Sabtu, Mei 15, 2021

Habib Luthfi dan Maulid Kebangsaan

Iba Berujung Petaka [Tambahan untuk Dandhy Laksono]

Wajah kemiskinan galib mengundang keprihatinan kita. Namun, lebih sering sebenarnya ia memperdaya kita. Memperdaya seperti apa? Dandhy Dwi Laksono (Baca: Kemiskinan dan Niat Baik di Papua)...

Kita Masih Indonesia (Bagian 2)

Jokowi dan Sun Tzu: Win the War not the Battle Bagi Jokowi, "Sang Joki" adalah lawan tanding yang  cukup menggairahkan. Dan Jokowi sangat menikmati pertarungan...

Pemecatan Julen Lopetegui dan Rutinitas Real Madrid

Real Madrid memecat Julen Lopetegui. Ah, tak adakah berita yang lebih menarik dari itu? Sepanjang sejarahnya, Real Madrid menunjuk dan memecat pelatihnya segampang mereka...

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Saya ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk aktor Aming Supriatna Sugandhi yang menikah dengan dengan Evelyn Nada Anjani yang akrab disapa Kevin. Saya sendiri...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Presiden Joko Widodo (keddua kanan) didampingi Menteri PU Pera Basoeki Hadimoeljono (kiri), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kiri) dan Ketua Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mutabarah al-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (kanan) menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (8/1). Presiden berpesan kepada santri untuk lebih selektif dalam memilh informasi melalui media sosial yang berkaitan dengan kebencian dan SARA. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/tom/aww/17.
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri PU Basoeki Hadimoeljono (kiri), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kiri), dan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mutabarah al-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya (kanan) menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (8/1). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/tom/aww/17.

Ada yang menarik jika kita menyelami latar belakang dan konsep perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Sejak awal, Habib Luthfi menyelami Maulid Nabi secara historis, bukan hanya religius. Oleh karena itu, sebagaimana ditulis Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi, perayaan Maulid Nabi ala Habib Luthfi merupakan rangkaian sejarah yang jejaknya bisa ditarik hingga pertama kali ia diperingati, yakni di era kekuasaan Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah.

Dalam catatan Ahmad Tsauri, sejak awal perayaannya, Maulid Nabi telah menyimpan latar belakang fakta menarik. Pertama, inisiatif perayaan Maulid Nabi pertama datang dari seorang perempuan Persia yang cerdas, berwawasan luas, dan bijaksana bernama Al-Khaizuran (173 H). Ia adalah istri Khalifah Al-Mansur dan ibu dari dua Khalifah Abbasiyah, Al-Hadi dan Harun Al-Rasyid, yang juga terkenal lantaran mewarisi tiga ciri yang melekat pada ibunya tersebut, sehingga di tangannya peradaban Islam mencapai salah satu masa keemasan.

Maka, jika dihayati pula secara historis, perayaan Maulid Nabi merupakan salah satu momentum meneguhkan kembali diangkatnya derajat wanita dalam Islam: mereka berperan dalam memunculkan salah satu ritual terbesar dalam sejarah peradaban Islam pasca-Nabi yang gaungnya tak pernah sepi hingga kini.

Kedua, inisiatif perayaan Maulid Nabi oleh Al-Khaizuran dimaksudkan sebagai benteng kultural Islam agar masyarakat Muslim saat itu tidak turut merayakan Nairuz dan Mahrajan, dua perayaan kuno Persia yang tetap semarak ketika Islam mendominasi wilayah Persia.

Maka, lagi-lagi jika dihayati secara historis, perayaan Maulid Nabi menyimpan warisan berupa pendekatan kultural dalam merespons masalah. Apa yang dinilai sebagai masalah saat itu, yakni perayaan Nairuz dan Mahrajan, direspons bukan dengan memfatwakan haram merayakannya atau mengucapkan selamat atas perayaan tersebut, namun lewat pendekatan kultural dengan menyediakan alternatif lain yang tidak kalah bergengsinya dan berpijak pada tradisi Islam.

Dan terbukti, ia jauh lebih efektif, popoler, dan lintas sejarah ketimbang pendekatan hukum. Hukum di sini, misalnya, berbasis fatwa pelarangan sebagaimana pernah dikeluarkan Ibn Taimiyah yang sifatnya temporal dan sangat terikat konteks saat itu. Persisnya ketika itu sedang berkecamuk Perang Salib yang mana fatwa itu lebih berorientasi meneguhkan politik identitas keislaman.

Karenanya, dengan wawasan historis tersebut, Habib Luthfi meletakkan Maulid Nabi bukan sekadar ritual keislaman semata, tapi juga keindonesiaan. Sebagaimana Maulid Nabi dirayakan sejak Dinasti Abbasiyah, Fatimiyah, Ayyubiyah, Dinasti Azafi Maghrib, Dinasti Marini Maroko, pasca-serbuan Mongol, hingga era penjajahan negara-negara Eropa, di mana semangat perayaan Maulid Nabi bukan hanya keagamaan, tapi juga kebangsaan.

Dalam konteks kebangsaan tersebut, Habib Luthfi merancang Maulid Nabi menjadi perayaan persatuan bangsa. Ia menjadi ajang silaturahmi dan pergandengan tangan antara ulama dan umara’ (pemimpin): dari tingkat nasional, provinsi, hingga kabupaten-kota. Tanpa memilah-milah umara’-nya: siapa yang memimpin saat perayaan Maulid Nabi diselenggarakan, maka dia diundang untuk bersilaturahmi dan bergandengan tangan dengan ulama dan umat.

Lihatlah, misalnya, foto-foto ketika Susilo Bambang Yudhoyono dulu maupun Jokowi sekarang sama-sama digandeng tangannya pas tiba dalam perayaan Maulid Nabi ala Habib Luthfi.

habib-sbyhabib-jokowiLebih jauh, Habib Luthfi juga menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum persatuan elemen bangsa dari berbagai agama. Di antaranya, sebagaimana terlihat dari foto yang diunggah Facebook Habib Luthfi bin Yahya, terlihat Kepala Paroki St Petrus Pekalongan, Romo Sheko, hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut.

Melalui Maulid Nabi, Habib Luthfi tampak menegaskan pesan kebangsaan bahwa di tengah ragam perbedaan, nilai-nilai kebangsaan haruslah dijaga. Oleh karena itu, sehari sebelum perayaan Maulid Nabi, dalam Apel Ikrar Kesetiaan NKRI di Alun-alun Kota Pekalongan, Habib Luthfi menegaskan, “Kita tidak rela NKRI terkoyak-koyak, kita tidak rela bangsa Indonesia terpecah-belah, maka Apel Ikrar Kesetiaan ini sebagai wujud kita cinta NKRI.” Sebab, bangsa adalah wadah bagi ragam entitas yang berbeda itu.

Bahkan, nilai-nilai kebangsaan itu legowo menjadi wadah bagi mereka yang mengkritik nilai-nilai kebangsaan itu sendiri. Inilah pesan rahmat Islam, sebagaimana Allah yang tetap merahmati kehidupan dan semacamnya kepada manusia-manusia yang tak percaya kepada-Nya sekalipun.

Secara historis, yang terdekat, apa yang dilakukan Habib Luthfi mengingatkan kita pada Habib Ali al-Habsyi Kwitang yang juga menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum kebangsaan, di mana ia “bergandengan tangan” dengan Bung Karno. Sebuah paradigma kalangan habib yang memang sejak awal Islamnya dibawa dengan orientasi kebangsaan dan kultural, sebagaimana saya pernah tulis di GeotimesKeturunan Arab, Islam, dan Nasionalisme dan Habib, NU, dan Islam yang Satu.

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.