OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Giring, Kaum Muda, dan Pendidikan Politik

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Satia Chandra Wiguna
Fans Everton & Bobotoh Persib, penikmat semua aliran musik, kader Muhammadiyah yang menjadi Wasekjen DPP PSI. Saat ini sedang kuliah Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana.

Giring Ganesha yang dikenal dengan nama panggung Giring “Nidji” memulai karir politiknya relatif baik tanpa ada kontroversi. Terinspirasi dari kinerja Pak Jokowi pada saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Giring yang pada saat itu masih aktif menjadi vokalis band Nidji memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

Giring bukan satu-satunya politisi yang berlatar belakang artis atau personil band. Sebelumnya kita tau ada (alm) Adjie Massaid, Eko Patrio, Tere, Pasha “Ungu” dan masih banyak nama lagi yang lain. Dalam politik tidak ada larangan bagi artis untuk terjun di dunia politik. Kemampuan dan wawasann yang akan menseleksi artis di dunia politik bukan hanya sekedar ketenaran. Di negara-negara lain pun kecenderungan artis menjadi politisi sering terjadi.

Giring tidak punya “turunan biru” politik di negeri ini. Giring hanya punya ambisi untuk berbuat sesuatu terhadap negeri ini berdasarkan tokoh inspirasinya yaitu Pak Jokowi.  Giring memang anak muda. Giring memang belum pernah menjadi pejabat publik. Giring adalah anak muda yang professional di bidangnya, sama halnya dengan Sandiaga Uno, bedanya Sandiaga Uno profesional di bidang ekonomi sedangkan Giring di bidang Kesenian dan Pemuda.

Giring memang boleh saja didukung partai yang tidak memiliki kursi di senayan. Tapi pengalaman hidup dan gagasan yang ditawarkan oleh Giring melalui video rilisnya menegaskan bahwa kampanye Giring Presiden 2024 bukan gimmick semata.

Penulis adalah seorang kader PSI, tentunya tulisan ini subjektif. Penulis memahami benar kenapa akhirnya seorang Giring menjatuhkan pilihan politiknya ke PSI, partai baru yang tidak memiliki tokoh sentral.

Namun yang perlu dikaji dan menjadi bahan diskusi adalah keberanian dan gagasan Giring untuk maju menjadi calon Presiden yang diusung dari partai non parlemen. Komentar positif maupun negatif bermunculan di kolom-kolom komentar media sosial PSI dan Giring. Komentar-komentar positif tentu menjadi bahan bakar semangat untuk Giring dan kami di PSI. Tapi komentar-komentar negatif yang keluar membuat kami merenung bahwa perubahan di Indonesia akan sulit dihadapi.

Problematika Kaum Muda dan Solusinya

Muda selalu diidentikkan dengan ketidakmampuan karena kurangnya pengalaman. Muda acap kali menjadi kata yang bermakna negatif. Dan Muda selalu menjadi momok bagi mereka yang telah mapan dalam berpolitik padahal kemapanan sangat dekat dengan status quo.

Ketika ada seoarang anak muda yang berani untuk maju menjadi calon Presiden maka bukankah proses kaderisasi kepemimpinan bangsa ini mengarah ke jalur yang benar?.

Gagasan bahwa pemimpin harus hadir dari kalangan anak muda sudah sering terdengar tapi belum ada kelompok atau partai politik manapun yang berani mewujudkan gagasan tersebut. Maka gagasan-gagasan tersebut hanya menjadi angan-angan atau serupa janji yang tidak pernah ditepati.

Gagasan PSI bahwa perlu ada pengisian ruang politik 2024 dengan anak-anak muda yang disampaikan oleh Sekjen PSI, Raja Juli Antoni, adalah gagasan yang harus diwujudkan kaum muda. Anak-anak muda yang sebagian besar selama ini hanya menjadi penonton dan pengikut saja sudah saatnya menentukan arah dan keinginan sendiri terhadap Indonesia.

Anak-anak muda yang selama ini berdialektika di dinding-dinding kampus, seminar-seminar dan berkreativitas di dunia ekonomi kreatif harus mampu mempertahankan kepentingannya dan itu hanya bisa dijawab oleh anak muda yang berani terjun ke dunia politik. Karena sesungguhnya, di politik muara dari semua problematika hidup anak muda.

Anak muda selalu identik dengan gimmick tapi sekali lagi, Giring bukan gimmick. Giring hanya anak muda yang dengan sadar dan keberaniannya untuk maju dan berani berbuat. Setidaknya tawaran solusi yang digagasnya adalah keberanian mendobrak status quo. Sifat inilah yang harus menjadi ciri-ciri kaum anak muda.

Partai Politik dan Pendidikan Politik

Berbicara partai politik bukan melulu berbicara kekuasaan an sich. Berbicara partai politik juga berbicara tentang pendidikan politik. Dan menurut UU Nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik, salah satu tugas dan fungsi partai politik adalah melakukan pendidikan politik.

Pendidikan politik bukan hanya tentang pelatihan atau kaderisasi. Pendidikan politik juga berbicara tentang membuka kesempatan seluas-luasnya terhadap anak muda yang ingin berpolitik. Tentunya bukan tanpa ilmu dan wawasan. Tentunya bukan tanpa gagasan tentang keindonesiaan. Bukan kertas kosong yang kami akan sodorkan tapi kami siap untuk berdiskusi dan berdialog tentang Indonesia hebat 2024 nanti. Karena tujuan dari pendidikan politik itu sendiri terbukanya ruang dialog.

Salah satu indikator gagalnya pendidikan politik adalah tidak tersedianya kader yang siap untuk dijadikan pemimpin. Hal ini menyebabkan mandeknya sukses kepemimpinan. Sebut saja Ridwan Kamil, seorang kepala daerah yang dikatakan sukses memimpin Jawa Barat. Sampai saat ini belum memiliki kepastian akan mendapatkan tiket calon Presiden dari partai mana.

Dulu ada seorang Nurdin Abdillah yang sekarang menjadi Gubernur Sulawesi Selatan. Pada Pilkada 2018 lalu hampir tidak mendapatkan tiket dari partai. Pak Ganjar Pranowo yang memiliki elektabilitas tertinggi diantara calon Presiden yang ada saat ini pun belum pasti mendapatkan tiket calon presiden dari PDIP.

Bagaimana kita mau mewujudkan cita-cita bangsa dan negara jika proses pendidikan politik yang merupakan wujud demokrasi Indonesia yang sehat dan bersih tidak berjalan sebagaimana mestinya dengan ditutupnya ruang-ruang dialog tentang calon presiden 2024 nanti.

Apa yang dilakukan Giring dan PSI adalah proses pendidikan politik. Pengumuman tentang pencalonan presiden yang dilakukan oleh anak muda seperti Giring janganlah dianggap remeh apalagi dianggap gimmick semata. Perudungan boleh saja terjadi terhadap kami. Kritikan adalah cambuk bagi kami. Tapi inilah kami, partai yang akan selalu progresif dan berani yang siap berdialog dengan siapa saja terutama partai yang memiliki kursi di parlemen.

 

Satia Chandra Wiguna
Fans Everton & Bobotoh Persib, penikmat semua aliran musik, kader Muhammadiyah yang menjadi Wasekjen DPP PSI. Saat ini sedang kuliah Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.