Senin, April 15, 2024

Ancaman Pengungsi Iklim

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Pernahkah Anda mendengar istilah ‘pengungsi iklim’? Anda akan mengenalinya dalam beberapa tahun ke depan. Perubahan iklim bakal membuat beberapa negara tidak dapat atau layak dihuni; permukaaan laut meningkat, angin topan meluas, dan curah hujan terlalu banyak di satu daerah dan kekurangan di daerah lain. Lalu apa yang akan dilakukan orang? Mereka melarikan diri.

Kita tahu bahwa konflik menciptakan pengungsi, dan perubahan iklim juga akan mengakibatkan hasil yang sama. Banyak negara sedang mempersiapkan ancaman perubahan iklim tersebut, seperti Australia dan Tuvalu.

Mereka telah menandatangani perjanjian bilateral baru, yang menegaskan bahwa Australia akan menawarkan perlindungan kepada warga negara Tuvalu yang terkena dampak perubahan iklim. Dengan kata lain Canberra akan menampun pengungsi iklim. Berapa banyak? 280 visa akan dikeluarkan setiap tahun. Orang-orang Tuvalu bisa bekerja dan belajar langsung di Australia.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut traktat ini sebagai “groundbreaking treaty” sementara Perdana Menteri menyebutnya sebagai ‘beacon of hope.’ Ini masalah besar bagi Tuvalu. Tuvalu adalah negara rendah. Ketinggian rata-ratannya adalah 3 m di atas permukaan laut. Jadi jika permukaan laut naik, maka Tuvalu berada dalam bahaya. Negara pulau ini bisa tenggelam di bawah laut.

Pemerintah Tulavu memahaminya. Tahun lalu pemerintah Tulavu memutuskan untuk membuat replika digital negara mereka tuvalu di metaverse. Tujuannya adalah untuk melestarikan sejarah dan budaya negara itu jika suatu saat Tuvalu menghilang, namun memorinya tetap tersimpan. Tindakan ini menunjukkan betapa seriusnya perubahan iklim ini. Itulah sebabnya Australia menawarkan bantuan.

Tawaran Australia ini sangat menarik. Tulavu memiliki penduduk lebih dari 11.000 jiwa. Jika Australia menawarkan 280 visa setiap tahun, itu sekitar 2.5 % dari populasi Tulavu. Terus terang ada faktor politik di balik kebijakan ini. Tulavu adalah salah satu dari segelintir negara-negara yang masih mengakui Taiwan. Tulavu tidak memiliki hubungan dengan Beijing. Jadi Canberra mencoba merangkum Tulavu.

Terlepas dari aspek politik ini, mari kita fokus kepada masalah pengungsi iklim. Seberapa besar dan parah persoalan ini? Sebuah studi mengatakan dunia akan memiliki 1.2 miliar pengungsi iklim pada 2050. Setiap tahun sekitar 21 juta orang akan dipindahkan akibat banjir, badai, kekeringan dan kebakaran hutan (CNN, 10/9/2020).

Data lain dari Internal Displacement Monitoring Center (2019) menunjukkan kabar buruk mengenai negara-negara yang terkena dampak. Pada 2019 India menempati urutan teratas dengan jumlah pengungsi 5.018.000. Mereka mengungsi karena cuaca ekstrem. Lalu disusul oleh Filipina mencapai 4.094.000 jiwa. Negara-negara selanjutnya adalah Bangladesh (4.086.000), China (4.034.000) dan kemudian Amerika Serikat (916.000).

Apa sebenarnya yang mendorong orang-orang untuk mengungsi? Naiknya permukaan laut menjadi faktor utama. 30 tahun yang lalu sekitar 160 juta orang berisiko tinggal di daerah pesisir dan sekarang angkanya meonjak 260 juta orang. 90% dari mereka hidup di negara-negara miskin dan berkembang. Negara-negara ini tidak punya uang untuk pindah atau

berinvestasi dalam yang teknologi baru. Lihat Bangladesh. Pada tahun 2050, 177% negara ini bisa terendam. Bayangkan, 177% sebuah negara menghilang bersama rumah dari 20 juta penduduknya.

Jadi kemana mereka akan pergi? Mereka akan menjadi pengungsi iklim. Sebagai catatan juga, Bangladesh hanya menyumbang 0,3% dari emisi global, namun negara ini menghadapi

konsekuensi yang lebih besar. Hal yang sama juga terjadi di Afrika. Tahun lalu sekitar 7 juta orang Afrika mengungsi lagi karena perubahan iklim. Pada 2050 setengah dari semua pengungsi iklim bisa jadi masyarakat Afrika. Berapa sumbangan Afrika atas emisi? Hanya 4%. Jadi situasinya sangat buruk.

Negara yang menyumbang emisi paling kecil justru yang paling menderita atas perubahan iklim, bukan negara-negara maju yang justru menyumbang emisi paling tinggi. Lalu apa solusinya? Tindakan Australia adalah salah satu yang baik dan menarik untuk menerima orang dan memberi mereka peluang.

Tetapi tidak setiap negara bersedia melakukannya.  Langkah selanjutnya adalah jika Anda datang tidak dapat membuka perbatasan negara Anda, maka bukalah dompet Anda. Bantulah pendanaan program-program iklim dan program-program yang membantu negara-negara terdampak. Hal tak kalah urgennya adalah mengurangi emisi yang Anda hasilkan.

Hal-hal di atas mungkin tidak menyelesaikan masalah tetapi itu adalah awal yang baik. Kita juga harus mendefinisikan siapa pengungsi iklim? Hingga sekarang PBB belum memiliki definisi siapa pengungsi iklim, bahkan Konvensi Pengungsi tahun 1951 tidak menyertakan perubahan iklim. Anda tidak bisa membantu apa yang tidak atau belum Anda definisikan dan tentukan. Memang tidak mudah membuat konsensus tentang masalah ini. Tapi sekali lagi aksi-aksi tentang iklim bukanlah perkara mudah sejauh ini.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.