OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Dua Derajat Celcius

What a Wonderful World

Jangkrik, Pak Jokowi, bukan Sapi!

Malborough dan Malaria

Tony Blair Inc

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Nelayan teri ekspor beraktivitas usai melaut di Pantai Jumiang Pamekasan, Rabu (7/10). Dalam satu bulan terakhir nelayan di daerah itu mengaku pendapatannya turun drastis bahkan kerap merugi seiring minimnya tangkapan karena tingginya suhu permukaan perairan Madura. ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Nelayan teri ekspor beraktivitas usai melaut di Pantai Jumiang Pamekasan, Rabu (7/10). Dalam satu bulan terakhir nelayan di daerah itu mengaku pendapatannya turun drastis bahkan kerap merugi seiring minimnya tangkapan karena tingginya suhu permukaan perairan Madura. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Mengunjungi pulau-pulau kecil Indonesia selalu menyenangkan. Air lautnya masih jernih. Terumbu karangnya relatif terjaga. Dan, udaranya bersih.

Berkunjung ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau, pekan lalu, saya berharap bisa menikmati langitnya yang biru di siang terik seperti lima tahun lalu. Juga warna jingga cemerlang ketika matahari tenggelam, pemandangan khas di pulau-pulau kecil Indonesia yang terkepung laut. Tapi, saya kecewa.

Pulau kecil di Laut China Selatan itu kini memang tampak lebih hidup. Bandar udara diperluas. Jalan aspal mulus hampir mengelilingi pulau. Tapi, langit cerahnya hilang. Kepulauan Riau dikepung asap kiriman baik dari Sumatera maupun Kalimantan.

Asap memang kemudian menipis setelah sempat agak tebal dan menghentikan beroperasinya bandara. Namun, asap dan kebakaran hutan mungkin akan meninggalkan jejak permanen bagi Natuna dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Bahkan bagi pulau-pulau kecil lain Indonesia yang jauh dari Sumatera dan Kalimantan.

Keberadaan pulau-pulau kecil terancam oleh naiknya suhu bumi, fenomena pemanasan global yang banyak dibicarakan. Bumi yang makin panas mencairkan lapisan es kutub. Permukaan laut akan meninggi, mengancam menenggelamkan pulau-pulau. Bencana alam badai, tornado, dan gelombang pasang juga lebih sering muncul.

Pada 2010 masyarakat internasional bersepakat untuk mengerem laju kenaikan suhu bumi, tidak lebih dari dua derajat Celsius hingga akhir abad ini. Tapi, studi terbaru menunjukkan target itu terlalu longgar. Kenaikan suhu sebesar itu saja sudah akan membuat beberapa negara kepulauan hilang dari peta.

Lebih buruk: dengan tren seperti sekarang, emisi gas karbon penyebab pemanasan global hampir pasti akan menaikkan suhu bumi lebih dari dua derajat.

Emisi gas karbon dipicu oleh pemakaian bahan bakar fosil dalam aktivitas industri dan transportasi. Itu sebabnya, 20 negara kepulauan yang tergabung dalam Climate Vulnerable Forum menuntut agar target tersebut diperketat menjadi satu setengah derajat saja. Kenaikan suhu sebesar itu hanya akan menaikkan permukaan laut setinggi satu meter. Banyak pulau masih akan selamat.

Negeri-negeri itu di Pasifik dan Karibia itu lantang menuntut agar negara-negara industri maju di Eropa, Amerika, dan Jepang lebih rela berkorban untuk beralih ke industri ramah lingkungan dan energi terbarukan seperti surya dan angin.

Negeri-negeri rentan iklim itu dipimpin Filipina! Indonesia bukan anggota. Sebagai negeri kepulau- an terbesar di dunia, Indonesia juga tidak tergabung baik dalam Small Islands Developing States mau- pun Aliansi Negara Berpulau Kecil (AOSIS).

Kita mungkin terlalu sombong. Atau tidak peduli. Tak hanya memandang sebelah mata kerja sama internasional penyelamatan pulau kecil, kita tidak pintar merawat hutan. Kebakaran hutan meningkatkan emisi karbon sekaligus mengurangi luas hijau pepohonan yang menyerap karbon.

Peningkatan suhu sebesar dua derajat memang tidak akan membuat Indonesia hilang dari peta. Tapi, wilayahnya akan menyusut. Indonesia memiliki sekitar 13.000 pulau kecil. Sekitar 90 di antaranya merupakan pulau terluar, yang menentukan luas wilayah kedaulatan negeri kita.

Melalui Deklarasi Juanda 60 tahun lalu, Indonesia memproklamasikan sebagai negeri kepulauan (archipelagic state). Berkat deklarasi ini, Indonesia sukses memperjuangkan wilayah kedaulatan sejauh 12 mil dari pulau terluar. Sebelumnya hanya 3 mil, yang membuat wilayah Indonesia terpecah-pecah. Indonesia juga berhak atas zona ekonomi eksklusif hingga sejauh 200 mil dari pulau terdepan.

Pemanasan global tak hanya potensial menyusutkan luas wilayah eksplorasi sumber daya alam kelautan dan tangkapan ikan. Indonesia bisa kehilangan ribuan pulau berpenghuni yang potensial memicu keresahan ekonomi dan sosial.

Kota-kota pesisir di pulau besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Semarang juga akan terkena akibatnya. Dampak sosialnya tak bisa disepelekan. Sekitar 160 juta penduduk Indonesia bermukim dan mencari pengidupan di kawasan pesisir.

Dampak ekonominya juga tak bisa diabaikan. Jika pemukaan laut naik, pemerintah Indonesia harus membongkar dan membangun kembali banyak proyek infrastruktur pantai, mengingat kita merupa- kan negeri dengan garis pantai terpanjang di dunia di kawasan tropis.

Di Natuna, pekan lalu, saya merenung: betapa serius konsekuensi dari kebijakan publik gelap mata yang terlalu silau pada pertumbuhan ekonomi seraya mengabaikan kelestarian alam.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.