Jumat, April 23, 2021

Keadilan Untuk Papua, Untuk Kita Semua

Teror

Syahdan, kapal bajak laut ditangkap tentara Yunani dan awaknya dihadapkan pada Aleksander Agung. Sang Kaisar bertanya mengapa mereka menjarah harta kekaisaran dan orang lain. Bajak...

Resep Hijau, Obat tanpa Efek Samping

Laughter is the best medicine. Kita sudah sering mendengar pepatah lama itu. Ketawa adalah obat terbaik. Tidak sekadar pepatah. Banyak penelitian ilmiah mendukung pernyataan...

What a Wonderful World

  Umat manusia masih membutuhkan pengingat untuk menyemaikan keadilan dan perdamaian. Dimulai denting piano akustik yang dimainkan seorang anak lelaki di sebuah rumah di Prancis. Lalu...

Membunuh Obamacare

Sebuah undang-undang baru Amerika, yang lolos di majelis rendah (House of Representatives) bulan ini, mengakhiri undang-undang kesehatan lama di era Presiden Barack Obama. Kematian...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Pada 28 Juni 1914, sebuah pembunuhan di Sarajevo telah memicu rangkaian peristiwa yang bermuara pada Perang Dunia I. Pada 1992, saya berdiri di tempat bersejarah pembunuhan itu, di tengah kecamuk perang saudara Bosnia. Satu hal yang saya pelajari: perang kata, label, cap (etnis, agama, ideologi) hanya membutuhkan sedikit picu untuk menjadi malapetaka besar. Semoga negeri kita dihindarkan dari malapetaka seperti itu.

Harapan saya bisa jadi getir. Melihat apa yang terjadi di Papua sekarang sebenarnya sudah seperti perang saudara. Kita harus bersimpati kepada semua korban, baik itu di kalangan pendatang maupun orang Papua asli. Saya takut untuk membayangkan Sarajevo, tapi saya punya keyakinan, modal sosial kita lebih baik.

Beberapa teman wartawan yang bertugas di Papua mengkonfirmasi bahwa memang ada banyak orang pendatang (Minang, Bugis) tewas di Wamena. Sebagian terbakar di rumah/restoran mereka.

Siapa pelakunya? Apakah penduduk asli? Apakah OPM?

Di sinilah kita harus berhati-hati. Jangan juga terlalu mudah menyudutkan penduduk asli. Korban di kalangan orang Papua tidak kalah jauh, dan sudah berlangsung lama, menahun.

Bagaimana konflik baru ini meledak? Jawabannya tidak mudah.

Dari pengalaman saya meliput konflik (dari Bosnia hingga Aceh), kita harus seksama menelisik semua informasi yang kita terima.

Ada adagium populer di kalangan wartawan: “korban pertama dari perang adalah KEBENARAN”.

Tidak semua informasi di media sosial bisa kita terima mentah. Bahkan berita dari media mainstream tidak selalu benar. Apalagi dalam situasi perang.

Perang membutuhkan propaganda, dari sisi manapun. Tapi, yang mengendalikan informasi lah yang memenangkan propaganda.

Saya sudah risau sejak awal ketika Jakarta mengirimkan tentara/polisi dalam jumlah sangat banyak. Jakarta melihat ini sebagai perang. Banyak orang non-Papua mengelu-elukan tentara yang dikirim ke Papua sebagai calon pahlawan, membunuh atau dibunuh.

Jakarta memberi sinyal keliru bahwa pemerintah sedang memerangi, bukan membujuk dan menenangkan, saudara sebangsa.

Pemerintah (TNI/Polri) juga memblokir internet di sana untuk memastikan informasi resmi pemerintah saja yang bisa beredar. Pemerintah membatasi akses wartawan.

Jika kita benar-benar ingin KEBENARAN di Papua, kita harus menuntut pemerintah untuk membuka akses informasi seluas-luasnya di Papua, termasuk mengundang wartawan dan pemantau internasional.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.