Jumat, April 23, 2021

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

BUMN Pembangkit Ekonomi Politik Indonesia

“Di tengah hiruk pikuk gerakan politik jalanan. Ekonomi politik negara tetap harus tiba pada tujuan. BUMN menjadi salah satu kendaraan paling mutakhir yang bisa...

Tentang Pernikahan Dini Anak Muda Masa Kini

Membaca tulisan Ferena Debineva berjudul Menikah dan Prestasi: Membandingkan Apel dan Meja Kerja menuntun saya pada pemikiran yang lebih mendasar tentang pernikahan. Yang saya...

Kekerasan Seksual Berada di Zona Merah, Haruskah RUU PKS Terus Ditarik Ulur?

Uang yang kita miliki adalah berkah dari Tuhan. Namun, jika uang yang kita peroleh dengan cara korupsi (merugikan rakyat dan negara), tentunya masuk dalam...

Presiden Jokowi dan Kekisruhan Kabinet Pelangi

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari Sudah berulang kali Presiden Joko Widodo mengingatkan para menterinya untuk tidak membuat gaduh di...
Azyumardi Azra, CBE
Azyumardi Azra, CBE
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006. Guru Besar kehormatan Universitas Melbourne (2006-2009). Dewan Penyantun, penasehat dan guru besar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010) dll.

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13).

Islam menekankan pentingnya semangat/cinta tanah air dan bangsa; hubb al-wathan min al-iman (cinta tanah air adalah bagian daripada iman); jawaban ulama pembaru Mesir Syaikh M Rasyid Ridha atas pertanyaan ulama asal Sambas, Kalimantan, KH Basuni Imran (1883-176).

Cinta tanah air mestilah tidak berarti ‘chauvinistik’; menganggap bangsa sendiri paling unggul/utama, yang paling utama hanya ‘ketaqwaan’.

Nasionalisme dan Negara-bangsa Indonesia: Religiously Friendly

Nasionalisme Indonesia kompatible dan tidak bertentangan dengan agama karena tidak sekuler dan tak bersahabat (unfriendly) terhadap agama.

Nasionalisme Indonesia memberikan tempat terhormat kepada agama; Pancasila, UUD 1945. Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa dan silla-sila lain adalah dasar negara/platform Negara-bangsa yang ‘religiously friendly basis/ideology of the state.

Meski demikian, Pancasila adalah ‘de-confessional basis of the Indonesian state’—dasar negara yang tidak terkait eksplisit dengan agama tertentu, khususnya Islam yang dianut mayoritas mutlak penduduk Indonesia.

Indonesia; Negara Pancasila

Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar setelah India dan AS. Indonesia berdasarkan Pancasila sebagai common platform di antara komunitas dan kelompok warga sangat majemuk. Dengan Pancasila sebagai dasar negara, Indonesia bukan ‘confessional’ state (negara berdasar agama), juga tidak negara murni ‘secular state’; agama menjadi part and parcel of public life.

Mayoritas mutlak warga dan pemimpin Indonesia sudah final menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Multikulturalisme, pluralisme atau kemajemukan juga diakui negara lewat prinsip, Bhinneka Tunggal Ika (Diversity in Unity).

Harmonisasi Islam, Nasionalisme dan Negara-bangsa

Islam [dan juga agama-agama lain] telah menerima nasionalisme Indonesia sejak masa pergerakan dalam dasawarsa 1910an.

Para penganut agama menjadi salah satu tulang punggung utama gerakan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan. Penerimaan UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan bukti komitmen kebangsaan para pemimpin dan penganut agama-agama.

Indonesia dalam fiqh siyasah NU-Muhammadiyah adalah Dar al-Mithaq atau Dar al-’Ahd wa al-Syahadah, presiden Indonesia adalah ‘Amir al-Mu’minin atau Waliyu l-Amri Dharuri bi al-Syaukah.

Agama dan Negara-bangsa Indonesia; Tantangan

Gagasan dan gerakan transnasionalisme; damai atau radikal–memperjuangkan ‘universalisme politik agama’ seperti ‘khilafah’ dan/atau dawlah Islamiyah. Nasionalisme merosot karena peningkatan globalisme politik, budaya, sosial dan informasi.

Nasionalisme juga merosot karena faktor internal; kebebasan, demokrasi, kemerosotan otoritas negara, kelemahan dan inkonsistensi penegakan hukum. Kemerosotan sentralisme negara karena globalisasi (liberalisasi pasar, ekonomi, budaya dan politik); dan desentralisasi, devolusi dan otonomisasi.

Revitalisasi Harmoni Agama dan Negara-bangsa

Revitalisasi nasionalisme Indonesia; penguatan simbol-simbol nasionalisme dan negara-bangsa;

  • Penguatan kebersamaan, solidaritas dalam waktu senang dan susah;
  • Revitalisasi/rejuvenasi/resosialisasi Pancasila;
  • Resosialisasi/reedukasi tentang integrasi agama dan negara-bangsa melalui keluarga, sekolah dan masyarakat;
  • Penguatan Islam wasatiyah untuk menangkal ekstrimisme, radikalisme dan terorisme.

Revitalisasi Harmoni Agama dan Negara; Konsolidasi Demokrasi dan Good Governance

  • Konsolidasi demokrasi, penguatan good governance, pemberantasan korupsi, dan penegakan hokum.
  • Pemberdayaan religious-based civil Society untuk penguatan komitmen pada Negara-bangsa.
  • Pengurangan/penghilangan disparitas cita kebangsaan dan Pancasila dengan realitas.
  • Peningkatan peran kepemimpinan agama, sosial dan politik dalam penguatan/pemberdayaan harmoni agama dan negara-bangsa.
  • Pemberdayaan jaringan dan sinergi agama dan negara-bangsa. (Bersambung)

Presentasi Sosial, Kordinasi dan Peluncuran Bimbingan Teknis Penceramah Bersertifikat Ditjen Bimas Islam, Kemenag RI, Jakarta, 16-18 September, 2020

 

Azyumardi Azra, CBE
Azyumardi Azra, CBE
Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006. Guru Besar kehormatan Universitas Melbourne (2006-2009). Dewan Penyantun, penasehat dan guru besar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010) dll.
Berita sebelumnyaSolusi Bersama untuk PJJ
Berita berikutnyaMadilog Sekali Lagi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.