Jumat, April 23, 2021

Buya Syafii Manusia Merdeka

Mengapa Fikih (Anti) Terorisme?

Mengapa judul tulisan ini ada kata anti di dalam kurung? Karena fikih—yang secara harfiah bermakna pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal—sebagai ilmu yang membahas...

Menikmati Ibadah Ramadhan di Rumah

Pada Jumat (24/4/2020), umat Islam secara serentak mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Kondisi yang agak berbeda dari Ramadhan sebelumnya, umat menjalankan ibadah puasa tahun...

Program 100 Hari Joe Biden dan ‘Kutukan’ Midterm Election

Joe Biden dilantik menjadi presiden AS ke-46 pada 20 Januari 2022 lalu. Kemenangan Biden di Pilpres 2020 juga diikuti dengan kemenangan Partai Demokrat di...

Delusi Sejarah Nusantara Versi Pendukung Khilafah

Para pendukung khilafah itu delusional. Mereka delusional soal masa depan, juga delusional soal masa lalu. Salah satu bentuknya adalah klaim delusional mereka soal kerajaan...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Secara  pribadi saya mengenal dekat Ahmad Syafii Maarif atua Buya Syafii di kantor MAARIF Institute pada tahun 2006. Sebelum itu, ketika masih di Padang, Sumatera Barat, saat menjadi Ketua Ikatan Remaja Muhammadiyah–sekarang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)–saya sudah mendengar cerita tentang kesederhanaan Buya.

Buya, ketika pulang ke Padang tak pernah memberitahu para Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Sumatera Barat. Tiba-tiba saja Buya sudah sampai di kantor Muhammadiyah, Padang. Kalau di Padang buya selalu naik angkutan kota (angkot) untuk bersilaturahmi atau hanya sekedar menggunting rambut di samping kantor Muhammadiyah. Sikap dan laku yang jarang kita temukan pada tokoh besar dan pejabat kita, sikap tidak mau merepotkan dan tidak mau dilayani, itulah Buya Syafii.

Saat saya di MAARIF Institute, semua cerita yang pernah saya dengar  tentang Buya terasa dan tampak di depan mata, lebih sekedar cerita. Kesan pertama saya ketika bertemu, Buya sosok yang ramah, penuh senyum, dan egaliter. Beliau tanpa sungkan berbaur dan bercerita kepada kami anak-anak muda tentang banyak hal terkait persoalan kebangsaan, keislaman, dan kemanusiaan. Buya adalah orang mandiri yang tidak bermental aji mumpung dan dilayani seperti kebanyakan para tokoh dan elite bangsa ini.

Suatu ketika, kami sedang makan siang di MAARIF Institute. Menu kesukaan Buya Nasi Padang dengan gulai gajeboh. Ketika makan, air minum di gelas Buya sudah hampir habis. Dengan sigap saya mau mengambil dan mengisinya. Tapi dengan cepat tangan saya ditepis Buya. Buya berkata: “Saya masih bisa sendiri”. Saya kaget. Kekaguman saya bertambah. Kejadian yang terlihat sepele, tapi itu adalah gambaran manusia merdeka dari bumi minang yang selalu berdiri di atas kaki sendiri.

Industri otak dan pabrik kearifan

Dalam berbagai kesempatan, Buya risau ketika bercerita tentang Sumatera Barat, tanah kelahiran yang dicinta. Menurut Buya, Minang sekarang sudah tidak lagi menjadi negeri industri otak dan pabrik kearifan kata-kata. Minang, yang telah memberikan kontribusi besar terhadap republik ini melalui tokoh-tokohnya, seperti Muhammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Agus Salim, Buya Hamka dan banyak lagi lainnya. Menurut Buya, penyebabnya adalah filosofi hidup orang minang telah lumpuh tak berdaya, hanya dijadikan sebagai retorika untuk kepentingan kekuasaan saja.

Penyebab lain, warisan luhur budaya minang tentang kemerdekaan berpikir berpendapat dan kemerdekaan bersikap telah punah akibat dari menjadikan kekuasaan dan pragmatisme menjadi tujuan. Padahal, nilai dan budaya luhur itu yang melahirkan orang-orang seperti Muhammad Hatta, Tan Malaka, Agus Salim, Syahrir, Buya Hamka dan tokoh-tokoh besar lainnya.

Minang akan kembali bangkit jika menghidupkan kembali tradisi luhur tersebut. Membuka diri terhadap diskusi-diskusi pemikiran yang terus berkembang pesat, dan memperluas radius pergaulan sehinga tidak terpenjara oleh kebesaran masa lampau.

Saya melihat Buya adalah bukti autentik dan cermin dari produk budaya luhur minang. Sikapnya yang terbuka berdialog dengan semua pemikiran, radius pergaulan yang  luas melampaui batas-batas agama dan suku, kemandirian dalam hidup, ketauladan kesederhanaan dan kemerdekaan berpikir serta berpendapat. Itu semua adalah warisan luhur minang yang harus dihidupkan kembali sebagai prasarat utama untuk kembalinya minang kepuncak kegemilangan.

Tulang punggung

Buya adalah sediikit dari tokoh yang mempunyai tulang punggung yang tidak mudah membungkuk. Buya akan selalu bersuara lantang tanpa beban untuk mengkritisi kekuasaan jika dianggap menyimpang dari kehendak dan kepentingan rakyat. Di antaranya adalah sikap kritis ini bisa kita liat dari pembelaan sepenuh hati beliau kepada KPK ketika ada tangan-tangan jahat yang ingin melemahkan KPK. Seperti penolakan tegas Buya ketika Budi Gunawan diusulkan menjadi Kapolri.

Buya juga membentuk gerakan tokoh lintas agama untuk melawan kebohongan ketika masa pemerintahan SBY. Gerakan ini sebagai bentuk protes peringatan kepada SBY yang dipandang lambat menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan yang menyangkut kepentingan rakyat. Saya masih ingat betul ungkapan beliau untuk SBY: “Jangan berharap tanduk kepada kuda”.

Gerakan ini mendapat respon kritis dari pemerintah. Dipo Alam sebagai menteri sekretaris kabinet, menyebut Buya sebagai burung gagak pemakan bangkai. Buya meresponnya dengan hanya tertawa dan senyum. Itulah buya.

Jika beliau sudah mengambil sikap untuk menyuarakan kebenaran yang diyakini, dia tidak akan mundur sedikit pun. Buya seperti karang, teguh pada prinsip walaupun diancam, dicaci, dimaki, dan dicemooh. Buya melakukan itu semua karena kecintaannya pada negeri ini yang selalu dia doakan:  “Semoga Indonesia bertahan sampai hari kiamat”. Sekali lagi, inilah gambaran manusia minang yang seutuhnya dalam diri Buya.

Alhasil, suatu ketika pada momen politik yang menentukan di republik ini, saya sedang di Yogyakarta bersama Bang Jeffrie Geovanie dan Mas Fajar Riza Ul Haq untuk bersilaturahmi  ke rumah Buya. Dalam tengah perbincangan, saya kaget sekali, pertama kali saya melihat Buya marah karena kecewa dengan keputusan politik para elite yang dianggap penuh drama dan kepalsuan.

Buya langsung menelpon presiden, mantan presiden, mantan wakil presiden, menteri, dan jenderal. Ketika menelpon orang-orang tersebut, beliau langsung tanpa basa-basi protes, kecewa, dan mempertanyakan keputusan yang dianggap bukan yang terbaik untuk bangsa. Itulah gambaran orang minang, merdeka tanpa beban untuk mengutarakan pikiran dan pendapatnya. Kultur minang mendidik manusia menjadi merdeka, menghadapi kenyataan dengan kepala tegak walaupun penuh resiko.

Sayangnya, orang minang di kampung dan dirantau sering salah memahami pandangan, pikiran dan sikap Buya. Buya tidak pernah berpikir atas sikap itu. Buya adalah Buya. Akan tetap tetap teguh pada pendiriannya dan memilih merdeka untuk bersikap, berpikir, dan berpendapat.

Selamat ulang tahun ke 85 Buya. Sehat selalu untuk Buya dan Ibu. Pesan Buya untuk berpikir terbuka, perluas radius pergaulan, membaca, merdeka dalam hidup serta fundamentalis dalam urusan sholat, selalu saya ingat.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.