Sabtu, April 17, 2021

Bisakah Kita Memberi Maaf Pada Kezaliman?

Surat Cinta Muslim tentang Perempuan Pembawa Anjing ke Masjid

Namanya juga orang kalut. Sangatlah wajar ia mengalami "kegilaan," sementara. Tindakan-tindakannya akan menerobos kekaprahan yang ada dalam sebuah komunitas. Video berisi seorang perempuan bersepatu masuk...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Menempatkan Basuki pada Tempatnya

Mengapa banyak kalangan berusaha mendorong Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta? Mengapa tidak ada satu pun orang berpikir untuk...

Menanti Langkah Presidensial Jokowi tentang Munir

Penyebab kematian almarhum Munir Said Thalib masih menjadi misteri bahkan setelah 12 tahun kepergiannya. Bahkan Pollycarpus yang merupakan salah satu pelaku lapangan telah menghirup...
Avatar
Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.

Salah satu tradisi mulia umat Islam Indonesia dalam lebaran adalah memohon maaf. Memohon maaf adalah simbol rekonsiliasi sosial sekaligus ungkapan kerendahan hati.

Karena tak memahami epistemologi maaf dan epistemologi keadilan, banyak orang a) menetapkan pemaafan sebagai ganti keadilan, b) menganggap semua kezaliman sebagai dosa sosial semata, c) menganggap kezaliman sebagai dosa partikular semata, d) menganggap korbannya hanya yang terlihat saja, e)menganggap pelakunya hanya berurusan dengan korban, f) menganggap pelaku yang dimaafkan bebas dari tanggungjawab hukum.

Kezaliman adalah sesuatu yang universal meski tindakannya merupakan sesuatu yang partikular dan personal, begitu pula pelaku dan korbannya,

Pemberian maaf kepada pelaku kezaliman tak niscaya membebaskannya dari beban hukum positif dan hukum agama dan tak berarti hukum dan nilai menjadi hak eksklusif pihak yang terzalimi.

Sebuah tindakan zalim (yang mungkin terlihat partikular, karena pelakunya dan korbannya satu orang), sangat mungkin menimbulkan efek universal dan sosial.

Korban yang sekilas terlihat personal atau terbatas bisa sangat banyak bila kezalimannya mengena banyak orang atau sekelompok orang dengan identitas etnis atau keyakinan khas yang berbeda dengan kebanyak.

Memaafkan penzalim tak niscaya menghapus kezaliman dan mengaburkan posisi bersalah. Tindakan kezaliman yang telah dikakukan takkan bisa dianggap tak terjadi betapapun pelakunya telah meminta maaf dan dimaafkan oleh yang terzalimi.

Bila orang yang terzalimi secara hukum, politik, sosial, dan lainnya memaafkan (apalagi meminta maaf kepada) pelaku kezalman , maka itu dapat ditafsirkan sebagai bagian dari “voor”.

Selain merupakan dosa horisontal, kezaliman terhadap sesama manusia, apapun keyakinan dan etnisnya, merupakan kezaliman vertikal. Penzalim berurusan dengan Tuhan yang mewanti-wanti manusia tidak mengganggu sesamanya.

Yang paling mungkin dilakukan oleh orang yang dilemahkan “secara nasional’ adalah menyempurnakan pengorbanan dan legowo dalam level tertinggi agar suara-suara kebenaran dan keadilan tetap mengiang dalam relung jiwa manusia-manusia yang mengutamakan nilai keadilan atas apapun dan siapapun termasuk individu yang terzalimi.

Sikap legawa orang yang dizalimi dan diabaikan kadang merupakam pukulan psikologis, ajakan penyadaran dan isyarat perlawanan.

Kita sangat rajin memproduksi kesalahan, adalah manusia biasa. Kesalahan adalah kemestian. Justru aneh bila tak melakukan kesalahan. Agama dihadirkan sebagai tutorial untuk memperbaiki kesalahan.

Di antara orang-orang yang hemat kebaikan dan boros keburukan ada orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain karena sadar bahwa mereka bisa melakukan kesalahan yang sama atau seperti itu atau bahkan lebih berat dari itu, meski tak dipersoalkan.

Kita dianjurkan meminta maaf atas perbuatan yang mungkin melukai hati orang lain, meski mungkin kita tidak merasa bersalah karena meminta maaf selalu lebih mulia dari memaafkan. Permohonan maaf dari seseorang yang dianggap menempati posisi lebih tinggi secara sosial adalah perbuatan yang sangat mulia.

Kita dianjurkan meminta maaf, bukan mendapatkan maaf. Kita juga dianjurkan memberikan maaf, bukan menanti orang meminta maaf.

Meminta maaf kepada orang-orang terdekat yang sangat mungkin dizalimi, terutama istri, suami, anak, orangtua, dan pembantu adalah adalah objek prioritas.

Sayangnya, sekarang pengucapan permohonan maaf saat lebaran mulai kehilangan esensinya yang serius dan sakral sehingga terkesan klise atau basa basi apalagi pengucapannjya customized “mohon maaf lahir dan batin.” Mestinya bentuk kata dan diksi yang diucapkan merupakan pilihan sendiri sebagai ekspresi cetusan hati.

Mohon maaf atas semua kesalahan terutama bila tak berkenan atas tulisan sederhana ini.

Avatar
Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.