Senin, April 19, 2021

Implementasi Agama dan Politik, Belajarlah pada Hatta

Ihwal Gangguan Mental Hari Ini [Masih Waraskah Anda?]

Hari ini ada banyak peningkatan angka orang-orang yang mengalami gangguan mental. Seperti dilansir dari laporan gangguan mental Badan Kesehatan Dunia (WHO), satu dari empat...

Benarkah Negara Sudah Tak Beradab?

Dalam beberapa waktu terakhir gelombang kritik terhadap kinerja legislasi Dewan Perwakilan Rakyat bersama  Presiden mengalami peningkatan secara politik maupun jumlah. Pada saat yang sama...

Menuju Gerakan Perempuan Baru [Catatan Perempuan 2016]

Refleksi akhir tahun ini saya dedikasikan untuk seluruh pejuang keadilan gender di Indonesia. Dalam banyak isu di sepanjang tahun 2016, opini yang menyeruak di...

Ahok dan Penggusuran: Dibenci dan Dirindu

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari masa ke masa tidak pernah luput dari kontroversi penggusuran. Menjelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017, isu penggusuran semakin meluas...

Hubungan agama dan politik menjadi isu seksi yang tak pernah usang. Baik agama maupun politik tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Keduanya mengatur tata cara hidup manusia dari lahir, bangun tidur, hingga tidur lagi. Bagaimana kita memandang hubungan antara keduanya, ada baiknya belajar pada Sang Proklamator, Mohammad Hatta.

Di tengah hiruk-pikuk kontroversi tentang halal-haram mengenai penggunaan masjid sebagai tempat kegiatan politik. Kiranya penting untuk melihat kembali pandangan dan perilaku politik Hatta.

Ada yang berpandangan bahwa berkegiatan politik di masjid halal dan bahkan dianjurkan karena sejak jaman Rasulullah SAW masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam, termasuk dalam melakukan konsolidasi politik.

Sementara bagi yang berpendapat haram, karena masjid dianggap sebagai tempat suci, tempat beribadah yang diagungkan dan dipelihara dari tindakan-tindakan yang bisa merusak keagungannya. Kesucian masjid tidak pantas dijadikan alat meraih kekuasaan yang penuh intrik dan intimidasi.

Di luar halal-haram, ada pandangan moderat yang membolehkan masjid sebagai sarana kegiatan politik sepanjang dilakukan secara objektif, berperspektif kemanusiaan universal, dan tidak untuk kepentingan dukung mendukung kandidat politik tertentu (kepentingan kekuasaan jangka pendek).

Munculnya wacana ini sejatinya tidak bisa dilepaskan dari konsep dasar hubungan agama dan politik yang diinterpretasikan secara dinamis. Dinamika hubungan agama dan politik sudah lama berkembang, dan biasanya akan mendapatkan perhatian khusus pada momen-momen politik tertentu seperti menjelang Pilkada dan Pemilu.

Dalam konteks keindonesiaan, dinamika hubungan agama dan politik sudah muncul sejak awal republik ini berdiri. Perdebatan ideologis dalam Konstituante tentang dasar negara dengan menggunakan Islam atau ideologi yang lain, merupakan titik puncak dinamika hubungan agama dan politik di Indonesia.

Dalam proses perdebatan itu, Mohammad Hatta memiliki peran yang khas dan signifikan. Dikatakan signifikan karena–dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat Indonesia bagian Timur—Hatta mengusulkan agar kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihilangkan yang kemudian diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bagi Hatta, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah tauhid yang tidak bisa dipisahkan dari Islam. Tapi, pada saat yang sama, semangat agama lain (selain Islam) pun terpenuhi dalam asas ini, dengan menginterpretasikan keesaan sesuai dengan perspektif keimanan masing-masing. Dan yang lebih penting, dengan asas ini, tuntutan Indonesia Timur untuk menjadi negara sendiri yang terpisah dari Indonesia, tidak memiliki alasan lagi.

Menurut Deliar Noer, ada dua hal yang sangat mempengaruhi Hatta dalam beragama. Pertama, doktrin hablum minallah (hubungan dengan Allah) yang dianggapnya mutlak, praktis, tidak perlu berteori, dan benar-benar dilaksanakan. Menurutnya rasa percaya kepada Allah harus dipupuk dan ditindaklanjuti dengan amal perbuatan.

Kedua, doktrin hablum minannas (hubungan dengan manusia). Menurut Hatta, berjuang untuk membela tanah air, bangsa, dan masyarakat merupakan keniscayaan karena hal ini menyangkut tugas hidup sebagai manusia. Dan untuk melaksanakan doktrin ini ia rela diasingkan oleh pemerintah Belanda dan dibuang ke Digul dan Banda Neira.

Dalam catatan Deliar Noer, sepanjang hidupnya Hatta berbuat positif bagi tanah air, bangsa dan masyarakat, baik sebagai manusia biasa maupun ketika memegang jabatan (sebagai Wakil Presiden). Dalam berpolitik, Hatta benar-benar menginginkan persatuan Indonesia yang ditegakkan di atas keragaman suku, ras, dan agama.

Hatta mempelajari Islam dan menerapkannya secara konsisten. Ajaran-ajaran Islam yang tertuang dalam kitab suci dipraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena keyakinan pada Islam yang begitu kuat, Hatta berpandangan bahwa Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan (unsur pendukung) dari demokrasi.

Hatta meyakini bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi keadilan, kesejahteraan, dan pemenuhan hak-hak dasar manusia. Dalam bidang ekonomi, Islam memiliki ajaran yang tegas dalam memberantas kemiskinan.

Sosialisme yang diperjuangkan Hatta, diyakininya sebagai bagian dari ajaran Islam. Sebagaimana sosialisme yang berkembang di Barat, ajaran Islam membangkitkan kalangan miskin untuk bisa meraih kesejahteraan. Hak setiap warga negara yang tertuang dalam UUD 1945, menurut Hatta merupakan ketentuan yang diperintahkan ajaran Islam.

Sepanjang hidupnya, Hatta tidak pernah mengklaim diri paling benar. Ia juga tidak pernah mengumandangkan takbir dalam pidato-pidatonya untuk menunjukkan bahwa dirinya paling Islami, atau banyak memekikkan teriakan merdeka untuk menunjukkan dirinya paling nasionalis. Bagi Hatta, meyakini Islam dan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat adalah satu kesatuan yang harus diimplementasikan dalam kehidupan dirinya.

Karena keyakinan, pandangan hidup, dan prilakunya yang mencerminkan ajaran Islam, kiranya tidak berlebihan jika ada yang berpandangan, Hatta merupakan sosok yang mampu mengintegrasikan agama dan politik kebangsaan dalam satu tarikan napas dalam kehidupannya. Inilah salah satu pelajaran penting dari Hatta untuk kita semua.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.