Sabtu, Mei 8, 2021

Musik Merdeka Cara Ivan Hadar

Kerajinan Tangan Gandhi

Berkunjung ke Plered, Jawa Barat, pekan lalu, saya membeli tungku dan cawan tembikar. Sebagian karena motif nostalgia. Barang keramik tradisional yang hampir punah itu...

Kisah Kuda dan Burung Gereja

  Umat manusia masih membutuhkan pengingat untuk menyemaikan keadilan dan perdamaian. Jika kita memberi kuda makanan cukup banyak, sebagian remah-remah makanan itu akan menghidupi pula burung-burung...

Jokowi atau Prabowo, Sama-sama Tersesat

Di tengah hangatnya kampanye pemilihan presiden seperti sekarang, kita akan disuguhi banyak pameran statistik ekonomi. Para pendukung petahana Joko Widodo akan menonjolkan statistik yang menunjukkan...

Pengkhianatan Kaum Intelektual

Tempo hari, alumni beberapa perguruan tinggi mendeklarasikan dukungan kepada calon presiden Jokowi. Belakangan mucul pesaing mereka mendeklarasikan dukungan pada Prabowo Subianto. Fenomena dukung-mendukung dari alumni...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

 

Anak-anak jalanan dalam Jakarta Philharmonic membawakan sebuah pentas bertajuk "Musik yang Membebaskan" di Goethe Haus, Jakarta. GeoTIMES/ Andrey Gromico
Anak-anak jalanan dalam Jakarta Philharmonic membawakan sebuah pentas bertajuk “Musik yang Membebaskan” di Goethe Haus, Jakarta. GeoTIMES/ Andrey Gromico

Pendidikan harus bisa membangun kesadaran untuk memanusiakan manusia.

Tutur katanya lembut. Tapi analisisnya tajam. Begitulah saya mengenal Ivan Hadar, seorang teman dan sosiolog, yang meninggal di Berlin, Jerman, bulan lalu. Serangan jantung menyergapnya pada usia 64 tahun.

Kabar kematiannya mengejutkan. Bagi saya, itu hampir sama mengejutkannya ketika dalam pertemuan terakhir kami, beberapa bulan lalu, dia mengajak menyelenggarakan konser musik. Saya baru tahu Ivan suka musik.

Selama ini saya hanya mengaguminya sebagai pengamat sosial yang tajam. Tulisan-tulisannya membawa sudut pandang unik tentang kemiskinan dan pembangunan. Dia pernah menjadi konsultan UNDP, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah pembangunan. Ivan juga memimpin sebuah lembaga pemberdayaan politik, Institute for Democracy Education.

Tapi, musik? Ivan ternyata juga menjadi pengurus Yayasan Philharmonic Society yang belakangan ini mempromosikan pentas The Jakarta Philharmonic Orchestra, kelompok orkestra tertua di Indonesia.

Akhir tahun lalu The Jakarta Philharmonic Orchestra menyelenggarakan pentas “Musik yang Membebaskan”. Dipimpin konduktor terkemuka Indonesia saat ini, Yudianto Hinupurwadi, pagelaran itu menawarkan sesuatu yang radikal. Orkestra dimainkan 150 anak pemulung dan penghuni kawasan kumuh pinggir Sungai Ciliwung.

Bagi Ivan, musik memang tak terlepas sama sekali dari masalah demokrasi, pembangunan dan pengentasan kaum marjinal dari lembah kemiskinan. Dalam beberapa tahun terakhir, Yayasan Philharmonic memang memberikan pendidikan musik bagi anak dan remaja masyarakat miskin. Ivan yakin, di samping memupuk empati sosial dan solidaritas, musik bisa memberikan bekal bagi anak-anak tak mampu untuk keluar dari kungkungan kemiskinan dan keterpinggiran.

“Musik bisa menanamkan rasa percaya diri untuk keluar dari stigma sebagai orang pinggiran,” kata Ivan. “Menanamkan rasa percaya diri bahwa mereka bisa, mereka mampu, dan mereka setara dengan anak-anak lain.”

Tidak mudah mengenalkan orkestra pada anak-anak yang sama sekali belum pernah memegang biola, pianika, dan perkusi. Salah satu metode penting dalam pengajaran ini adalah passion first: terlebih dulu kesukaan, semangat dan gairah bermusik, bukan keterampilan memainkan alat musik. Anak-anak itu tidak dibebani hal teknis, seperti notasi dan lainnya.

Inisiatif Ivan Hadar itu tidak orisinal. Dia terilhami José Antonio Abreu dari Venezuela, tokoh yang menggabungkan berbagai minat ke dalam dirinya: penggubah lagu, konduktor, politikus, dan ekonom sekaligus.

Pada 1975 Abreu mendirikan orkestra mini beranggotakan 12 anak muda dari kelompok termiskin di kawasan kumuh Caracas, ibu kota Venezuela. Abreu juga merintis sekolah musik El Sistema. Empat puluh tahun kemudian El Sistema bukan lagi sekadar sekolah, tapi sudah menjadi gerakan sosial besar melibatkan 300.000 anak miskin di Venezuela. Konsep ini ditiru negara-negara lain di Amerika Latin, Eropa, dan Korea Selatan.

“Pendidikan musik yang membebaskan bisa menjadi gerakan penting bagi pemberantasan kemiskinan sekaligus peningkatan kualitas pembangunan manusia sebuah bangsa,” kata Ivan.

Sekitar 25 juta orang Indonesia yang dikategorikan sebagai orang miskin absolut saat ini. Sekitar 10 juta adalah anak dan remaja usia sekolah. Sebagian dari mereka harus bekerja membantu ekonomi keluarga, sehingga tak jarang terpaksa drop-out.

Salah satu pemikiran utamanya adalah bahwa pendidikan harus bisa membangun kesadaran untuk memanusiakan manusia. Hal ini berlaku untuk semua, termasuk untuk anak-anak dari kelompok marjinal dan miskin.

Sandyawan Sumardi, pastor Katolik yang mengasuh anak-anak Komunitas Ciliwung Merdeka, mengatakan: musik bukan cuma katarsis atau pelampiasan frustrasi masyarakat miskin pinggir Sungai Ciliwung. “Musik membuat imajinasi mereka hidup dan kreatif. Musik memberi mereka alat dan semangat menjebol segala keterbatasan ruang dan fasilitas.”

Dalam pertemuan kami terakhir, Ivan mengatakan ingin mempersering konser serupa yang melibatkan anak-anak miskin. Dia juga memperluas pendidikan musiknya menjadi semacam gerakan sosial seperti El Sistema di Venezuela.

Sayang, ajal lebih dulu menjemput Ivan. Bagaimanapun, inisiatif “musik membebaskan” yang dirintisnya akan menghantui mereka yang masih hidup. Saya. Dan, kita juga. ***

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.