itu bisa saja diambil dari akademisi di kampus atau dari lembaga-lembaga profesional lainnya. Agaknya negeri ini banyak memiliki orang-orang yang layak menjadi jubir presiden.

Iding Rosyidin
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Program Studi Ilmu Politik Indonesia (Apsipol).
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.