Rabu, April 21, 2021

Ideologi di Balik Teknologi Tepat Guna

Kerendahan Hati

Ketika seorang guru mengembangkan kuasanya yang besar, itu menjadi seperti samudera: aliran dan sungai mengalir ke dalamnya. Semakin berkuasa sang guru, semakin besar kebutuhan akan...

Mengapa Tiket Konser Celine Dion Laris Manis?

Saat tiket konser Celine Dion dibuka secara online tempo hari, tidak sedikit warganet terheran dan kaget mengapa bisa konser tiket tersebut begitu mahal. Untuk tiket...

Ada Apa dengan Aksi Bela Islam?

Kabarnya, 4 November 2016, beberapa ormas Islam akan berdemonstrasi dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara. Tuntutan yang akan disuarakan adalah penentangan mereka pada pemimpin...

Isra Mi’raj: Menyatunya Rasa dan Rasio untuk Menghadirkan Cinta di Muka Bumi

Hidup itu berjalan dengan dua basis fundamental. Rasa dan rasio. Iman dan ilmu. Kita ingin punya rumah yang indah menyenangkan. Membangun rumahnya dengan ilmu. Mempercantiknya...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Saya suka mengenang masa kecil di lereng Gunung Sindoro yang menyenangkan, khususnya di musim liburan seperti Ramadhan. Bulan Puasa adalah panggung festival kreativitas bagi anak-anak desa. Mereka membuat berbagai mainan.

Salah satunya membuat wayang-wayangan: air kali di belakang rumah dialirkan ke kincir bambu yang disambungkan dengan tali; kincir berputar ritmis, tali menggerakkan boneka-boneka yang menari dalam lampion lampu minyak damar di depan rumah.

Anak-anak yang lain membuat petasan bumbung. Mereka mencari bambu besar melubangi ruas-ruasnya dan membenamkannya dalam tanah dalam posisi mirip meriam siap tembak. Campuran karbit dan air menjadi amunisinya. Ketika disulut, meriam bambu mengeluarkan suara menggelegar.

Teknologi Sederhana di Desa

Anak-anak yang paling kecil di desa tahu tentang teknologi sederhana itu. Tanpa disadari, mereka tahu tentang ilmu fisika, mekanika dan kimia bahkan sebelum masuk sekolah dan universitas. Mereka tahu bagaimana memanfaatkan apa yang tersedia dekat rumah mereka untuk kesenangan.

Tapi, di era videogame dan playstation, kesenangan seperti itu dipandang “primitif”, sebagian besar telah ditinggalkan, bahkan oleh anak-anak di desa.

Tak hanya kesenangan anak-anak. Banyak ilmu dan teknologi praktis di desa, yang berguna untuk pertanian dan ekonomi, telah ditinggalkan: dari membuat pupuk kandang, merakit kincir angin untuk memompa air irigasi, membuat lampu minyak damar, dan mengolah aneka ragam panganan lokal.

Teknologi Tepat Guna

Tapi, benarkah teknologi tepat guna di pedesaan itu primitif? Dan benarkah cuma romantisme masa silam ketika setiap tahun pemerintah menyelenggarakan pameran Gelar Nasional Teknologi Tepat Guna?

Dua tahun lalu, pameran nasional itu mendatangkan 8.000 peserta dari semua provinsi Indonesia. Para peserta memamerkan perangkat bikinannya sendiri, yang diilhami pengetahuan tradisional berbagai daerah Kepulauan Indonesia dan diperkaya dengan pengetahuan modern.

Salah satu yang dipamerkan, misalnya, adalah alat pembakar ikan tanpa membuatnya gosong. Itu alat sederhana, bisa dibuat di desa, dan merupakan solusi praktis sehari-hari.

Kita bisa berharap pameran seperti itu tidak sekadar seremonial; harus ada upaya lanjutan untuk kembali mempopulerkan kembali teknologi tepat guna.

Tapi, di tengah gempuran gaya hidup perkotaan yang serba mesin dan serba listrik, upaya mempopulerkan kembali teknologi tepat guna hanya bisa dilakukan jika ditopang oleh cara berpikir yang tepat, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat. Pilihan teknologi adalah pilihan ideologis.

Ideologi di Balik Teknologi

Ideologi teknologi tepat guna dipopulerkan oleh Ernst Friedrich “Fritz” Schumacher, pakar ekonomi Inggris, pada 1970-an. Schumacher menuangkan gagasan tentang pentingnya teknologi tepat guna dalam bukunya yang terkenal “Small is beautiful”.

Menurut Schumacher, “kehidupan ekonomi yang paling rasional adalah memproduksi kebutuhan lokal dari sumberdaya lokal.” Bukan sentralisme ekonomi tapi desentralisme dan distribusi ekonomi. Bukan “produksi massal” yang penting bagi Schumacher, tapi “produksi oleh massa” atau “produksi oleh rakyat.”

Produksi oleh massa, termasuk oleh rakyat pedesaan, menuntut adanya teknologi. Dan di pedesaan, baik di kalangan petani maupun nelayan, teknologi tepat guna adalah jawabannya, yakni teknologi yang mudah (user-friendly), ramah lingkungan, dan bisa diterapkan di masyarakat yang paling sederhana sekalipun.

Gagasan Schumacher banyak dipengaruhi oleh kehidupan Mahatma Gandhi. Dalam film epik-biografi yang dibuat Richard Attenborough, kita bisa melihat bagaimana Gandhi memintal bajunya sendiri dengan peralatan sederhana. Gandhi juga menggerakkan jutaan rakyat India untuk mengolah garam dari tanah sendiri. Nampaknya sederhana. Tapi dengan langkah itulah Gandhi menaklukkan kolonialisme Inggris.

Teknologi Desa dan Green Lifestyle

Menengok kembali kehidupan masa lalu di desa, serta merenungkan kembali pentingnya teknologi tepat guna, bukanlah bentuk romantisme atau pelarian diri. Bukankah kini orang banyak bicara tentang “green lifestyle”, “green economy”, “green energy” dan “green-green” yang lain?

Kesederhanaan adalah kekuatan. Teknologi tepat guna ala pedesaan justru kini harus dipandang sebagai simbol kemajuan dan kemodernan.

Lebih dari segalanya, teknologi dan produksi tepat guna menjamin keberlangsungan dan kedaulatan ekonomi di negeri-negeri berkembang seperti Indonesia.**

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.