Sabtu, Mei 8, 2021

Ojek Unicorn

Revolusi Mental

Ada tanda-tanda Revolusi Mental, salah satu janji kampanye terpenting Jokowi, akan gagal menghadapi ujian krisis yang di depan mata. Waktu satu tahun mungkin terlalu pendek...

Bom Bernama Bendungan

  Tubuh telanjang itu mengambang tak bernyawa, terdampar di teluk sebuah bendungan baru. Para tetangga desa menduga lelaki itu tewas akibat terpeleset ke air dan...

Jokowi, Amien Rais, dan Tuduhan Komunis Itu

Saya sedih sekaligus ingin ketawa mendengar tuduhan komunis dialamatkan kepada Presiden Jokowi. Sedih karena propaganda murahan dipakai untuk mengkritik presiden secara keblinger. Ketawa karena...

Sentarum dan Neraka Asap

Orang bilang, Danau Sentarum surga bumi yang diabaikan. Terletak dekat perbatasan Kalimantan-Serawak, inilah danau musiman, gentong air raksasa, yang terluas dan paling unik di...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Gambar di bawah ini banyak beredar di media sosial (saya berterima kasih kepada rekan Paksi Dewandaru yang bikin).

Pesan gambar itu jelas: memprotes kecenderungan instansi pemerintah yang cenderung cuma peduli pada sopir/tukang ojek online di musim corona.

Dampak ekonomi corona dirasakan oleh semua sektor informal. Tapi mengapa cuma ojol yang diperhatikan? Mengapa pekerja lain di sektor informal lupa dipedulikan?

Menurutku, naiknya pamor tukang ojek online tak lepas dari promosi besar-besaran unicorn (Grab, Uber, Gojek) yang merekrut mereka. Itu mencerminkan cerita sukses sebuah promosi dan iklan (baca: propaganda).

Sebelum ada unicorn/decacorn, para tukang ojek pangkalan dipandang sebelah mata. Profesi ini cenderung dilecehkan, meski mempekerjakan banyak orang yang tidak cukup beruntung bisa bekerja di sektor formal.

Dulu tukang ojek dinilai dekil, jasa transportasinya dianggap tidak aman dan tidak nyaman. Unicorn/decacorn mengubah persepsi: tukang ojek online adalah profesi keren. Mereka punya seragam yang bikin gagah dan tidak nampak dekil; setia melayani, aman dan nyaman.

Tak hanya kelas menengah belakangan tidak segan naik ojek. Bahkan banyak dari mereka juga bergabung jadi tukang ojek online, untuk menambah pengasilan sampingan.

Persepsi yang berubah itu telah meningkatkan “demand” terhadap layanan ojek online. Pada saat yang sama memperluas potensi “supply”: pekerja kantoran dan sarjana pengangguran pun tak malu masuk ke sektor informal ini, yang tadinya hanya diisi oleh pengojek pangkalan.

Lonjakan kredit mobil/motor dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan antusiasme besar orang untuk masuk ke sektor informal yang tadinya dianggap kumuh ini.

Persaingan makin ketat di sektor informal itu. Di banyak kota konflik terjadi antara ojek pangkalan yang sudah lebih dulu ada dengan ojek keren unicorn. Dan kita tahu, dalam banyak kasus, ojek unicorn lah yang menang.

Kehadiran ojek unicorn memberikan kesan semu tentang “penyerapan tenaga kerja”; citra semu yang dipromosikan tak kurang oleh Presiden Jokowi sejak awal kemunculnnya dan antara lain berjasa mengantar Nadiem Makarim duduk di kursi menteri pendidikan.

Tukang ojek online bukanlah karyawan unicorn. Mereka bekerja dengan sumberdaya sendiri: motor, tenaga, waktu dan kesehatan tubuhnya.

Tukang ojek online pada dasarnya mempekerjakan diri-sendiri. Mereka hanya bisa mendapat uang jika turun ke jalanan. Tapi, bagaimana jika mereka sakit?

Wabah corona membuka kenyataan pahit itu: unicorn/decacorn Grab dan Gojek, yang valuasi usahanya ratusan trilyun itu, tidak bertanggungjawab atas nasib “mitra” yang tidak bisa bekerja akibat sakit atau surutnya ekonomi akibat karantina.

Tukang ojek unicorn diberi citra formal dengan seragam keren, tapi mereka sejatinya tetap bekerja di sektor informal yang mengandalkan diri sendiri.

Mereka tidak beda dari pedagang kaki lima, tukang tambal ban, atau pedagang kopi keliling, meski perusahaan yang mereka hidupi punya valuasi ratusan trilyun rupiah.

Sebagian dari uang trilyunan rupiah dipakai untuk promosi mengubah persepsi tentang tukang ojek, tapi nasib mereka tidak pernah benar-benar berubah.

Kasihan, sih, mereka. Korban fatamorgana menjadi bagian keren usaha unicorn. Tapi, ada banyak pekerja lain sektor informal yang juga lebih kasihan. Tak layak untuk didiskriminasi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.