Artikel ini dibuka dengan analisis Kay Iseman mengenai posisi Barbara Baynton dalam kanon sastra Australia tahun 1890-an yang didominasi oleh tradisi nasionalisme demokratis pria. Meskipun kritikus terkemuka A.A. Phillips memasukkan Baynton dalam tinjauannya melalui bab baru di bukunya, The Australian Tradition, ia memberikan label “disidensi” atau pembangkangan terhadap karya-karya Baynton.
Namun, Iseman mencatat bahwa Phillips lebih melihat disidensi ini sebagai pemberontakan terhadap nasib menjadi orang Australia, bukan sebagai refleksi atas nasib perempuan di dalam budaya tersebut. Iseman berargumen bahwa kritik tradisional telah melakukan proses penamaan dan eksigesis yang justru membungkam suara perempuan untuk mempertahankan legitimasi legenda semak Australia (bush legend) yang patriarkal.
Dalam membedah cerita pendek Baynton yang paling terkenal, “The Chosen Vessel“, Iseman menguraikan struktur narasi yang kompleks dan penuh ironi. Cerita ini dimulai dengan gambaran seorang ibu muda yang terisolasi di sebuah gubuk semak bersama bayinya, didera ketakutan terhadap lingkungan sekitar dan hewan ternaknya. Suaminya digambarkan sebagai sosok kasar yang meremehkan ketakutan istrinya dan menjulukinya sebagai penakut atau cur.
Ketika seorang gelandangan (swagman) datang dan menunjukkan niat jahat melalui tatapannya, sang ibu mencoba melakukan tindakan pasif dengan meninggalkan makanan dan bros berharga milik ibunya di meja dengan harapan pria itu tidak akan menyakitinya. Namun, pada malam hari, gelandangan itu kembali dan mengepung gubuk tersebut. Saat sang ibu mencoba melarikan diri untuk meminta pertolongan kepada seorang penunggang kuda yang lewat, ia justru jatuh ke pelukan penyerangnya dan dibunuh, sementara teriakannya hanya dijemput oleh burung-burung curlew.
Iseman menyoroti bagaimana bagian ketiga dari cerita ini, yang melibatkan Peter Hennessey, sangat krusial namun sering disalahpahami atau bahkan disensor oleh para kritikus pria. Hennessey, seorang Katolik yang taat namun takhayul, melihat sang ibu yang sedang memohon pertolongan sebagai penampakan suci Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus.
Karena merasa itu adalah visi ilahi untuk menebus dosa politiknya, ia terus berkuda tanpa menolong korban. Iseman berpendapat bahwa bagian ini menunjukkan bagaimana institusi maskulin—melalui agama, politik, dan hukum—menciptakan mitologi yang mengaburkan realitas kekerasan terhadap perempuan. Sosok perempuan dibunuh berkali-kali dalam teks: secara fisik oleh gelandangan, secara simbolis oleh penglihatan religius Hennessey, dan secara diskursif oleh para kritikus.
Kritik Iseman terhadap A.A. Phillips sangat tajam terkait bagaimana Phillips mencoba menetralkan kekuatan disiden Baynton. Phillips menganggap detail tentang kekejaman suami atau visi religius sebagai elemen yang tidak perlu dan menyebutnya sebagai obsesi subjektif atau mimpi buruk sang penulis. Iseman menunjukkan adanya standar ganda dalam kritik Phillips yang mengkategorikan penulis sebagai objektif dan logis (maskulin) versus subjektif dan intuitif (feminin). Phillips mencoba memuji keahlian teknis Baynton dengan istilah-istilah maskulin seperti “muskular” dan “masterly”, namun ia secara paradoks menganggap kehebatan tersebut sebagai hasil dari “intuisi alamiah” atau kecelakaan, bukan sebuah kesadaran artistik yang terencana.
Iseman juga membedah penggunaan istilah “The Chosen Vessel” (Bejana Terpilih) yang secara ironis merujuk pada Bunda Maria. Dalam konteks Baynton, istilah ini menjadi sangat heretik karena perempuan tersebut menjadi “bejana” bagi sperma pemerkosanya, yang mengakibatkan kematiannya. Konsep maternalitas atau insting keibuan yang diagung-agungkan oleh kritikus seperti Sally Krimmer dan Alan Lawson justru dipandang oleh Iseman sebagai jebakan patriarki.
Insting yang menyelamatkan bayi tersebut adalah hal yang sama yang menuntut pengorbanan nyawa sang ibu. Iseman berargumen bahwa maternalitas dalam teks Baynton berfungsi sebagai kekuatan dekonstruktif; ia menunjukkan bahwa apa yang memberikan kekuasaan pada konsep maternal juga menuntut penyangkalan terhadap perempuan sebagai manusia individu.
Analisis Iseman meluas ke hubungan simbolis antara perempuan dan hewan dalam teks. Julukan “cur” yang diberikan suami kepada istrinya menghubungkan perempuan tersebut dengan anjing dan sapi. Di akhir cerita, terdapat kalimat penutup yang sering diperdebatkan: “Namun anjing itu juga bersalah”. Iseman menafsirkan ini bukan sebagai kesalahan moral anjing karena membunuh domba, melainkan sebagai refleksi atas loyalitas buta kepada tuan yang kasar. Sang ibu, dalam pasivitasnya menerima otoritas suami dan ketakutannya terhadap semak, secara tragis menjadi kaki tangan dalam nasibnya sendiri melalui penerimaan terhadap hukum patriarki.
Sebagai kesimpulan, Iseman menegaskan bahwa Barbara Baynton adalah seorang disiden yang berbicara dari margin tradisi yang berbahaya. Teksnya tidak hanya memberikan gambaran realistis tentang kehidupan semak yang keras bagi yang lemah, tetapi secara aktif mengguncang dan mendempul nilai-nilai maskulin. Dengan menggunakan teori-teori dari Julia Kristeva dan Jacques Lacan, Iseman memandang Baynton sebagai sosok yang mempertahankan perbedaan dengan cara menunjukkan bagaimana perempuan dikonstruksi sebagai “Liyan” dalam tatanan simbolik pria. Melalui ironi yang mendalam, Baynton membongkar bagaimana identitas pria Australia dibangun di atas penindasan dan pelenyapan eksistensi perempuan, menjadikannya suara yang terus mengganggu kemapanan tradisi sastra.
