Sabtu, Mei 8, 2021

Keadilan Untuk Papua, Untuk Kita Semua

Mari Kembali ke Zaman Batu

Di Amerika dan Eropa, orang kembali mempertanyakan apa yang disebut modern dan maju. Mempertanyakan dampak industrialisasi dan kemajuan ekonomi pada kehidupan sehari-hari, dari gaya...

Jangkrik, Pak Jokowi, bukan Sapi!

Jika tumbuh dewasa di pedesaan tak jauh dari hutan jati, ada kemungkinan Anda pernah makan sate belalang. Di desa-desa Jawa, belalang dan jangkrik memang...

Ojek Unicorn

Gambar di bawah ini banyak beredar di media sosial (saya berterima kasih kepada rekan Paksi Dewandaru yang bikin). Pesan gambar itu jelas: memprotes kecenderungan instansi...

Teror

Syahdan, kapal bajak laut ditangkap tentara Yunani dan awaknya dihadapkan pada Aleksander Agung. Sang Kaisar bertanya mengapa mereka menjarah harta kekaisaran dan orang lain. Bajak...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Pada 28 Juni 1914, sebuah pembunuhan di Sarajevo telah memicu rangkaian peristiwa yang bermuara pada Perang Dunia I. Pada 1992, saya berdiri di tempat bersejarah pembunuhan itu, di tengah kecamuk perang saudara Bosnia. Satu hal yang saya pelajari: perang kata, label, cap (etnis, agama, ideologi) hanya membutuhkan sedikit picu untuk menjadi malapetaka besar. Semoga negeri kita dihindarkan dari malapetaka seperti itu.

Harapan saya bisa jadi getir. Melihat apa yang terjadi di Papua sekarang sebenarnya sudah seperti perang saudara. Kita harus bersimpati kepada semua korban, baik itu di kalangan pendatang maupun orang Papua asli. Saya takut untuk membayangkan Sarajevo, tapi saya punya keyakinan, modal sosial kita lebih baik.

Beberapa teman wartawan yang bertugas di Papua mengkonfirmasi bahwa memang ada banyak orang pendatang (Minang, Bugis) tewas di Wamena. Sebagian terbakar di rumah/restoran mereka.

Siapa pelakunya? Apakah penduduk asli? Apakah OPM?

Di sinilah kita harus berhati-hati. Jangan juga terlalu mudah menyudutkan penduduk asli. Korban di kalangan orang Papua tidak kalah jauh, dan sudah berlangsung lama, menahun.

Bagaimana konflik baru ini meledak? Jawabannya tidak mudah.

Dari pengalaman saya meliput konflik (dari Bosnia hingga Aceh), kita harus seksama menelisik semua informasi yang kita terima.

Ada adagium populer di kalangan wartawan: “korban pertama dari perang adalah KEBENARAN”.

Tidak semua informasi di media sosial bisa kita terima mentah. Bahkan berita dari media mainstream tidak selalu benar. Apalagi dalam situasi perang.

Perang membutuhkan propaganda, dari sisi manapun. Tapi, yang mengendalikan informasi lah yang memenangkan propaganda.

Saya sudah risau sejak awal ketika Jakarta mengirimkan tentara/polisi dalam jumlah sangat banyak. Jakarta melihat ini sebagai perang. Banyak orang non-Papua mengelu-elukan tentara yang dikirim ke Papua sebagai calon pahlawan, membunuh atau dibunuh.

Jakarta memberi sinyal keliru bahwa pemerintah sedang memerangi, bukan membujuk dan menenangkan, saudara sebangsa.

Pemerintah (TNI/Polri) juga memblokir internet di sana untuk memastikan informasi resmi pemerintah saja yang bisa beredar. Pemerintah membatasi akses wartawan.

Jika kita benar-benar ingin KEBENARAN di Papua, kita harus menuntut pemerintah untuk membuka akses informasi seluas-luasnya di Papua, termasuk mengundang wartawan dan pemantau internasional.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.