Minggu, Mei 9, 2021

Sontoloyo: Dulu dan Kini

Mengapa Masyarakat (Masih) Suka Berita Politik?

Kita pasti sering mendengar ucapan orang-orang yang tidak peduli dengan politik. Dalam artian mereka bersikap masa bodoh terhadap dinamika politik yang, dalam pandangan mereka,...

Olimpiade, Media, dan Komersialisasi Olahraga

Media massa dan olahraga adalah dua institusi sosial yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Event olahraga paling bergengsi seperti Olimpiade 2016 yang saat ini tengah...

Dari “Wartawan Amplop” ke “Buzzer Amplop”

Pernah mendengar istilah "wartawan amplop"? Bagi generasi X dan sebelumnya, istilah itu tak asing lagi. Terlebih lagi kalangan media massa serta yang berhubungan dengannya....

Ketika Orang Dewasa Kena Demam Pokemon Go

"Pokemon Go ini game anak-anak, tapi kok yang heboh justru om-om?" Demikian sebuah pertanyaan menarik muncul di linimasa Twitter belum lama ini. Betul, permainan...
Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi

Selama dua hari, dua koran memuat penggunaan kata sontoloyo dalam berita dan opini. Di Kompas, 19 Maret 2018, berita berjudul “Sapardi dan Tokoh-tokoh Usilnya” memuat kalimat dari Sapardi Djoko Damono dalam peluncuran novel terbaru: “Sarwono tokoh sontoloyo, bandelnya minta ampun.” Sarwono adalah tokoh dalam novel berjudul Yang Fana Adalah Waktu. Penggunaan kata sontoloyo oleh Sapardi mengesankan ada keunikan dan undangan bagi pembaca melacak lagi pengertian: dulu dan sekarang.

Isitilah sontoloyo juga muncul di opini Republika, 20 Maret 2018. Opini ditulis Erwin Moeslimin Singajuru berjudul “Demokrasi Sontoloyo”. Kalimat-kalimat mengandung kritik dan serangan: “Orang-orang yang bermain dengan demokrasi sontoloyo harus terus kita perangi. Situasi ini harus disadarkan, terutama oleh mereka yang masih memiliki akal sehat dan nurani. Jangan sampai demokrasi Pancasila terus-menerus dirongrong, dibelokkan, dibajak, dan di-sontoloyo-kan.” Opini itu mengurusi hajatan demokrasi dan korupsi rimbun aib sulit disembuhkan.

Orang membaca berita tentang sastra dan opini bertema politik menggunakan kata sontoloyo tanpa mendapat pengertian terang oleh si wartawan atau penulis. Mereka mungkin sudah mengerti sontoloyo dan mengandaikan pembaca pun mengerti bereferensi masa lalu. Apa itu sontoloyo bagi pembaca abad XXI saat kata-kata baru terus bermunculan dalam kerja sastra dan lakon politik?

Orang-orang mungkin ingat tulisan pendek Soekarno di majalah Pandji Islam (1940). Esai berjudul “Islam Sontolojo”. Judul itu  mentereng? Soekarno termasuk penulis piawai mengadakan judul mengesankan: gampang teringat, puitis, dan mengandung misteri. Dulu, orang-orang sulit menebak sumber pemilihan ungkapan “sontolojo” atau sontoloyo.

Pembaca esai menanggung bingung, tak pasti mendapatkan penerangan dari Soekarno atau para ahli bahasa. Di majalah Alfatch edisi 20 Juni 1940, rubrik “Lamdahoer Linie” memuat sejenis polemik tentang “sontolojo”. Para pembaca ingin mengetahui asal bahasa dan makna terang “sontolojo”. Siapa berkenan memberi keterangan singkat dan benar?

Kebingungan pembaca: “Itoe apa kalimat bahasa Djawa atau bahasa Sanskriet atau bahasa Bali atau bahasa Kawi?” Esai berjudul aneh telah menularkan bingung ke para pembaca di seantero Indonesia.

Lamdahoer berusaha menjawab agak sembarangan. Jawaban semasa dengan pemuatan esai garapan Soekarno. Lamdahoer menerangkan: “Sontolojo, artinja loeas sekali dan beloem ada ketetapan jang pasti, karena itoe kalimat oempatan of tjatji makian.”

Konon, sebelum Soekarno menggunakan ungkapan sontoloyo di judul esai, ada penulis lain pernah menggunakan di majalah Expres. Lamdahoer tak memberi informasi nama penulis dan waktu penggunaan ungkapan sontoloyo. Ia malah menuduh Soekarno berperan agar “sontolojo itu akan dipopoelerkan lagi dalam oemmat Islam.” Lelucon setelah tuduhan: “Terserah masa bodo…”

Lamdahoer tak berbekal kamus-kamus atau kutipan dari ahli bahasa. Ia enteng saja memberi arti sontoloyo adalah “bodoh, pandir, doengoe, idioot, nakal, oerik, nggabroel, mbako, megap-megap, tekaboer, mbamboeng, tengik, pendjilat, tjoro, moraal bedjat…”

Kita mungkin mengira jawaban itu serius tapi agak lucu. Pembaca masih bingung membaca deretan arti belum tentu berbahasa Indonesia. Sekian kata tampak berasal dari bahasa Jawa. Lamdahoer mungkin membiarkan orang memilih arti paling gampang atau wajar. Kita menduga sekian arti sesuai dengan maksud Soekarno.

Dua belas tahun berlalu, Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) mencantumkan lema “sontolojo”, berarti “bodoh sekali” atau “dungu”. Lema diberi keterangan “dp” atau ungkapan cuma dalam percakapan. Konon, orang-orang di Jawa biasa memaki dengan ungkapan sontoloyo.

Perubahan arti terjadi di Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976), setelah mengalami pengolahan kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Arti berbeda dari edisi 1952: “kurang baik seperti konyol, tidak beres, bodoh.” Cacian itu belum punah pada abad XXI. Kita masih menemukan di Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia (2016) susunan Eko Endarmoko. Sontoloyo bersinonim dengan brengsek dan konyol.

Sontoloyo masih mungkin dikenang dengan pelbagai arti atau sinonim, sejak masa 1940-an sampai 2016. Kita mendingan membaca lagi esai Soekarno. Semula, Soekarno membaca reportase di majalah Pemandangan tentang ulah guru agama mencabuli murid. Guru itu berdalih memiliki pemahaman ilmu agama dan berwibawa. Soekarno menganggap siasat atau ulah guru itu contoh “Islam sontolojo”.

Penjelasan pendek agar pembaca tak gampang terpeleset ke arti tak keruan: “Sesoeatoe perboeatan dosa dihalalkan menoeroet hoekoem fiqh.” Guru itu telah memperalat agama demi berahi alias persetubuhan dengan gadis-gadis tanpa pernikahan secara resmi. Guru itu “sontolojo” alias melakukan tindakan “mengaboei mata Tuhan.” Ia menebar kebohongan dan bujukan manis tapi menjerumuskan.

Soekarno tak lekas mengartikan “sontolojo”. Judul esai sanggup membuat pembaca wajib teliti membaca pelbagai uraian dan argumentasi berkaitan tindakan cabul, agama, dan sejarah. Sejak alinea awal sampai akhir, Soekarno tak gamblang mengartikan sontoloyo. Orang-orang disangka sudah mengerti, tak perlu ada penjelasan panjang.

Di akhir esai, Soekarno mengingatkan: “Djanganlah kita kira diri kita soedah moekmin tetapi hendaklah kita insjaf, bahwa banjak di kalangan kita jang Islam-nja masih Islam sontolojo!” Soekarno telah menulis esai. Pembaca berhak memberi tanggapan. Soekarno tak menugasi diri sebagai pemberi arti mengacu ke kamus-kamus.

Puluhan tahun berlalu dari esai garapan Soekarno, kita masih menemukan sontoloyo dalam berita dan opini.

Pemuatan sontoloyo di Kompas dan Republika mengajak kita memikirkan lagi kemungkinan-kemungkinan menggunakan kata-kata lawas masih manjur makna ketimbang menggampangkan dengan mencomot kata-kata dari bahasa Inggris, Jerman, Arab, atau Prancis.

Pilihan pada sontoloyo pun sanggup membuka halaman-halaman sejarah berkaitan demokrasi, bahasa, agama, sastra, dan pers. Pada 2018, sontoloyo masih mungkin dituliskan dan diucapkan tanpa ragu dan malu. Begitu.

Baca juga:

Pengarang “Mati”, Pembaca Lahir

Sangar ala Jokowi

Puisi Esai Denny JA: Pamflet Harian Seorang Konsultan

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik...

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.