Sabtu, Mei 8, 2021

Agar Nanggala Tak Sia-sia

Mengapa Banyak Perempuan Terpikat ISIS?

Aparat keamanan Indonesia berhasil menggagalkan 7 warga negara Indonesia yang hendak berangkat ke Suriah di Bandara Soekarno-Hatta untuk bergabung dengan militan Negara Islam Irak...

18 Tahun Tragedi Mei

Maria Catarina Sumarsih dan foto putranya, Bernadinus Realino Norma Irmawan. Dok. pizna.com Keluarga korban Tragedi Mei 1998 gigih menuntut keadilan. Juga Aksi Kamisan ke-442 di...

Hanya Political Will yang Bisa Selamatkan Petani Tembakau

Alkisah, seorang wali bernama Ki Ageng Makukuhan diutus Sunan Kudus membuka lahan pertanian dan menyebarkan Islam di lereng Gunung Sindoro-Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah. Salah...

Sirkus Ahok di Media

Sebagai manusia, kita sangat sulit untuk tak berekspektasi. Dalam perandai-andaian, kita selalu berpikir "bagaimana ini" dan "bagaimana itu" sesuai dengan pengalaman dan kapasitas kepala...
Andi Saiful Haq
Andi Saiful Haq
(Alumni Defense Study ITB-Cranfield University

Selamat jalan Pahlawan.

Perih rasanya kehilangan 53 prajurit, apalagi yang gugur adalah prajurit Hiu Kencana, pasukan yang dilatih khusus untuk mempertahankan kedaulatan teritori Indonesia dari bawah laut. Lima puluh tiga prajurit Hiu Kencana gugur menunaikan janjinya, tidak mundur sedikit pun mempertahankan kapal selam milik TNI-AL KRI Nanggala 402 meski gugur adalah akhir dari perjuangan.

KRI Nanggala 402 memang sudah usang, tinggal menunggu waktu untuk merenggut nyawa prajurit kita, di medan tempur atau pun dalam misi latihan seperti yang terjadi di perairan utara Bali. Kapal selam buatan Jerman tahun 1978 itu masih digunakan untuk kebutuhan operasi sejak kemunculan perdananya di ulangtahun TNI ke-36 pada tanggal 5 Oktober 1981. Kini KRI Nanggala 402 karam selamanya terbaring di dalam samudera bersama nyawa 53 orang pahlawan Hiu Kencana. Menyelam untuk selamanya.

Momentum modernisasi Alutsista

Indonesia dengan wilayah perairan yang sangat luas hanya dikawal oleh lima kapal selam, KRI Nanggala 402 salah satunya. Setelah karamnya KRI Nanggala 402 maka Indonesia hanya memiliki empat kapal selam. Sangat jauh jika dibanding dengan Singapura yang memiliki 20 kapal selam atau bahkan vietnam yang memiliki 6 buah kapal selam.

Lebih miris lagi jika melihat luas wilayah perairan Indonesia yang mencapai 5,8 juta meter persegi. Dengan hanya tersisa 4 buah kapal selam, bisa diperkirakan satu kapal selam, masing-masing harus menjaga 1,48 juta meter persegi wilayah perairan Indonesia.

Memang sudah direncanakan untuk menambah kapal selam Indonesia menjadi 12 buah untuk mencapai apa yang disebut sebagai minimum essential forces yang harus dimiliki Indonesia. Namun berbagai kendala anggaran dan prioritas menyebabkan target itu masih sulit untuk dicapai.

Keunikan kapal selam militer adalah deterrence effect atau efek penggentar, efek yang membingungkan musuh, apalagi jika kapal selam tersebut dilengkapi dengan teknologi anti radar dan persenjataan yang maksimal. Kapal selam bisa mangatasi berbagai macam ancaman nasional, baik itu bersifat militer maupun non militer seperti pencurian ikan dan penyelundupan.

Ini adalah lampu kuning bagi Menteri Pertahanan Republik Indonesia, upaya modernisasi alat utama sistem senjata, terutama Angkatan Laut dan Udara perlu untuk disegerakan. Gugurnya 53 prajurit terbaik Hiu Kencana harus menjadi pengingat untuk kita semua, bahwa kedaulatan nasional sangat bergantung pada kemampuan dan kapabilitas pertahanan kita di darat, laut dan udara.

Menteri Pertahanan harus fokus kepada hal utama tersebut. Tidak ada waktu lagi untuk mengurus politik, kepentingan nasional adalah diatas segalanya, agar gugur pahlawan tak sia-sia. Mereka yang terbaring bersama KRI Nanggala 402 adalah peringatan penting sebagai pedoman langkah bangsa ini ke depan. Seakan mereka berseru pada kita lewat puuisi Chairil Anwar “kami tidak bisa lagi berkata, Kaulah sekarang yang berkata.”

Andi Saiful Haq
Andi Saiful Haq
(Alumni Defense Study ITB-Cranfield University
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.