OUR NETWORK
Jumat, Mei 27, 2022

Muslim Life Fair, Kebangkitan Kembali Gerakan Islam di Indonesia?

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Akhir-akhir ini ada dua hal penting catatan saya tentang penanda bagi susahnya kebangkitan Gerakan Islamis pasca Gerakan 212. Pertama, gagalnya kehadiran Syafiq Basalamah dan Reza Basalamah di acara Muslim Life Fair di Istora Senayan. Konon acara dibatalkan oleh aparat. Kedua, menampilkan menantu Habib Rizieq Shihab di kesempatan demo yang ke sekian kalinya atas target-target yang mereka tentukan ternyata tidak membuahkan hasil yang begitu menggembirakan.

Dalam catatan ini, saya melihat kedua peristiwa itu sebagai bentuk pesimisme akan kebangkitan kembali Gerakan Islam di Indonesia.

Pertama, saya ingin melihat Muslim Life Fair. Kegiatan ini bukan kegiatan baru. Dari Namanya, kegiatan ini merupakan upaya untuk merayakan kehidupan Muslim di ruang publik melalui pelbagai kegiatan keagamaan dan ekonomi.

Kegiatan ini sudah lama sekali dilakukan dan di dalam kegiatan ini menampilkan kegiatan-kegiatan seperti gelaran fashion, pendidikan Islam, hobi-hobi umat Islam, pameran buku, perjalanan dan kuliner halal, pameran kecantikan, farmasi Islam dan pengobatan model nabi.

Muslim Life Fair ini dikemas dalam bentuk populer dan market-oriented activities (aktivitas yang berorientadi kepada pasar). Bagi kebanyakan orang awam, kegiatan bisa dikatakan sebagai pameran biasa, sebagaimana pameran lain, namun bedanya ada bungkus keagamaannya. Kelas menengah Muslim kota suka dengan gaya yang demikian. Mereka menganggap bahwa partisipasi di Muslim Life Fair sebagai bentuk ketakwaan. Ini memang ciri yang begitu menonjol bagi kehidupan masyarakat Muslim perkotaan kita.

Ya, pada awalnya memang kecurigaan tidak begitu nampak adanya pada penyelenggaraan Muslim Life Fair. Namun lambat laun, dari sisi produk yang dipasarkan dan juga program kegiatan yang ditawarkan, dimensi ideologis-islamisnya mulai kelihatan.

Misalya, buku-buku yang dipasarkan adalah buku-buku yang bernuansa mendukung tatanan politik Islam. Bisa dikatakan buku-buku yang dijajakan dipenuhi oleh tema-tema ideologis Islamis.

Selain itu, fashion yang ditawarkannya pun bernuansa yang tidak berbeda dengan gambaran ideologis-islamis misalnya pakaian-pakaian Muslimah bagi kalangan perempuan. Pakaian-pakaian dan hijab yang bersimbol Islamis. Sudah barang tentu, perempuan menjadi sasaran dari pameran fashion ini. Kenapa? Pertama, perempuan adalah pasar empuk bagi dunia fashion. Kedua, perempuan adalah juga kelompok yang paling lemah untuk ditekan melalui dalih keagamaan.

Katakanlah, jika ingin berpakaian secara Islami, datanglah ke Muslim Life Fair karena di tempat ini pakaian-pakaian yang sesuai dengan nilai-nilai Islamis di display kepada publik.

Selain pameran produk-produk dan jasa –tourisme–, di Muslim Life Fair juga diprogramkan acara kajian keislaman.

Di program kajian inilah sebenarnya ruang bagi para ideolog-islamis untuk bermanuver. Dari kasat mata hal seperti ini tidak terlihat, namun lewat pengawat gejala itu bisa terbaca. Misalnya, jika kita lihat dari satu penyelenggaran ke penyelenggaraan yang lain, ada kecenderungan bahwa Muslim Life Fair ini memang sengaja diset up sebagai pasar dakwah bagi kalangan pendakwah yang selama ini disebut sebagai kalangan pendakwah “ideologis-islamis.” Bahkan semakin ke sini corak pendakwah yang dihadirkan di acara ini semakin jelas coraknya.

Dari sekian daftar yang diundang, maka kehadiran pendakwah salafi serta Wahabi demikian menonjol. Bahkan tidak hanya kalangan mereka, kalangan pendakwah mantan Hizbut Tahrir Indonesia juga menjadi pengisi acara kajian di Muslim Life Fair ini.

Saya mencatat bahwa jalur untuk peneguhan politik identitas di kalangan mereka yang masih meyakini pentingnya tatanan ideologis politik Islam di Indonesia nampaknya diupayakan untuk ditempuh melalui pelbagai cara dan strategi.

Muslim Life Fair adalah kegiatan atau program dan sekaligus strategi yang bisa dikatakan cukup komprehensif karena kegiatan ini menggabungkan dimensi pasar dan dimensi ideologi sekaligus. Artinya, orang datang ke acara ini tidak hanya mendapatkan kebutuhan pasar mereka, namun sekaligis juga mendapatkan cita-cita ideologis tatanan politik keislaman yang diimpikan oleh para ideolog.

Nampaknya pihak aparat sudah mencium kecenderungan ideologis di dalam Muslim Life Fair. Karenanya, ketika aparat ini membatalkan kehadiran Reza Basalamah dan Syafiq Bassalamah, maka mereka tidak membatalkan acara Muslim Life Fair itu sendiri. Acara ini tetap dibiarkan berjalan karena tanpa kajian atau pengajian sesungguhnya Muslim Life Fair ini adalah arena jual beli barang dan produk sebagaimana pameran-pemeran lainnya.

Pada sisi lainnya, gerakan yang senada dengan model ideologis-Islamisnya Muslim Life Fair, terus mereka upayakan meskipun belum menemukan hasilnya yang maksimal. Gerakan 212 yang mencoba mengambil angel baru ternyata tidak cukup mendongkrak.

Apakah memang ini merupakan tanda “the end of story” bagi mereka ataukah mereka ini memang sudah paham akan kemunduran mereka, namun acara turun ke jalan tetap diadakan sebagai upaya untuk menghidupkan asa bagi gerakan mereka.

Pelbagai kegiatan yang ditujukan sebagai “incentive” untuk menghidupkan gerakan mereka sudah mereka coba untuk jalankan. Pelbagai upaya untuk menyatukan dan mengkonsolidasi segala potensi juga sudah mereka tempuh. Pelbagai tokoh baru mereka coba tawarkan ke pasar publik. Peristiwa paling terakhir bahkan menghadirkan “organisasi baru” sebagai pengganti FPI dimana ketuanya adalah menantu Habib Rizieq Shihab.

Mereka mencoba untuk memakai akronim FPI (Front Persaudaraan Islam) dengan harapan gegap gempita masyarakat menyambut terobosan. Di sini mereka ingin memainkan ikatan emosional masyarakat yang cinta FPI dengan FPI baru ini. Asumsinya, orang yang cinta pada Front Pembela Islam akan jua cinta pada Front Persaudaraan Islam.

Pertanyaannya adalah gairahkah pasar publik dalam menyambut gerakan mereka? Selama ini sih belum terlihat. Dari mana kita tahu bahwa gerakan mereka tidak begitu mendapatkan respon publik, ya dari animo masyarakat untuk ikut bergabung dengan mereka. Jika dulu kegiatan 212 lebih banyak dihadiri oleh kelompok yang non-ideologis, maka gerakan mereka sekarang lebih banyak dihadiri oleh kelompok inti atau kader mereka yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Sebagai catatan, gerakan, tokoh, kegiatan yang menampilkan corak ideologis-islamis nampaknya sudah semakin bisa dikenali oleh masyarakat. Masyarakat sudah tahu apakah sebuah gerakan, tokoh, atau kegiatan itu benar merupakan aktivitas yang murni agama dan dakwah atau ada selubung ideologis di baliknya. Hal ini terjadi pada fenomena ketidak popularitasan gerakan dan beberapa tokoh ketika mereka melakukan aktivitas dan memasarkan dakwah mereka yang terselubung dengan motif ideologis.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.