Sabtu, Mei 8, 2021

Apakah Khilafah Solusi Covid-19?

Kursi Kristen, Kursi Islam: Contoh Sesat Pikir Yahya Waloni

Yahya Waloni tidak berhenti untuk terus membuat kontroversi dalam kegiatan dakwahnya. Kontroversi terbaru kini yang diperkenalkan adalah benda ternyata beragama. Dia sebut kristen kursi...

Dalam Teori Politik Sunni Pemakzulan Tidak Ada

Persoalan pemakzulan presiden kembali ke permukaan. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah alasan fiqh siyasah. Menurut laporan Koran Tempo I Juni 2020, Prof. Din...

Benarkah Umat Islam yang Paling Menderita?

Umat Islam di Indonesia sering berpikir bahwa merekalah yang sering menjadi sasaran pelecehan dan kebencian di dunia ini. Dalam hal ini mereka merujuk rezim...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Dalam era wabah pandemi Covid-19 seperti ini, promosi lamat-lamat tentang sistem khilafah di negeri kita kembali muncul. Seperti biasa, mereka mengklaim jika sistem khilafah adalah sistem politik yang bisa mengatasi segala macam masalah di dunia, apalagi kalau cuma soal Covid-19.

Menurut mereka, sistem khilafah bisa mengatur tata-kelola kesehatan modern yang sudah business-oriented, rumah sakit yang tidak siap, dan hal-hal lain, menjadi siap. Kata penganur sistem khilafah, khilafah itu solusi untuk apa saja atau dalam bahasa lain mereka ini menyebutnya dengan istilah Islam kaffah.

Keadaan pandemik seperti yang kita alami ini membuat promosi sistem politik apa pun akan marak termasuk sistem politik berbasis khilafah. Sistem politik yang telah dibekukan di hampir seluruh negara Islam di dunia dan termasuk yang agak terakhir di Indonesia –sejak 2017–seperti tidak lelahnya untuk menawarkan ideologi mereka dalam banyak cara. Bisa dikatakan bahwa dalam setiap ada peristiwa nasional yang genting dan krisis, maka hadirlah promosi sistem ini.

Sudah barang tentu sebagai sebuah diskursus kita tidak bisa mencegahnya. Kita pun sendiri, bahkan, juga tidak akan mampu memberikan penyadaran apa pun pada mereka yang sudah memiliki keyakinan begitu dalamnya atas sistem khilafah tersebut. Jika demikian halnya, biarlah mereka seperti itu. Kita hanya perlu membentengi orang-orang awam yang tidak mendalami masalah sejarah dan politik Islam.

Pertama, wabah di dunia ini tidak hanya terjadi pada saat ini saja. Sejak zaman peradaban Islam dunia ini mulai sampai zaman kekuasaan Islam modern, wabah selalu ada. Pada masa dinasti Ummayah dan Abbasiyah pernah terjadi wabah besar. Pada masa kejayaan Kerajaan atau kekhalifahan Usmani juga pernah terjadi wabah. Wabah yang terkenal dengan istilah black death ternyata juga mempengaruhi kekuasaan baru Dinasti Usmani pada saat itu. Dari semua sistem politik yang beragam di atas tidak ada yang benar-benar kebal dari wabah karena sistem politiknya yang mereka anut.

Kedua, sistem politik apapun, jika mereka tidak mampu memproduksi obat atau vaksin atau disiplin sosial yang bisa menghalau wabah dan sistem kesehatan yang baik, maka tetap saja sistem politik tersebut dianggap tidak mampu memberikan solusi atas wabah.

Pendek kata, Covid-19 ini bukanlah masalah agama atau sistem politik tertentu. Baik memakai haluan syariah atau tidak, baik berdasar Islam atau tidak, Covid-19 pada kenyataannya adalah virus yang mematikan. Covid-19 tidak memilih agama dan sistem politik korbannya. Baik pengikut khilafah atau bukan bisa terkena jika dia tidak mentaati protokol kesehatan yang dianjurkan.

Jika ada yang menyatakan mau Covid-19, khilafahlah solusinya, maka hal ini tidak benar. Covid-19 adalah persoalan nyata, empiris, dan terkait dengan ilmu pengetahuan. Jika masalahnya empiris dan medis maka jawabanya bukan sistem politik khilafah namun sistem kesehatan dan medis yang canggih yang bisa tumbuh dalam sistem politik apapun.

Kita sudah diberi contoh oleh ulama-ulama dahulu bahwa semenjak abad 3 Hijriyah sampai zaman sekarang, para saraja Islam dalam sistem politik yang beda-beda berusaha untuk menemukan apa yang bisa mengobati wabah. Sistem politik bisa mendukung, namun yang terpenting adalah dukungan ilmu pengetahuan dan penelitiannya.

Ketiga, khilafah adalah sistem politik biasa, yang bisa mengalami kemajuan dan juga kemunduran. Khilafah bukan sistem yang sempurna. Dalam sebuah kitab berbahasa Arab yang berjudul al-Khilafah al-Islamiyyah, karangan Muhammad Said al-Asymawy, dikatakan, “al-khilafah al-Islamiyyah –idzan—laisat ruknan min al-iman wa la hukman min al-syari’ah lakinnaha juz’un min tarikh al-Islam,” jadi khilafah Islamiyah itu bukan bagian dari rukun iman dan bukan pula bagian hukum Syari’ah namun khilafah adalah bagian dari sejarah Islam. Masih menurut al-Asymawy ini mencampur adukan antara Islam dan sejarah (khilafah) adalah kesalahan fatal (khat’un fadihun).

Keempat, dalam sejarahnya, sistem khilafah sebagai sistem politik lebih banyak memproduksi pertentangan daripada perdamaian, karena khilafah tidak bisa mempersatukan. Sejarah telah memberi tahu kita bahwa dalam kurun waktu yang bersamaan, ada tiga sistem khilafat; khalifah Abbasiyah di Baghdad, Khilafah Umayyah di Andalusia dan Khilafah Bani Fatimah di Mesir.

Kelima, hal paling penting adalah ternyata sistem khilafah itu tidak berjalan secara seragam, namun berbeda-beda dari waktu ke waktu. Sejarah membuktikan kepada kita bahwa khilafah itu tumbuh berkembang lalu gagal atau mati.

Sebagai catatan di sini, sekali lagi saya ingin tekankan bahwa Covid-19 itu bukan lagi soal mencari sistem politik, namun bagaimana mencari obat dan virus atau segala macam cara yang bisa menghentikannya untuk menyelamatkan kehidupan manusia.

Terkait:

Apakah Khilafah Solusi Covid-19?

Berbuat Baik Tak Pandang Agama

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.