Selasa, Mei 18, 2021

The Battle in Seattle

Jokowi atau Prabowo, Sama-sama Tersesat

Di tengah hangatnya kampanye pemilihan presiden seperti sekarang, kita akan disuguhi banyak pameran statistik ekonomi. Para pendukung petahana Joko Widodo akan menonjolkan statistik yang menunjukkan...

Achmad Zaky, Jokowi, dan Riset untuk Publik

CEO Bukalapak, memang ngawur. Pertama, dia memakai data usang. Kedua, dia usil nyentil soal pilpres. Tapi, esensi yang dikatakannya benar: perhatian pemerintah terhadap riset...

Hagia Sophia Menjadi Masjid atau Pembangunan Kembali Bait al-Hikmah?

Jika saya disuruh memilih antara dua hal; mana peradaban masa lalu yang kita butuhkan untuk hadir bagi dunia Islam masa sekarang, antara alih status...

Apa yang Romo Magnis Salah Pahami Tentang Golput

Beberapa teman yang mengaku pendukung Jokowi dan Prabowo mengatakan akan golput pada pilihan legislatif. Mereka tidak memilih partai. Sebagian mereka mengecam keras golput sebagai pengecut...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Ilustrasi demonstrasi yang memprotes Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (WTO). www.popularresistance.org
Ilustrasi demonstran yang memprotes Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (WTO). www.popularresistance.org

Pada 30 November 1999 sekitar 40.000 orang turun di jalanan Seattle, Amerika Serikat. Inilah salah satu demonstrasi terbesar di negara itu. Dimotori terutama oleh aktivis sosial dan serikat buruh, mereka memprotes Konferensi Ting­kat Menteri World Trade Organization (WTO).

Demonstrasi yang semula damai itu berubah men­jadi kerusuhan besar. Diwarnai bentrok fisik antara polisi dan demonstran serta pembakaran dan penja­rahan toko­toko.

Peristiwa ini diabadikan dalam The Battle in Seattle (2007). Film ini antara lain dibintangi Woody Har­relson, bintang film yang juga aktivis lingkungan dan pengecam keras perdagangan bebas ala WTO.

Demonstrasi besar di Seattle itu menandai gerak­an luas “anti-­globalisasi”. Demonstrasi serupa selalu mewarnai setiap sidang WTO di mana saja sampai sekarang. Juga dalam sidang­-sidang World Econo­mic Forum, pertemuan ekonomi dunia yang dimotori perusahaan-­perusahaan multinasional untuk memu­luskan perdagangan bebas.

Istilah “anti­-globalisasi” sebenarnya kurang tepat. Para demonstran tidak menolak pentingnya kerja sama dan hubungan baik antarnegara secara global. Mereka hanya menolak format dan skema globalisasi yang dis­usutkan pengertiannya menjadi sekadar “perdagangan bebas antarnegara”.

Dalam tiga dasawarsa terakhir, Perdagangan bebas, atau free trade, memang menjadi tema besar WTO, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan World Economic Forum. Empat lembaga itu gigih mempromosikan deregulasi dan liberalisasi ekonomi. Mereka mendesak agar tiap negara menghapus aturan nasional yang menghambat baik aliran investasi mau­pun arus barang dan jasa antarnegara.

Mengapa aktivis, bahkan di negeri demokratis Barat, mengecam perdagangan bebas? Bukankah perdagang­an bebas menguntungkan negeri dan warga negara ekonomi maju seperti Amerika Serikat dan Eropa?

Pertanyaan itu makin relevan belakangan ini, ketika bermunculan banyak pakta perdagangan bebas di berbagai belahan dunia. Seakan WTO saja tak cukup, belakangan muncul Pakta Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Uni Eropa tak sekadar menyatukan perdagangan. Di ASEAN kita mengenal Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan mulai diberlakukan tahun depan.

Belum cukup itu semua, kini Amerika mempromosi­ kan Trans­-Atlantic Partnership (Amerika-­Eropa) dan Trans­-Pacific Partnership (Amerika-­Asia). Untuk yang terakhir, Presiden Joko Widodo menyatakan keinginan­nya bergabung, meski Indonesia di bawah Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah menolak.

Presiden Joko Widodo sebaiknya menonton The Battle in Seattle dan menyerap apa sebenarnya yang menakutkan dari pakta-­pakta perdagangan bebas.

Alih-­alih menciptakan kemakmuran bersama, glo­balisasi perdagangan bebas justru memperparah kemiskinan, memperluas jurang ketimpangan eko­nomi antara si kaya dan kaum miskin, mengancam umat manusia dengan kerusakan lingkungan alam yang kian parah.

Ekonom Joseph Stiglitz, pemenang Nobel dan man­tan pejabat Bank Dunia, termasuk dalam barisan pengkritik perdagangan bebas model sekarang. Format perdagangan bebas sekarang sebenarnya tidak bebas­-bebas amat, bahkan cenderung tidak adil. Stiglitz menulis buku terkenal The Globalization and Its Dis- contents, antara lain mengkritik kebijakan IMF dan Bank Dunia yang dia nilai “neoliberal” dan hanya meng­hasilkan fatamorgana.

Perdagangan bebas mensyaratkan deregulasi: tiap negara harus melucuti aturan­aturan yang memba­tasi bisnis dan investasi. Aturan yang terlalu rumit, birokratis, dan memicu korupsi memang layak dihapus. Tapi, dalam perlombaan liberalisasi ekonomi yang ber­tubi-­tubi, banyak negara justru mengorbankan aturan yang semestinya tetap ditegakkan dalam melindungi warga negara.

Deregulasi melucuti peran negara dalam melindungi rakyat: merendahkan standar perlindungan buruh, per­lindungan hak asasi manusia, perlindungan sosial, dan perlindungan lingkungan. Sebaliknya, deregulasi mem­perkuat peran perusahaan­perusahaan swasta multina­sional yang lebih mengedepankan keuntungan jangka pendek bagi dirinya.

Dalam skema perdagangan bebas, rakyat dipandang hanya konsumen, bukan warga negara. Bahkan jika mereka tetap bisa memilih dalam pemilihan umum demokratis, presiden atau perdana menteri tak bisa berbuat banyak di hadapan rezim korporasi dunia. Demokrasi sudah kehilangan esensinya.

Orang sering keliru memandang kapitalisme secara umum, atau perdagangan bebas secara khusus, berjasa mempromosikan demokrasi, meningkatkan partisipasi rakyat, mempersempit pelanggaran hak asasi, dan menghapus korupsi. The Batlle of Seattle mengingat­kan bahwa bisa jadi itu semua hanya mitos dan ilusi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.