Selasa, Mei 21, 2024

Covid, dan Sebut Saja Namanya Sabarudin

Tafta Zani
Tafta Zani
Pengamat politik patikelir

Sebut saja namanya Sabarudin, atau Sabar saja. Ia lelaki setengah baya dengan perjalanan nasib yang tak sederhana: Meniti jalan sempit yang diapit bencana dan keberuntungan.

Sabar telah ditinggal mati kedua orang tuanya secara beruntun di bulan yang sama pada saat usianya belum genap setahun. Bibinya, adik perempuan satu-nya ibunya yang merawat dan membesarkan Sabar.

Ketiadaan biaya, dan sadar tak ingin membuat beban bagi bibinya, Sabar merasa tak cukup alasan untuk melanjutkan minat sekolahnya ke Perguruan Tinggi selepas tamat Madrasah Aliyah. Minat itu ia buang jauh-jauh, walau selalu saja menyisakan residu yang mengendap dalam ingatan. Yang terpikir oleh Sabar hanya satu keinginan: Bekerja utk mendapatkan uang agar bisa membantu bibi dan kebutuhan dirinya. Cuma itu.

Berbekal ijasah aliyah, Sabar keluar masuk perusahaan-perusahaan untuk mendaftar sebagai satpam. Di kota kecil tempat ia dilahirkan memang banyak berdiri perusahaan-perusahan. Tak mudah, harus melewati proses seleksi yang ketat mengingat begitu banyak peminatnya, dan ia tak punya satu pun orang yang dikenalnya di perusahaan yang bisa membantunya. Ia hanya Sabar sebagai sebuah nama orang biasa, lalu bersikap sabar sebagai pilihan yang tersisa. Tak lebih.

Nasib baik acap menghampiri lewat caranya sendiri yang tak terduga. Sabar diterima bekerja sebagai satpam di salah satu perusahaan. Mula-mula satpam biasa. Berkat ketekunan dan perangainya yang menyenangkan, dalam perjalanan waktu ia diangkat sebagai Ketua Satpam, membawahi puluhan satpam yang jadi anak buahnya.

Sikap percaya diri Sabar kian tumbuh. Uang bulanan yang diterimanya dari perusahaan lebih dari cukup, melampaui kebutuhan minimum yang dibayangkannya. Tapi itu tak membuatnya pongah dalam pergaulan sosial hari-hari, baik di lingkungan perusahaan maupun di masyarakat. Ia tetap seorang Sabar dengan segala perangai aslinya yang menyenangkan.

Yang terpikir Sabar sekarang adalah mengangkat residu keinginannya yang lama mengendap menjadi tindakannya: Melanjutkan kuliah. Sabar mengambil kuliah malam, jurusan Sospol, dan berhasil menamatkannya hingga jadi sarjana. Kelak ia juga dikenal sebagai anggota DPRD dan tak lagi kerja di perusahaan sebagai Ketua Satpam. Ia memiliki beberapa perusahaan kecil-kecilan yang dirintis dan dikelolanya sendiri.

Dalam pemilu ia satu-satunya calon yang terpilih hampir sepenuhnya lewat dukungan dan bantuan para sahabat di lingkungan sosialnya. Tak banyak keluar biaya yang tak perlu, seperti kebanyakan calon lain, kecuali untuk yang dianggapnya wajar-wajar saja.

Lewat perjalan hidupnya, Sabar seperti ingin berkata: Politik, seperti juga pergaulan yg lain, butuh kepercayaan yang dalam, dan itu tidak bisa dibangun dalam semusim.

Sabarudin, atau Sabar saja, lelaki setengah baya itu. Ia hidup bahagia dengan istri dan kedua anaknya yang mulai remaja. Tak banyak bahkan orang terdekatnya tahu, kecuali Bibinya, bahwa di balik sikap Sabar yg menyenangkan, riang, ia juga sebenarnya seorang lelaki pemurung dengan kepribadian yang berlapis-lapis.

Di sela-sela kesibukan rutinnya kadang ia butuh sedikit waktu untuk menyendiri, menyepi, mengingat kembali cerita bibinya berpuluh tahun ketika ia baru menanjak remaja. Bahwa kedua orang tuanya, ternyata mati di hampir waktu yg berdekatan karena terpapar covid-19 yang mewabah gila di seantero peloksok bumi, termasuk di kampung halamannya.

Virus itu menimbulkan histeria dua jenis ketakutan bagi semua orang: takut mati dan takut daya tularnya dari orang yang terpapar. Sabar, bahkan bibinya, tak pernah tahu hingga kini di mana kedua orang tuanya itu dimakamkan, kecuali dugaan-dugaan samar yang serba meragukan.

Sabar mengingat dengan baik cerita bibinya bahwa tak seorang pun dari keluarga dan orang yg mengenalnya mau dan boleh menjenguknya di rumah sakit.

Prosesi pemakaman mayat dilakukan oleh para petugas dengan standar ketat perhitungan kesehatan. Beberapa petugas, dengan mengenakan pakaian serupa astronot menurunkan mayat-mayat dari ambulan lalu memasukannya ke liang lahat. Menguburnya, lalu pergi, meninggalkan gundukan tanah yang basah.

Sabar, seorang diri, di ujung senja yang sepi, tertunduk dalam. Kedua matanya sembab menatap dalam-dalam layar android yang digenggamnya: Potret kusam kedua orang tuannya di atas pelaminan!

Tafta Zani
Tafta Zani
Pengamat politik patikelir
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.