Pada hari ini (19 Mei 2026), organisasi gerakan perempuan tertua di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini, ‘Aisyiyah memasuki usia ke-109 tahun. Pada usia yang cukup tua, lebih dari satu abad, organisasi perempuan Muhammadiyah ini telah menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa, dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, pergolakan politik, hingga era digital yang penuh perubahan cepat. Yang patut di apresiasi, di tengah perubahan zaman itu, satu hal yang tetap terjaga adalah orientasi gerakannya yang membebaskan, memajukan, dan memanusiakan manusia.
Hingga saat ini, di bidang pendidikan ‘Aisyiyah telah memiliki 4560 lebih lembaga pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi; di bidang kesehatan, Aisyiyah memiliki 18 Rumah Sakit dan 14 Klinik yang dikelola secara mandiri, dan 141 Rumah Sakit yang dikelola bersama dengan Muhammadiyah; dan di bidang layanan sosial-kemanusiaan memiliki 188 panti asuhan anak-anak yatim dan terlantar, 26 panti wreda (lansia), 23 panti khusus difabel, dan 214 daycare untuk lansia.
Dengan berangkat dari peran-peran kemanusaiaan yang telah dan akan terus ditempuhnya, Milad ‘Aisyiyah kali ini mengusung tema: “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” yang terasa sangat relevan dengan situasi dunia hari ini di tengah paradoks yang ditandai dengan teknologi berkembang sangat maju, tetapi konflik kemanusiaan juga terus meningkat. Satu sisi upaya-upaya perdamaian terus dilakukan tapi perang terus berkecamuk.
Saat ini, melalui beragam cara, manusia semakin mudah untuk terhubung satu sama lain, namun pada saat yang sama kebencian dan prasangka begitu mudah menyebar. Yang memprihatinkan, institusi agama seharusnya menjadi sumber kasih sayang, tidak jarang justru diperalat untuk memecah belah. Bahkan, dalam beberapa kasus, dijadikan alat legitimasi untuk melakukan kekerasan suksual. Di titik inilah dakwah kemanusiaan menjadi penting, yakni menghadirkan agama sebagai cahaya yang menenteramkan, bukan ancaman yang menakutkan.
Dakwah kemanusiaan
‘Aisyiyah didirikan tahun 1917 oleh Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sejak 1971, sejak awal telah menggerakkan dakwah yang tidak cukup hanya berhenti di mimbar. Melainkan harus hadir dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan perempuan, hingga advokasi kemanusiaan. Karena itu, ’Aisyiyah tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga gerakan sosial yang berakar kuat di tengah masyarakat.
Dalam pandangan ’Aisyiyah, dakwah kemanusiaan berarti memperjuangkan martabat manusia tanpa membedakan suku, agama, status sosial, maupun jenis kelamin. Semangat ini sangat dekat dengan pesan Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi untuk menghadirkan kemaslahatan. Dakwah bukan sekadar mengajak orang menjadi saleh secara individual, tetapi juga membangun kehidupan yang adil, damai, dan bermartabat secara sosial.
Karena itu, kiprah ’Aisyiyah selama ini tidak dapat dilepaskan dari agenda pemberdayaan perempuan. Organisasi ini memahami bahwa perdamaian tidak mungkin terwujud jika perempuan masih mengalami ketidakadilan, kekerasan, dan marginalisasi. Perempuan bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek penting dalam membangun peradaban. Ketika perempuan memperoleh akses pendidikan, kesehatan, dan ruang partisipasi sosial yang baik, maka keluarga dan masyarakat pun akan tumbuh lebih sehat dan damai.
Dalam konteks Indonesia hari ini, dakwah kemanusiaan yang diperjuangkan ’Aisyiyah juga menemukan relevansinya di tengah menguatnya polarisasi sosial. Media sosial sering kali menjadi arena pertengkaran tanpa ujung. Perbedaan pandangan politik, agama, bahkan pilihan hidup, mudah berubah menjadi kebencian. Situasi ini memerlukan hadirnya kekuatan moral yang mampu merawat kebijaksanaan publik. Di sinilah ’Aisyiyah memiliki peran strategis sebagai pelopor Islam berkemajuan yang menebarkan nilai moderasi, dialog, dan toleransi.
Perdamaian yang berdampak
Perdamaian yang dimaksud dalam tema milad ini tentu bukan sekadar ketiadaan konflik. Tapi perdamaian yang berdampak hadirnya keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tumbuhnya rasa saling percaya di tengah masyarakat. Ada keberanian untuk melawan segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak yang hingga kini masih menjadi persoalan serius. Apalagi kekerasan seksual, telah merambah dunia pendidikan, terutama di kalangan pesantren dan kampus yang seharusnya menjadi tempat utama untuk menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
Karena itu, dakwah kemanusiaan memerlukan keberpihakan yang nyata. Ia tidak boleh hanya menjadi slogan moral yang indah didengar. Dakwah kemanusiaan harus hadir ketika masyarakat menghadapi kemiskinan, krisis lingkungan, intoleransi, hingga bencana kemanusiaan. Dalam banyak peristiwa, kita menyaksikan bagaimana kader-kader ’Aisyiyah turun langsung membantu masyarakat melalui layanan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, maupun aksi sosial kemanusiaan. Inilah wajah agama yang hidup, yakni agama yang hadir membersamai penderitaan manusia.
Yang menarik, ’Aisyiyah juga menunjukkan bahwa gerakan perempuan Islam dapat berjalan harmonis dengan kemajuan modernitas. Organisasi ini mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan pendidikan modern, penguatan keluarga, kesehatan reproduksi, hingga pemberdayaan ekonomi. Dalam bahasa sosiolog Anthony Giddens, masyarakat modern membutuhkan institusi yang mampu menjaga “trust” atau kepercayaan sosial. Dan selama lebih dari satu abad, ’Aisyiyah telah membangun modal sosial itu melalui kerja nyata yang konsisten.
Oleh karena itu milad bukan sekadar perayaan usia organisasi. Ia adalah momentum refleksi sekaligus peneguhan arah gerakan. Tantangan masa depan tidak ringan. Dunia menghadapi ancaman perang, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga krisis moralitas digital. Semua itu membutuhkan dakwah yang lebih membumi, inklusif, dan berorientasi pada kemanusiaan universal.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, ’Aisyiyah memiliki modal besar berupa jaringan akar rumput yang kuat, tradisi intelektual yang panjang, serta semangat pelayanan yang tulus. Modal inilah yang harus terus diperkuat agar dakwah kemanusiaan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar menjadi energi perubahan sosial.
Milad ke-109 ’Aisyiyah mengingatkan kita bahwa agama sejatinya hadir untuk memuliakan manusia. Ketika dakwah dijalankan dengan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keberpihakan pada keadilan, maka perdamaian bukanlah sesuatu yang mustahil diwujudkan. Dan selama lebih dari satu abad, ’Aisyiyah telah membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi pelopor penting dalam menghadirkan wajah Islam yang ramah, mencerdaskan, dan menenteramkan bagi semesta.
