OUR NETWORK
Minggu, Oktober 2, 2022

Fire on the Mountain: Menghormati Alam Liar

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Setiap terjadinya musim hujan di Tanah Air, tidak sedikit provinsi yang berstatus siaga. Bahkan, beberapa ada yang sudah diterjang banjir lebih dulu dan tak kunjung surut. Penyebab banjir memicu banyak perdebatan. Ada yang menyebut penyebab banjir adalah intensitas hujan yang tinggi. Namun sejumlah akademisi dan LSM lingkungan mengungkapkan bahwa intensitas hujan bukan satu-satunya penyebab banjir. Mereka sepakat bahwa banjir juga dipicu oleh deforestasi dan krisis iklim.

Menyalahkan alam an sich atas bencana seperti banjir dan tanah longsor adalah tindakan yang berbahaya. Pergeseran sikap menyalahkan ini turut mengabaikan penjarahan hutan dan eksploitasi sumber daya alam selama beberapa dekade yang telah memperburuk bencana yang telah terjadi. Penolakan pemerintah bahwa deforestasi massal dan penetapan kawasan hijau untuk tujuan selain konservasi lingkungan sebagai faktor utama di balik banjir baru-baru ini di Kalimantan Selatan bukan saja menunjukkan pengingkaran atas tanggung jawab negara untuk melindungi alam tapi juga ketidakpercayaannya pada sains.

Sebagai bagian dari sains, kajian sastra ikut berperan dalam menyajikan cara-cara sederhana namun serius untuk membangun hubungan yang harmonis antara alam dan manusia. Kritik sastra yang mencoba melihat hubungan antara alam dan manusia adalah ekokritisme (ecocriticism)  — pendekatan dan studi sastra yang berpusat pada bumi. Inti dari ekokritisme adalah hubungan yang kuat antara upaya pelestarian dan alam liar. Ia menekankan bahwa pelestarian berarti membiarkan alam tetap liar, hutan tetap lebat. Segala upaya untuk menghormati dan melestarikan alam yakni dengan membiarkannya tumbuh liar, tidak dibudidayakan dan tidak dihuni manusia yang menjadikan hutan diserbu oleh apa yang disebut sebagai tanda-tanda peradaban modern seperti jalan raya, saluran listrik dan jaringan pipa. Populasi yang terus bertambah, peningkatan jumlah permukiman, dan melonjaknya kebutuhan akan kelangsungan hidup manusia bukanlah alasan untuk membuldoser hutan demi membuka jalan bagi perkebunan yang justru merusak alam.

Dalam konteks prilaku manusia terhadap alam atau lingkungan, Jika Henry David Thoreau dikenal sebagai “filsuf alam liar” (wilderness philosopher), John Muir sebagai “putra alam liar” (son of the wilderness), maka Edward Abbey disebut sebagai “pembela padang gurun” (wilderness defender) dalam pengertian yang paling dalam. Konsep alam liar pada era Abbey Fire on the Mountain berakar kuat dalam pikiran rakyat Amerika itu, sebagaimana dinyatakan Abbey sendiri, “the idea of wilderness needs no defense. It only needs more defenders” (gagasan hutan liar tidak membutuhkan pembelaan. Ia hanya membutuhkan lebih banyak pembela

Abbey sepenuhnya mengikuti ide Thoreau bahwa pemerintah yang terbaik adalah yang yang sama sekali tidak mengatur. Dalam konsepsi Abbey, anarkisme bukan berarti ‘tidak ada aturan’, tetapi ‘tidak ada penguasa.’  Ia juga berarti demokrasi yang maksimum lewat penyebaran maksimum kekuasaan politik, kekuatan ekonomi, dan kekuatan militer.

Dalam Fire on the Mountain (1962), gagasan untuk menolak kuatnya peran pemerintah tampak dari dialog antara John Varaghan dan cucunya. Kemarahan John Varaghan tampak nyata atas sikap pemerintah Amerika Serikat yang mengambil sebuah bukit atas nama kepentingan pemerintah. Baginya, ketika seseorang atau lembaga tertentu mengklaim kepemilikan atas lingkungan tertentu—bukit, sungai, gunung bahkan lahan untuk dijadikan pertanian—ini semua menjadi awal dari kerusakan alam.

Kemurkaan seorang John Varaghan ini sebetulnya mewartakan gagasan sentral penulis, Edward Abbey, bahwa menjaga alam berarti membiarkan alam semula jadi, apa adanya dan tetap orisinal. Ia juga melihat padang gurun, sebagai salah satu wujud alam liar, sebagai prasyarat peradaban. Alam liar bukanlah kemewahan tetapi kebutuhan jiwa manusia, dan penting bagi kehidupan kita seperti halnya air dan roti yang enak. Peradaban yang menghancurkan apa sedikit tersisa dari alam liar, cadangan yang ada dan asli sama halnya dengan melepaskan diri dari asal-usulnya dan mengkhianati prinsip peradaban itu sendiri.

Dalam masyarakat urban Amerika yang bergerak begitu cepat, manusialah yang sesungguhnya berada dalam ancaman besar. Planet ini akan mengembalikan dan menyembuhkan dirinya sendiri lewat api (kebakaran), banjir dan gunung berapi. Gagasan ini membedakan Abbey dari para aktivis lingkungan hidup kontemporer yang berjuang keras untuk menyelamatkan planet bumi. Bagi Abbey, kepedulian utamanya adalah keberlangsungan manusia yang semakin berada dalam keadaan gawat dan mengkhawatirkan ketika alam dan makhluk liar lainnya dirusak oleh kerakusan dan kebodohan, yang bernama kemajuan.

Dalam perspektif ecocriticism, gagasan untuk mempertahankan alam liar, hutan belantara atau gurun semula jadi berkorelasi linear dengan upaya untuk mencegah terjadi polusi-polusi peradaban, salah satunya adalah kepemilikan atas lahan-lahan yang sebetulnya dianggap sebagai bagian dari alam liar.  Bagi para pendukung ecocriticism, terutama kalangan the New World environmentalism, keberlangsungan alam liar mensyaratkan tidak adanya kepemilikan tanah secara khusus dan kehadiran manusia secara umum. Dua hal tersebut dianggap bakal merusak tatanan alam semula jadi.

Bagi seorang John Vagelin, upaya untuk menjaga kelestarian dan orisanalitas alam liar adalah dengan membangun kemandirian diri sehingga mengecilkan potensi untuk menjual peternakan atau lading sendiri tatkala musim paceklik datang atau kesulitan keuangan menerpa. Penghormatan terhadap alam liar, semisal gurun, tidak bisa bersandar pada hal-hal yang bersifat normatif atau retoris. Ia membutuhkan semacam keseriusan dan persiapan yang matang, baik berwujud komitmen maupun sokongan financial. Vogelin bisa dikategorikan sebagai sosok yang mempertahakan atau bergulat dengan kerasnya tantangan alam raya dengan sebuah kekuatan bernama kemandirian. Tatkala banyak orang yang harus menjual ternaknya karena tekanan keuangan atau membiarkan pihak bank menyita perkebunan atau ladang karena ketidakmampuan untuk membayar pinjaman, Vogelin tidak pernah terjerat dengan perangkap-perangkap demikian. Ia tangguh dan tahan atas ujian kekeringan maupun depresi.

Bagi seorang John Vagelin, penghormatan terhadap lingkungan dan alam liar berkorelasi linear dengan absennya transaksi—jual beli, ganti rugi—atas dasar apapun, tidak terkecuali keamanan nasional. Kepemilkannya atas lahan peternakannya sejatinya merupakan ikhtiarnya untuk menghormati alam atau lingkungan, sesuatu yang tak bisa diperjualbelikan dengan pihak-pihak tertentu, termasuk pemerintah. Mendapati hak miliknya mulai diambil alih oleh militer dan pemerintah Amerika Serikat, Vagelin menegaskan kembali komitmen dan pembelaannya atas peternakannya tanpa peduli dengan rayuan negosiasi finansial sebagai ganti rugi.

Lewat pengalaman penulis sendiri, Edward Abbey, situasi alam liar New Mexico menjadi tereduksi karenan tekanan dan pengaruh industri pariwisata alam semula jadi. Selama bertahun-tahun, Abbey secara musiman bekerja sebagai penjaga taman di sejumlah taman nasional Amerika dan mengomentari perkembangan lembaga ini dari awal hingga berikutnya. Pada paruh kedua abad kedua puluh Abbey bisa melihat konsekuensi dari kebijakan taman nasional tersebut ketika konsep pariwisata industri dimulai.

Ini bisa terlihat pada sebuah taman nasional terkenal di kawasan New Mexico, yakni Yosemite National Park. Abbey mengkritik pengembangan Yosemite yang mengedepankan sisi modernisme dan industrialisasi. Dengan perkemahan besar, stasiun yang nyaman, toilet siram, listrik, atau pusat pengunjung, taman nasional telah kehilangan pesonanya karena sebagian besar keindahannya terletak sisi liarnya, kesulitan untuk mengakses, dan bahkan unsur bahaya yang dimilikinya. Orang-orang yang berkelana dengan berjalan kaki ke padang gurun akan disambut oleh keindahan dan kedekatan dengan alam. Mobil pariwisata yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan indah alam liar tak dapat menggantikan atau mensimulasikan perasaan alamiah berada di padang gurun, menjadi bagian darinya dengan mengandalkan kemampuan sendiri.

 

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.