Sabtu, Mei 8, 2021

Kota yang Fasis

Miskin Energi

Harga bahan bakar yang rendah cenderung membuat orang boros energi. Ini salah satu argumen populer untuk membenarkan pengurangan atau penghapusan subsidi energi. Subsidi bahan bakar...

Amnesia Teluk Jakarta

Baik pendukung Basuki Tjahaya Purnama maupun Anies Baswedan lupa, atau mungkin tidak paham, bahwa Reklamasi Teluk Jakarta adalah proyek nasional pemerintah pusat. Dalam konteks...

Jokowi, Obama dan Sektor Ketiga

Jika khawatir dengan dominasi parlemen, Presiden Joko Widodo sebenarnya bisa mengadopsi cara Presiden Barack Obama ketika bergulat melawan Kongres di Amerika: menghadirkan pihak ketiga. Kampanye...

Merawat Sungai

Di lereng Pegunungan Dieng, tak jauh dari rumah kami, ada sebuah mata air terkenal: Tuk Bima Lukar. Ini mata air purba yang legenda­nya masih...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Warga terjebak macet di Jalan Medan Merdeka Timur usai merayakan malam pergantian tahun baru 2014, Jakarta, Rabu (1/1). Kemacetan usai perayaan tahun baru kerap terjadi karena membludaknya pengunjung ditambah dengan sistem parkir kendaraan yang semrawut. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/nz/14.
Warga terjebak macet di Jalan Medan Merdeka Timur usai merayakan malam pergantian tahun baru 2014, Jakarta, Rabu (1/1/2015). Kemacetan usai perayaan tahun baru kerap terjadi karena membludaknya pengunjung ditambah dengan sistem parkir kendaraan yang semrawut. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/nz/14.

Empat tahun lalu Andre Vltcek menulis artikel menyengat tentang Jakarta: “The Perfect Fascist City”. Jurnalis yang pernah meliput banyak konflik di dunia dan pernah tinggal di Indonesia ini menyebut Jakarta sangat tidak ramah, terutama bagi mereka yang miskin dan kurang mampu. Diskriminatif.

“Ketololan perencanaan kota Jakarta hanya bisa ditandingi oleh idiotnya pembangunan negeri secara secara menyeluruh,” tulis Vltcek. “Jakarta adalah miniatur (Indonesia).”

Kuping kita bisa panas mendengar penilaian bule “kurang ajar” ini. Namun, kita layak menelan sebagian kritiknya.

Larangan sepeda motor masuk ke semua jalan protokol Jakarta, seperti direncanakan, akan menambah daftar fasisme itu. Mengapa tidak sekalian mobil dilarang, menjadikan kawasan pusat Jakarta sepenuhnya pedestrian?

Larangan itu merupakan bagian dari rencana pemerintah Jakarta menerapkan “pajak kemacetan” bagi mobil pribadi di kawasan tertentu melalui electronic road pricing (ERP). Jakarta akan meniru Singapura yang telah lama menerapkan sistem ini.

Tidak keliru bermimpi seperti Singapura. Namun, sejumlah prasyarat tak mudah dan belum dipenuhi pemerintah. Sistem transportasi publik Singapura sangat bagus, mudah, nyaman, dan aman. Kesenjangan warga kaya dan kaum miskin tidak separah Jakarta.

Bahkan, di Singapura sistem itu hanya mengurangi kemacetan di kawasan tertentu, mengalihkannya ke tempat lain. Sementara itu jumlah mobil pribadi terus naik. Film Money No Enough bikinan sutradara lokal menyuguhkan parodi: seluruh Singapura menjadi kawasan ERP, kemacetan total di seluruh negeri kota itu!

Lebih dari itu, konsep ERP adalah bentuk diskriminasi ruang publik yang akan mempertajam pemisahan atau segregasi sosial. Di Singapura hal itu tak terlalu menjadi soal, tapi di Jakarta yang timpang dampaknya bisa lebih parah.

Soal utamanya adalah pesatnya laju pertumbuhan mobil. Dan bertambah parah ketika jumlah sepeda motor juga naik drastis.

Pada dasarnya negara atau pemerintah bisa melarang apa pun, termasuk melarang warga punya motor dan mobil. Jika takut melanggar hak asasi, larangan itu bisa dalam bentuk pajak yang tidak masuk akal tingginya, seperti diterapkan negara-negara Eropa.

Pemerintah Jakarta bukan tak mengupayakan perbaikan. Namun, solusinya sejauh ini bersifat parsial dan permukaan. Bukan komprehensif, mencoba menjawab akar masalah.

Jakarta dihadapkan pada dua tantangan sekaligus: membatasi jumlah kendaraan pribadi sekaligus mewujudkan sistem transportasi publik kereta yang cepat dan massal.

Andre Vltcek, yang menyoroti luar biasa buruk dan fasis kereta metropolitan Jakarta, mungkin harus mengoreksi penilaiannya. Layanan kereta Jakarta kini sudah lebih tertib dan nyaman dibandingkan beberapa tahun lalu, ketika saya masih biasa naik bahkan di atapnya.

Namun, cakupan layanan dan keterkaitan kereta dengan jenis angkutan lain tetap masih buruk. Itu sebabnya saya masih lebih suka naik sepeda motor. Praktis, mudah, dan hemat energi.

Jalur kereta massal-cepat (MRT) juga sedang dibangun. Namun, hal itu terlihat masih parsial. Sama parsialnya dengan konsep busway yang akhirnya hanya makin memecah-mecah transportasi kota ketimbang memadukannya. Busway tak mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.

Sistem transportasi adalah bagian dari kebijakan publik, melibatkan gubernur dan parlemen hasil pemilihan umum. Salah arah kebijakan publik yang berlangsung lama membutuhkan energi besar untuk mengoreksinya, bahkan jika ada semangat mengoreksi.

Sayang, semangat koreksi itu tidak terlalu kuat. Rencana lain memperbanyak jalan tol dalam kota menunjukkan betapa kurang serius Jakarta membangun sistem transportasi publik massal. Tak hanya memacu pertumbuhan mobil pribadi, jalan tol mengaburkan fokus serta memecah sumber daya pemerintah dalam memperbaiki transportasi secara sistemik.

Kebijakan publik yang salah arah, diskriminatif, dan fasistik semestinya dikoreksi. Tak hanya dalam hal transportasi, tapi juga dalam jaringan air minum, sanitasi, taman kota, pedestrian, dan layanan kesehatan dasar.

Andre Vltcek mungkin berlebihan ketika mengatakan, “Jakarta adalah kota yang dibangun melawan rakyatnya, tempat sebagian warga kehilangan kendali atas masa depan kotanya.”

Namun, jika kebijakan publik layanan dasar sulit dikoreksi, dan warga kota direduksi sekadar jadi konsumen, kita patut bertanya: apa guna politik dan pemilihan umum?

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.