Sabtu, Mei 8, 2021

Malapateka 15 Januari

Papua Bukan Cuma Freeport

Ingat Papua, ingat Freeport. Asosiasi itu demikian kuat sehingga banyak pejabat dan masyarakat Indonesia secara umum hanya melihat problem dan prospek Papua dalam kaitan dengan...

Sendang Bunder, Kapitalisme dan Pemiskinan

Airnya sangat jernih. Merembes dari sela-sela pasir dan kerikil. Mata air itu menghidupi telaga kecil desa kami. Batu-batu alam tertata melingkarinya. Itu mengapa kami...

Nadiem Makarim, Pendidikan Dan Gojek

Teknologi itu cuma alat. Dia bisa membebaskan dan memberi solusi; tapi, dia juga bisa menjadi alat penindas serta memicu problem baru. Saya mengingat ini di...

Krisis

Dolar sudah di atas Rp 14.000. Harga minyak di atas 80 US$ per barel, diramalkan merangkak menuju 85 US$ per barel. Apakah kita sedang...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Hari ini 46 tahun lalu Jakarta membara. Mahasiswa berdemonstrasi turun ke jalan, yang berakhir menjadi kerusuhan. Kejadian sebenarnya masih menjadi kontroversi. (Mahasiswa menuduh, aparat Orde Baru lah yang menyulut kerusuhan untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa).

Tapi, apa sebenarnya yang diprotes mahasiswa dalam Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) itu? Mereka menolak investasi asing Jepang.

Kini kita bisa melihat kilas balik sambil merenung, apakah protes mahasiswa itu sahih dan beralasan.

Setelah protes diredam, Orde Baru melanjutkan program menarik investasi (asing maupun domestik) besar-besaran sampai rezim itu runtuh dalam krisis 1998.

Ketika krisis, publik (rakyat) harus berkorban membayari bailout perbankan serta obligasi rekap untuk para konglomerat. Yang miskin mensubidi yang kaya ratusan triliun rupiah; sementara negara terus mengurangi jatah anggaran untuk pendidikan serta kesehatan demi itu.

Terjebak utang dan kesulitan moneter, pemerintahan pasca-reformasi tak bisa lain kecuali makin tunduk pada kreditor dan investor. Program memikat investasi berlanjut pada masa Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan kemudian diteruskan lebih agresif pada masa Joko Widodo.

Investasi asing (khususnya Jepang) pada masa Orde Baru telah berjasa menumbuhkan ekonomi secara spektakuler sehingga Bank Dunia dan IMF sempat menjuluki Indonesia sebagai Macan Asia.

Itu membuat Orde Baru makin percaya diri untuk menindas aspirasi politik, khususnya aspirasi para korban “pembangunanisme”, yakni petani, buruh dan nelayan yang tersisih.

Kita bisa melihat bahwa investasi asing ikut membiayai kebrutalan rezim.

Jepang adalah proxy Amerika. Secara politik, besarnya investasi Jepang ikut membawa Indonesia makin akrab ke Blok Barat (kapitalis). Ini dibarengi dengan penindasan dan perburuan terhadap para aktivis kiri (sosialis). Protes para petani dan buruh yang tergusur biasa dilabel sebagai komunis untuk meredamnya.

Kita bisa melihat bahwa investasi swasta (asing maupun domestik) tak lepas dari kebijakan politik, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Bagaimana dampak investasi secara ekonomi sendiri? Krisis 1998 membuktikan betapa rapuh ekonomi kita meski ada pertumbuhan ekonomi yang mencorong. Deregulasi investasi menciptakan konglomerat baru, para kroni Soeharto dan kerabatnya, sumber korupsi kolosal di samping menciptakan jurang ketimpangan.

Tiga dasawarsa Orde Baru tidak membuat ekonomi kita jadi mandiri. Sementara pertanian rusak, kita tak beranjak jauh dalam bidang manufaktur. Janji bahwa investasi asing akan menularkan kemampuan teknologi dan manajemen cenderung cuma fatamorgana.

Bahkan sampai sekarang, kita praktis tak pernah punya kilang minyak sendiri. Mesin otomotif juga masih tergantung pada Jepang (kita salah satu pasar terbesar otomotif). Ketergantungan kita pada impor terus berlanjut hingga kini.

Investasi otomotif Jepang ikut mempengaruhi kebijakan kita dalam soal transportasi: kita cenderung mengabaikan transportasi publik massal dan memanjakan pengguna kendaraan pribadi (produk Jepang).

Kita masih mendahulukan membangun jalan tol ketimbang mengembangkan jaringan kereta api. Sementara transportasi laut masih terus keteteran sampai sekarang, itu tak hanya menciptakan kemacetan, tapi juga dahaga akan minyak yang sebagian besar masih kita impor.

Di situ kita juga bisa melihat, bahwa investasi asing ikut mempengaruhi kebijakan publik yang buruk (misalnya dalam tranportasi). Dan pada kemandirian ekonomi nasional, sampai sekarang.

Investasi asing mungkin bukan sama sekali tak ada gunanya. Tapi, sebuah studi, lihat catatan di bawah, mengungkapkan bahwa investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya, terutama bagi negeri seperti kita yang kurang prasyarat untuk bisa memanfaatkan investasi demi tujuan positif.

Di samping kekayaan sumber daya alam, banyak investor asing mengincar kita hanya sebagai pasar, mengingat jumlah penduduknya yang besar. Sumberdaya manusia kita sangat lemah, bahkan kalah dari Vietnam. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita bahkan masih kalah jauh dari Srilanka atau “negara gagal” Venezuela.

Merenungkan hal itu, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa malapetaka tidak hanya terjadi ketika Jakarta terbakar pada 1974. Malapetaka ekonomi, sosial, dan politik masih menghantui kita sampai kini.

Catatan Kaki:

1. The FDI mantra is based on an economic myth

https://www.politico.eu/article/the-fdi-mantra-is-based-on-an-economic-myth/

2. Dierk Herzer, Stephan Klasen, Felicitas Nowak-Lehmann; In search of FDI-led growth in developing countries; 2006.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0264999307001356

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.