Sabtu, Mei 15, 2021

Malapateka 15 Januari

Mari Kembali ke Zaman Batu

Di Amerika dan Eropa, orang kembali mempertanyakan apa yang disebut modern dan maju. Mempertanyakan dampak industrialisasi dan kemajuan ekonomi pada kehidupan sehari-hari, dari gaya...

Dua Derajat Celcius

Mengunjungi pulau-pulau kecil Indonesia selalu menyenangkan. Air lautnya masih jernih. Terumbu karangnya relatif terjaga. Dan, udaranya bersih. Berkunjung ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau, pekan lalu, saya berharap...

Terorisme dan Tindakan Main Hakim Sendiri

Mari kita mulai tulisan ini dengan ucapan turut berduka cita atas kematian anggota polisi di Mako Brimob. Mereka bagaimanapun juga adalah pegawai negara yang...

Pengkhianatan Kaum Intelektual

Tempo hari, alumni beberapa perguruan tinggi mendeklarasikan dukungan kepada calon presiden Jokowi. Belakangan mucul pesaing mereka mendeklarasikan dukungan pada Prabowo Subianto. Fenomena dukung-mendukung dari alumni...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Hari ini 46 tahun lalu Jakarta membara. Mahasiswa berdemonstrasi turun ke jalan, yang berakhir menjadi kerusuhan. Kejadian sebenarnya masih menjadi kontroversi. (Mahasiswa menuduh, aparat Orde Baru lah yang menyulut kerusuhan untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa).

Tapi, apa sebenarnya yang diprotes mahasiswa dalam Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) itu? Mereka menolak investasi asing Jepang.

Kini kita bisa melihat kilas balik sambil merenung, apakah protes mahasiswa itu sahih dan beralasan.

Setelah protes diredam, Orde Baru melanjutkan program menarik investasi (asing maupun domestik) besar-besaran sampai rezim itu runtuh dalam krisis 1998.

Ketika krisis, publik (rakyat) harus berkorban membayari bailout perbankan serta obligasi rekap untuk para konglomerat. Yang miskin mensubidi yang kaya ratusan triliun rupiah; sementara negara terus mengurangi jatah anggaran untuk pendidikan serta kesehatan demi itu.

Terjebak utang dan kesulitan moneter, pemerintahan pasca-reformasi tak bisa lain kecuali makin tunduk pada kreditor dan investor. Program memikat investasi berlanjut pada masa Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan kemudian diteruskan lebih agresif pada masa Joko Widodo.

Investasi asing (khususnya Jepang) pada masa Orde Baru telah berjasa menumbuhkan ekonomi secara spektakuler sehingga Bank Dunia dan IMF sempat menjuluki Indonesia sebagai Macan Asia.

Itu membuat Orde Baru makin percaya diri untuk menindas aspirasi politik, khususnya aspirasi para korban “pembangunanisme”, yakni petani, buruh dan nelayan yang tersisih.

Kita bisa melihat bahwa investasi asing ikut membiayai kebrutalan rezim.

Jepang adalah proxy Amerika. Secara politik, besarnya investasi Jepang ikut membawa Indonesia makin akrab ke Blok Barat (kapitalis). Ini dibarengi dengan penindasan dan perburuan terhadap para aktivis kiri (sosialis). Protes para petani dan buruh yang tergusur biasa dilabel sebagai komunis untuk meredamnya.

Kita bisa melihat bahwa investasi swasta (asing maupun domestik) tak lepas dari kebijakan politik, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Bagaimana dampak investasi secara ekonomi sendiri? Krisis 1998 membuktikan betapa rapuh ekonomi kita meski ada pertumbuhan ekonomi yang mencorong. Deregulasi investasi menciptakan konglomerat baru, para kroni Soeharto dan kerabatnya, sumber korupsi kolosal di samping menciptakan jurang ketimpangan.

Tiga dasawarsa Orde Baru tidak membuat ekonomi kita jadi mandiri. Sementara pertanian rusak, kita tak beranjak jauh dalam bidang manufaktur. Janji bahwa investasi asing akan menularkan kemampuan teknologi dan manajemen cenderung cuma fatamorgana.

Bahkan sampai sekarang, kita praktis tak pernah punya kilang minyak sendiri. Mesin otomotif juga masih tergantung pada Jepang (kita salah satu pasar terbesar otomotif). Ketergantungan kita pada impor terus berlanjut hingga kini.

Investasi otomotif Jepang ikut mempengaruhi kebijakan kita dalam soal transportasi: kita cenderung mengabaikan transportasi publik massal dan memanjakan pengguna kendaraan pribadi (produk Jepang).

Kita masih mendahulukan membangun jalan tol ketimbang mengembangkan jaringan kereta api. Sementara transportasi laut masih terus keteteran sampai sekarang, itu tak hanya menciptakan kemacetan, tapi juga dahaga akan minyak yang sebagian besar masih kita impor.

Di situ kita juga bisa melihat, bahwa investasi asing ikut mempengaruhi kebijakan publik yang buruk (misalnya dalam tranportasi). Dan pada kemandirian ekonomi nasional, sampai sekarang.

Investasi asing mungkin bukan sama sekali tak ada gunanya. Tapi, sebuah studi, lihat catatan di bawah, mengungkapkan bahwa investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, terutama bagi negeri seperti kita yang kurang prasyarat untuk bisa memanfaatkan investasi demi tujuan positif.

Di samping kekayaan sumber daya alam, banyak investor asing mengincar kita hanya sebagai pasar, mengingat jumlah penduduknya yang besar. Sumberdaya manusia kita sangat lemah, bahkan kalah dari Vietnam. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita bahkan masih kalah jauh dari Srilanka atau “negara gagal” Venezuela.

Merenungkan hal itu, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa malapetaka tidak hanya terjadi ketika Jakarta terbakar pada 1974. Malapetaka ekonomi, sosial, dan politik masih menghantui kita sampai kini.

Catatan Kaki:

1. The FDI mantra is based on an economic myth

https://www.politico.eu/article/the-fdi-mantra-is-based-on-an-economic-myth/

2. Dierk Herzer, Stephan Klasen, Felicitas Nowak-Lehmann; In search of FDI-led growth in developing countries; 2006.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0264999307001356

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.