Senin, Mei 17, 2021

Golkarisasi Jokowi dan Ironi Reformasi

Tidak Usah Kaget dengan Polisi Virtual

Inisiatif polisi virtual oleh Kepolisian Republik Indonesia menuai kegaduhan. Publik merasa aktivitas mereka dibatasi. Lebih jauh, mereka merasa semakin takut untuk beropini. Walau pihak...

Kuliah El Loco, Keluhan Mou

Seseorang dalam pakaian kamuflase, dengan tang pemotong kawat dan teropong, ditangkap polisi saat mencoba bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari tempat latihan tim...

Natal dan Spirit Kemuliaan

Natal adalah ritus keagamaan yang hendak memuliakan Yesus Kritus yang telah berjasa mengantarkan umat Kristiani ke jalan kehidupan yang penuh kasih dan damai. Kemuliaan...

Pendidikan Anti-Korupsi di Persimpangan Jalan

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mendampingi anak-anak sekolah bermain dalam peluncuran Playday Boardgames Anti Korupsi di KPK, Jakarta, Jumat (15/4). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Di...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Menyusul PROJO (Pro-Jokowi) kini ada GOJO (Golkar-Jokowi) yang akan ikut meramaikan tahun politik 2019.

Pada 2019, persaingan ketat tak hanya memperebutkan kursi presiden tapi juga wakil presiden. Diperkuat oleh konsultan politik Denny JA, GOJO adalah kendaraan Airlangga Hartarto untuk merebut kursi wakil presiden. Atau setidaknya untuk melestarikan kursi menterinya sekarang.

Airlangga tidak sendirian. Beberapa ketua umum partai lain juga ngarep: Muhaimin Iskandar (PKB), Muhammad Romahurmuziy (PPP), Hary Tanoesoedibjo (Perindo).

Tapi, Airlangga Hartarto sedikit di atas angin. Menyalahi janjinya, Presiden Joko Widodo membiarkan Airlangga merangkap jabatan menteri dan ketua partai.

Ini memperlihatkan kian menguatnya pengaruh Partai Golkar dalam Pemerintahan Joko Widodo. Padahal, Partai Golkar adalah pendukung Prabowo Subianto, musuh Jokowi pada pemilihan presiden 2014. Bahkan sebelum Airlangga masuk kabinet, pengaruh Golkar dalam Pemerintahan Jokowi sudah cukup besar, lewat Jusuf Kalla dan Luhut Pandjaitan (The Super Minister).

Lebih dari itu, warna Golkar dalam Pemerintahan Joko Widodo diperkuat oleh dukungan politisi eks-Golkar yang kini berpartai lain: Wiranto dan Surya Paloh, pendiri Partai Hanura dan Partai Nasdem. Pada 2004, Wiranto dan Surya Paloh ikut dalam Konvensi Partai Golkar, bersaing dengan Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.

Dalam lima tahun terakhir, kita melihat prestasi luar biasa Partai Golkar: dari oposisi menjadi pilar terkuat Pemerintahan Jokowi.

Dengan sepintas melihat komposisi kabinet, kita bisa melihat Golkar lebih kuat pengaruhnya pada kebijakan publik Joko Widodo dibanding PDI Perjuangan, partai utama pendukung Jokowi pada 2014.

Elemen pendukung Jokowi di luar partai, seperti PROJO, tidak tampak punya gigi. Pada 2019, PROJO mendapat saingan yang kemungkinan lebih powerfull: GOJO di bawah Airlangga Hartarto.

Pengaruh Golkar kian besar di sekeliling Joko Widodo, dan kemungkinan besar akan semakin membesar.

Di seberang itu, Prabowo Subianto juga politisi yang besar dalam tradisi Golkar, meski kini punya partai baru, Partai Gerindra.

Walhasil, pertarungan 2019 adalah pertarungan Golkar vs Golkar. Apa pun hasilnya, pemenangnya adalah Golkar. Ironi terbesar 20 tahun reformasi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.