Minggu, Mei 16, 2021

Big Data, Simultan Melawan Corona

Ada Apa dengan MUI?

Ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu menimbulkan polemik, bahkan melahirkan kemarahan yang bersifat massif di masyarakat. Pasalnya, ungkapan...

Agar Presiden “Lebih Berkeringat” [Dua Tahun Pemerintahan Jokowi]

Hari ini, 20 Oktober 2016, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla genap berusia dua tahun. Masa kerja yang tersisa tiga tahun untuk mewujudkan 9 poin Nawacita...

Nadiem Makarim dan Kabinet Jokowi yang Agile

Menyambung tulisan saya di bulan Agustus mengenai kabinet agile yang menjadi kenyataan, yaitu Nadiem Makarim menjadi menteri dan Sri Mulyani tetap dipertahankan, maka saya...

Jokowi dan Heboh Video ISIS di Masjid Jakarta

  Terdakwa simpatisan ISIS Ahmad Junaedi melambaikan tangan usai sidang pembacaan vonis di PN Jakarta Barat, Jakarta, Selasa (9/2). Ahmad Junaedi divonis tiga tahun penjara...
Mustaq Zabidi
Penulis Lepas

Virus Corona menjadi perhatian serius di hampir semua negara, terkhusus yang masuk kategori zona merah, yang tentu memerlukan upaya penanganan yang ekstra ordinary. Penularan virus ini sangat cepat berkembang dan rentan terhadap media yang sifatnya lembab.

Pola perkembangan yang demikian itu sangat mudah terjadi kepada siapapun. Pasalnya, virus ini bisa menular ke orang lain manakala terjadi kontak fisik secara langsung dari pasien penderita Corona. Karenanya, physical distancing menjadi penting supaya tidak terjadi distribusi virus.

Penderita suspect Corona saat ini cenderung mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Bahkan, setiap hari jumlahnya semakin bertambah. Pemerintah sendiri memilih opsi karantina daripada lockdown.

Kebijakan tersebut sama baiknya, akan tetapi ada faktor lain yang dipertimbangkan diluar faktor kesehatan dan kemanusiaan, yakni kebijakan fiskal. Hal ini pula yang melatarbelakangi munculnya kebijakan tersebut disaat kondisi global yang kurang menentu, terjadinya perlambatan ekonomi domestik dan melemahnya kurs rupiah.

Langkah antisipasi terhadap penularan virus Corona memerlukan sinergi bersama, transparansi informasi yang meliputi data dan informasi pasien harus valid supaya tidak terjadi ketimpangan dalam upaya pembatasan ruang gerak penularan virus dari para pasien penderita suspect Corona.

Data Intelijen dan Kementerian kesehatan harus balance, guna menghindari tumpang tindih kepentingan. Pasalnya, ini melibatkan jutaan nyawa manusia dan antisipasi gejolak sosio-politik yang sewaktu bisa terjadi.

Upaya pencegahan virus secara simultan harus selalu dilakukan, monitoring kesehatan dan pengamanan kebutuhan medis termasuk APD (Alat Pelindung Diri) terkontrol dengan baik. Jangan sampai disaat pasien penderita Corona semakin bertambah kebutuhan penunjangnya justru belum terfasilitasi dengan baik. Tanpa itu, mustahil pemangkasan mata rantai penularan virus Corona akan terhenti.

Angka pasien penderita Corona sampai saat ini (31/03/2020) sudah mencapai jumlah 1.528 orang. Ini artinya, persebaran virus Corona terbilang cukup masif dengan rentang waktu satu bulan pasca informasi resmi pemerintah ini diturunkan. Capaian angka yang tidak biasa. Bahkan, angka tersebut bisa saja mengalami peningkatan jika intruksi pemerintah tidak dipatuhi. Maka dari itu, kesadaran kolektif adalah barang mahal saat ini.

Perlu kiranya semua pihak belajar pada penanganan kasus virus Corona di Wuhan. Pola penanganan yang disiplin dibarengi dengan SDM dan infrastruktur yang memadai. Disamping itu, pemanfaatan teknologi didorong mampu memberikan pengaruh positif. Penggunaan Big data dalam rangka pendeteksian dini kondisi kesehatan terbilang cukup efektif.

Big data dibuka secara fair, merekam setiap aktivitas masyarakat melalui aplikasi ponsel yang terkoneksi langsung ke pusat kesehatan nasional dan ada konsekuensi hukum jika melanggarnya. Commited to the truth ini menjadi pegangan bahwa penanganan virus Corona harus dibarengi langkah transenden dan disiplin sehingga efektif dalam penanganannya.

Kiblat dunia saat ini tertuju pada Tiongkok, kesuksesan yang dilakukan dalam menangani kasus virus Corona menjadi rujukan banyak negara. Tak terkecuali, negara AS yang selama ini berseteru terkait perang dagang.

Negara Paman Sam tersebut mengakui membutuhkan bantuan penanganan dari Tiongkok melihat angka pasien penderita Corona di negara tersebut semakin bertambah tinggi. Tak hanya itu, negara Italia pun juga demikian. Setidaknya, ada 199 negara yang mengalami serangan virus Corona ini.

Superhero itu adalah Tiongkok. Negara tirai bambu itu telah menerapkan kebijakan yang ketat, masa isolasi yang tak mudah namun menjadi jalan harapan. Harta karun itu adalah kesehatan, merupakan semboyan motivasi yang selalu dimunculkan bukan narasi pesimis jatuhnya korban jiwa dan absensi kematian. Semangat melawan virus Corona ini layak diakui dan prestisius.

Memori itu masih melekat kuat, dimana Rumah Sakit darurat virus Corona dibangun ekstra cepat dalam kurun satu minggu dan lengkap dengan infrastruktur medis. Ini terbilang gila dan nyata.

Namun, bagi negara Tiongkok hal ini barangkali diasumsikan biasa karena agenda pembangunan infrastruktur sangat sering dilakukan. Terlepas dari itu, misi kemanusiaan ini menjadi satu kekuatan bersama, gotong-royong, yang pada akhirnya melunturkan egosentris. Kini, pasca virus Corona memudar di Wuhan, Rumah Sakit darurat tersebut telah ditutup sementara.

Semua pihak harus sadar tupoksinya, masyarakat harus taat aturan, tenaga medis bekerja keras menangani pasien dan pemerintah mengawal kebijakan. Tak perlu melakukan langkah yang merugikan diri sendiri apalagi orang lain. Masa isolasi menjadi sangat efektif untuk bangkit dan berjuang bersama. Hal ini tak serta merta menandai sikap inferiority complex melainkan secara kolektif percaya diri mengusung harapan kemenangan.

Masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya virus Corona, apalagi melakukan upaya panic buying karena itu tindakan yang konyol dan merugikan. Langkah tersebut bukanlah solutif melainkan bentuk dari lemahnya edukasi mengenai pencegahan dan penanganan virus. Ini sama halnya, berani takut pada masalah tapi tidak berani untuk paham masalah.

Solidaritas perang melawan Corona harus dibuktikan dengan sikap menaati aturan hukum. Physical distancing, isolasi diri, dan work from home sebetulnya bisa dilakukan dengan mudah jika ingin pandemi Corona ini cepat teratasi. Pekerja di sektor informal sangat tidak mudah menerima kenyataan ini, bahkan diantaranya ada yang nekat melakukan mudik premature karena isu kelaparan ini bisa saja lebih kejam dari virus Corona. Namun, semua pihak harus bersabar bahwa semua masalah akan ada solusi terbaiknya.

Mustaq Zabidi
Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.