Selasa, Juni 15, 2021

Buya Sudah Lelah, Tapi Piye Meneh? DPRe Pekok!

Natal dan Spirit Kemuliaan

Natal adalah ritus keagamaan yang hendak memuliakan Yesus Kritus yang telah berjasa mengantarkan umat Kristiani ke jalan kehidupan yang penuh kasih dan damai. Kemuliaan...

Natal, Perang, dan Kemanusiaan

Saat itu malam Natal, 1944. Pasukan Jerman dan Amerika Serikat baru saja bertempur hebat di hutan Hurtgen, Jerman. Elisabeth Vincken dan putranya, Fritz, kaget...

Ada Apa dengan Fatwa Ulama?

Seorang aktivis media sosial, Hery Latief, memposting meme berbunyi: "Numpang tanya: Sejak kapan Undang-undang diganti sama fatwa; Ulama diganti sama MUI; Polisi diganti sama...

Meneropong Wajah Korupsi [Catatan Hukum 2016]

Terlalu banyak peristiwa hukum yang mesti ditulis sebagai refleksi akhir tahun 2016. Karena itu, rasanya ruang di kolom ini tidak cukup untuk mengurai berbagai...
Avatar
David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah

“Saya sebenarnya sudah lelah mengamati situasi negara ini” begitu jawaban Buya saat saya bertanya bagaimana keadaan republik bisa begini.

Jawaban Buya itu saya teruskan kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pak Haedar Nashir.

“Saya sedih dengan jawaban Buya ini. Jika tokoh ideal yang masih hidup hari ini sudah menjawab seperti ini” pesan saya kepada Pak Haedar.

***

Ya Tuhan, kesedihan saya pun bertambah saat mendengar kabar, Randi (21), mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) meninggal (26/09). Dadanya ditembus peluru. Dagingnya terkoyak dalam. Kehidupan dan masa depannya hilang. Innalillahi wainnailahi rojiun.

Sebagai salah seorang mantan Ketua IMM Cabang Ciputat, Tangerang Selatan, di masa pimpinan M. Dwi Fajri, secara natural naik darah saya. Marah. Manusia purba macam apa yang telah merenggut nyawa Randi. Keruan Biadabnya!

Kesedihan natural ini tentu spontan terjadi karena saya tak bisa lepas dari ruang didik pengkaderan Muhammadiyah, khususnya IMM Ciputat. Tokoh-tokoh gerakan dan intelektual yang lahir dari IMM Ciputat secara langsung dan tak langsung telah menyegarkan ruang kreatif dan jaringan intelektual-sosial-keagamaan saya, barangkali juga kawan-kawan seangkatan.

Tokoh-tokoh itu, misalnya intelektual yang kini sedang meraih gelar doktor di Australian National University (ANU), Ahmad Fuad Fanani, Mantan Ketua Umum DPP IMM Kiai Piet H. Khaidir, Anggota KPU RI Pramono U Thantowi, Abd. Rohim Ghazali, Ahmad Najib Burhani, Izza Rahman Nahrowi, dan tentu yang ditunggu kehadirannya di tanah air, Sukidi Mulyadi yang belum lama ini berhasil mempertahankan ujian doktoralnya di Universitas Harvard Amerika Serikat.

Jika dihimpun, cukup banyak intelektual dan tokoh Indonesia yang lahir dari rahim IMM Ciputat, sebut saja misalnya Prof. Dien Syamsudin, Prof. Faturahman Djamil, Prof. Yunan Yusuf, Dr. Anwar Abas, Prof. Sudarnoto, Andi Nurpati, Prof. Masri Mansoer, dan bila dilacak utuh dari berbagai bidang tentu masih banyak. Belum lagi jika ditambah dengan intelektual yang istrinya alumni IMM Ciputat, seperti Buya Azyumardi Azra, Kiai Syafiq Hasyim, dan Burhanuddin Muhtadi.

Itu baru keluarga besar IMM Ciputat yang teringat, belum lagi jika dihimpun IMM secara Nasional, atau keluar besar Muhammadiyah sedunia. Nah, bayangkan Pak Jokowi, jika semua keluarga besar Muhammadiyah turun ke jalan, menuntut manusia purba yang telah menembak Randi segera dijerat hukum berat!

Penulis di halaman rumah Buya

Muazin Bangsa

Dari IMM Ciputat kemudian “berangkat” ke Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), saya termasuk generasi pertama JIMM yang didirikan oleh tokoh Islam Transformatif, Antropolog Moeslim Abdurrahman. Kang Moeslim sudah wafat (2012), meninggalkan amanat Islam Transformatifnya untuk kader-kader JIMM yang belum terlaksana sampai kini.

Buya, kata Kang Moeslim saat itu, adalah payung intelektual JIMM, dan Muhammadiyah adalah tenda besarnya. Ya, Ahmad Syafii Maarif, Sang ‘Muazin Bangsa dari Makkah Darat’ adalah sang pengingat. Sang Muazin tiada lelah menyerukan nilai-nilai moralitas dan kebajikan. Mengingatkan orang-orang untuk terhindar dari perilaku-perilaku buruk kebangsaan; tuna-adab, rabun ayam, preman bersorban, dan politisi ikan lele yang tidak mau naik kelas menjadi negarawan.

Di Grahaa Suara Muhamamdiyah

Kini, Buya Syafii sudah lelah mengamati situasi negara yang begini, lalu bagaimana dengan kita, apakah juga sudah lelah?

Begini jawaban Pak Haedar Nashir membalas pesan saya:

“Yang muda-muda boleh ikut sedih, tapi harus tetap tegak dengan terus berbuat, kewajiban kita ikhtiar, selebihnya tawakal. Buya saking prihatinnya dengan keadaan menjawab seperti itu, tapi beliau tetap memandu kita yang muda-muda dengan spiritnya yang tidak pernah menyerah”.

Ya, Buya, ingin generasi muda dan generasi baru bangsa tetap waras, jernih, dan bertanggung jawab. Sang Muazin Bangsa dari Makkah Darat ini berusaha menjaga kita tetap menjadi manusia waras supaya tidak menjadi manusia purba. Tetapi Buya, meminjam poster dari demo mahasiswa kemarin-sebenarnya saya juga lelah, tapi piye meneh? DPRe Pekok!”

Avatar
David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER