OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Yahudi dan Zionisme Itu Beda

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Akibat konflik dan agresi Israel atas rakyat Palestina, pemahaman kita di Indonesia sering menyamakan Yahudi dan Zionisme. Seolah-olah semua orang Yahudi adalah Zionis. Keduanya tidaklah sama. Dalam bahasa Arab, Yahudi disebut dengan al-yahud dan Zionisme disebut dengan al-sahuniyyah. Artinya, orang Yahudi belum tentu memiliki ideologi Zionisme.

Yahudi adalah agama yang masuk dalam rumpun agama-agama Ibrahim dengan Islam dan juga Nasrani. Ketiga agama ini memiliki bapak yang sama yakni Ibrahim. Yahudi melalui Nabi Musa, Nasrani melalui Nabi Isa dan Islam melalui Nabi Muhammad. Ilustrasi tentang Yahudi di dalam al-Qur’an memang sering sangat menarik dan beragam. Jumlah ayat al-Qur’an yang menyebutkan orang Yahudi mencapat ratusan.

Al-Qur’an misalnya melukiskan orang-orang Yahudi sebagai orang-orang yang beriman, namun al-Qur’an juga melakiskan orang-orang Yahudi sebagai bangsa yang ngeyel dan licin dan suka dengki pada kaum Muslim. Bahkan kisah-kisah ini yang terus berkembang sampai zaman sekarang dimana seolah-olah Yahudi itu identik dengan kelicikan dan kengeyelan dan juga permusuhan mereka pada orang-orang Islam. Ini semua soal orang Yahudi dan agama Yahudi yang dilukiskan al-Qur’an.

Di sini juga perlu saya katakan jika al-Qur’an tidak pernah menyebutkan istilah Zionisme. Istilah ini sama sekali baru. Istilah Zionisme baru muncul pada abad modern. Pada tahun 1890, seorang penulis Yahudi asal Austria, Nathan Birnbaum, menulis dalam Majalah Self-Emancipation, di mana istilah Zionisme pertama kali muncul.

Lalu, tujuh tahun kemudian, 1897, Theodor Herzl menggunakan istilah Zionisme untuk penyeleggaraan Kongres Yahudi Pertama. Setahun sebelum Kongres ini, Theodor Herzl menerbitkan buku the Jewish State. Herzl menyerukan agar orang-orang Yahudi untuk hijrah ke Israel dan mendirikan Negara Israel. Pendirian negeri Israel di Palestina ini akan turut menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh Yahudi Diaspora [baca kitab Abdul Wahhab al-Masiri, موسوعة اليهود واليهودية والصهيونية].

Panggilan untuk orang-orang Yahudi diaspora agar melakukan hijrah ke Palestina ini adalah awal dari pendudukan Israel atas Palestina. Sejarah secara umum menyatakan demikian. Namun, di balik itu, sesungguhnya, hijrahnya orang-orang Yahudi diaspora ke Palestina ini justru menjadi awal perseturuan orang-orang Yahudi ayang agamis dan kelompok Zionis ini.

Kebanyakan orang Yahudi tidak setuju dengan Zioanisme yang ingin mendirikan negara Israel di Palestina. Yunus Abdul Hamed, pengajar sejarah pada Universitas Islam Gaza, menyatakan jika penolakan orang-orang Yahudi atas Zionisme karena gerakan ini dianggap sebagai gerakan yang harmful atas tatanan dunia. Karena, kalangan Yahudi ini menganggap jika Zionisme itu bukan gerakan agama, namun lebih merupakan gerakan sekuler (harakah ilmaniyyah). [Lihat kitab Yunus Abdul Hamed, التيارات اليهودية الرافضة للصهيونية].

Karena Zionisme itu gerakan sekuler maka pendirian negara Israel itu bukan mejadi bagian dari agama Yahudi itu sendiri. Ternyata Zionisme sebagai gerakan politik ini memang hal yang dikehendaki oleh para tokoh gerakan Zionisme. Bertis Smolenskin, yang banyak dipengaruhi oleh Ben Gourian, menyatakan jika visi Zionisme itu memang untuk menduduki Palestina untuk kehidupan dan keamanan mereka. Cara pandang ini disetujui oleh Max Nordau, tokoh zionisme dari Hongaria.

Saya ingin mengatakan di sini bahwa orang-orang Yahudi yang beragama memang dari awal banyak yang tidak setuju dengan zionisme. Dengan kata lain Zionisme bukanlah perjuangan keagamaan mereka.

Di sini kita memang perlu untuk membuat perbedaan yang jelas antara Yahudi dan Zionisme. Yahudi adalah agama sementara zionisme adalah gerakan politik penguasaan yang menurut banyak kalangan Yahudi dianggap sebagai gerakan yang tidak sesuai dengan visi agama Yahudi.

Sekali lagi, karena keduanya berbeda, maka kita harus secara jernih pula menganggap bahwa seorang Yahudi tidak mesti seorang Zionis. Pemahaman kita ini perlu dikemukakan di dalam konteks Indonesia, agar kita tidak membabi buta menyamakan Yahudi dan Zionisme. Cara pandang yang membabi buta itu merugikan tidak hanya bagi orang Yahudi namun juga bagi orang Islam karena hal demikian agar membuat citra Muslim sebagai pihak yang sering marah pada mereka yang berbeda agama.

Kita memang harus mengecam gerakan Zionisme atas tindakan ideologinya yang mengakibatkan pengusiran orang-orang Palestina dari tanah mereka, namun Yahudi sebagai agama atau orang-orang yang memeluk agama Yahudi tidak bisa dipersamakan dengan orang-orang yang mendukung Zioanisme.

Jika ada orang Yahudi yang mendukung Zionisme maka itu bukan salah agamanya, Yahudi, namun Zionisme itu yang harus disalahkan. Hal ini sama dengan problem kita, sebagai orang Islam. Jika ada di antara orang Islam ada yang mendukung dan melakukan gerakan terorisme (irhabiyyah), maka yang salah bukanlah agama mereka, Islam, namun mereka yang terjerambab dalam terorisme itu sendiri.

Kita sebagai orang Islam sering melakukan standar ganda jika melihat fenomena agama dan keberagamaan agama lain (others). Jika ada orang Yahudi, Kristen, Budha dlsb, melakukan tindakan kekerasan, pembunuhan dlsb, maka kita buru-buru melakukan judgment jika perbuatan itu disebabkan karena ajaran agama mereka. Namun ketika hal yang sama menimpa kalangan Muslim maka mereka minta agar agama mereka tidak dikait-kaitkan dengan perbuatan umat mereka.

Kita tahu kan, setiap tindakan pengeboman, para pemuka agama kita, terutama MUI, langsung membuat barikade jika perbuatan teroris mengebom sebuah gereja itu tidak terkait dengan agama si teroris tersebut. Jelas, saya setuju dengan cara ini, tidak mengait-kaitkan. Namun, kita harus menerapkan cara pandang itu dengan sikap yang adil. Artinya, pandangan demikian ini, kita terapkan baik untuk Islam dan Muslim maupun untuk agama dan umat beragama yang lain.

Sebagai catatan, dalam situasi yang serba rumit ini, kita memang harus memelihara nalar kita agar senantiasa bersikap obyektif dan fair. Jika gerakan Zionisme Israel itu terus berlangsung dan bahkan memakan korban, maka jelas itu dilakukan oleh mereka, kaum Zionis, bukan karena agama mereka Yahudi. Hal demikian juga dengan Kristen dan orang Kristen, Islam dengan orang Islam, Hindhu dengan orang Hindhu dan masih banyak lagi. Cara pandang yang demikian ini akan membantu dunia ini akan membuat dunia ini menjadi lebih sehat dan memiliki masa depan.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.