Jumat, Juni 21, 2024

Belajar dari Suksesi Kepemimpinan Singapura

Dedi Arman
Dedi Arman
Peneliti Pusat Riset Kewilayahan- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Lawrence Wong (52) dilantik menjadi Perdana Menteri Singapura tanggal 15 Mei 2024 lalu mengantikan Lee Hsien Loong. Ini menjadi transisi ketiga kepala pemerintahan dalam sejarah negara Singapura. Pertama dari Lee Kuan Yew ke Goh Chok Tong tahun 1990 dan kedua dari Goh ke Lee tahun 2004.

Lee yang berusia kini berusia 72 tahun menilai sekarang saat yang tepat estafet kepemimpinan Singapura kepada generasi lebih muda.  Suksesi kepemimpinan di negara jiran Indonesia itu berjalan secara smooth dan soft. Tidak ada gembar gembor di media massa, termasuk nyaris tidak ada pro kontra masyarakat Singapura.

Meski Indonesia dan Singapura memiliki sistem pemerintahan yang berbeda, namun menarik mengkaji kebijakan Singapura menyiapkan calon pemimpin negaranya. Berbeda dengan Indonesia yang aroma politik dinasti makin kental, Singapura menjauh dari isu yang populer ini. Lee tidak menunjuk putra-putrinya, tidak menunjuk saudaranya sebagai pewaris. Lee memilih tokoh berprestasi dan sudah teruji sebagai PM Singapura keempat dalam sejarah.

Pengkaderan yang Teruji

Bagi warga Singapura, kehidupan politik di negaranya tidak menarik karena ada tidak sesuatu yang mengejutkan. Mereka memandang siapapun pemimpinnya sama saja karena semuanya dikontrol oleh sistem pemerintahan yang telah berjalan baik. Calon pemimpin di Singapura sudah disiapkan sejak lama. Diuji dengan menduduki dengan memegang posisi vital dalam bidang pemerintahan.

Waktu dan tantangan yang akan menguji ketokohan calon pemempin ini dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Polanya mirip perusahaan swasta yang melakukan penilaian yang terukur kepada calon pemimpin dalam perusahaan tersebut.

PM Lee sejak lama diisukan akan mundur. Pandemi Covid-19 menundanya pensiun lebih dini. Heng Swee Keat yang menjabat Wakil PM kandidat terkuat sebagai penganti. Namun, tahun 2021 Heng mundur sebagai calon PM Singapura dengan alasan usia. Alasannya, Singapura membutuhkan pemimpin yang bisa membangun Singapura lebih cepat pasca corona.

Tidak hanya membangun Singapura pasca Covid-19 tetapi juga memimpin fase berikutnya pembangunan Singapura. Penganti Heng adalah Lawrence Wong. Ia menjadi amat populer di Singapura karena dianggap sukses dalam tim gugus tugas penanganan Covid-19. Sebagai Menteri keuangan, ia juga dinilai berhasil mengembalikan perekonomian Singapura pasca Covid-19.

Jauh sebelum memegang sejumlah posisi penting dalam pemerintahan Singapura, Wong memulai karir dari pegawai negeri sipil. Berbagai jabatan pernah dipegang dan ia memulai pengabdian lebih besar masuk partai politik bergabung di Partai Aksi Rakyat (PAP), partai penguasa Singapura sejak tahun 1965.

Ia melesat ke puncuk pimpinan PAP dan menjadi Wakil PM Singapura setelah melalui proses pengkaderan yang Panjang. Berbagai jabatan sipil hingga jabatan di partai pernah dijabatnya. Wong masuk lingkaran elit dunia pemerintahan dan politik Singapura bukan karena ‘jalur orang dalam’ atau karena memiliki hubungan keluarga dengan pemimpin Singapura.

Singapura menerapkan  kebijakan karir kepegawaian pegawai negeri sipil yang berjalan dengan baik. Pembinaan karir yang bagus melahirkan tokoh seperti Lawrence Wong.  Singapura sudah menerapkan meritokrasi yang menjadi pondasi awal bahkan ideologi yang dikultuskan untuk menempatkan orang terbaik dan tercerdas di posisi puncak dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara. Meritokrasi telah menjadi jati diri bangsa di Singapura dan telah menjadi ideologi. Singapura berhasil mengubah mentalitas pegawai negeri  warisan kolonial yang antipati terhadap pencapaian tujuan pembangunan di Singapura. (Seno, 2022).

Singapura negara yang memiliki banyak kisah sukses. Meski wilayahnya kecil tidak jauh beda dengan Kota Batam, Singapura menjadi negara besar dan berpengaruh tidak hanya di kawasan regional, tetapi juga global. Merdeka tahun 1965, hanya dalam beberapa dekade, Singapura melesat menjadi negara maju dan disegani oleh negara-negara lain. Dalam berbagai indeks yang dirilis oleh lembaga-lembaga dunia, Singapura selalu dalam posisi yang tinggi. Singapura ‘Naga Kecil Asia’  dengan sumber daya yang terbatas dapat menciptakan keuntungan ekonomi dan memiliki pengaruh yang luas  melampaui wilayahnya. Pendek kata, Singapura contoh nyata kepada dunia, sebuah negara kecil yang sangat sukses mengelola negara dan pemerintahannya (Naisbitt, 1994).

Kesuksesan Singapura dalam pengelolaan negara dan pemerintahan sangat ditentukan oleh pola kepemimpinan negara itu. Meski banyak yang mencela Singapura sebagai negara yang otoriter, tidak demokratis, anti kritik, tidak ada kebebasan media, Singapura tetap menjadi contoh. Stabilitas telah lama menjadi salah satu kekuatan utama Singapura dan menjadikannya surga bagi investor. Pergolakan politik jarang terjadi di Singapura. Bandingkan dengan negara tetangganya, seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang rawan stabilitas ekonomi dan politik.  Nahkoda kepemimpinan Singapura dibawah perdana menteri dari partai penguasa, PAP mampu menjadikan stabilitas politik dan ekonomi Singapura berjalan baik.

Korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang identik yang identik dengan negara yang otoriter, menjadi musuh bersama di Singapura. Malah, negara demokrasi seperti Indonesia yang bangkit melalui era Reformasi 1998, praktik KKN-nya yang makin merajalela. Meritokrasi dalam jenjang karir aparatur sipil negara (ASN) di Indonesia masih isapan jempol belaka.

Open biding alias lelang jabatan abal-abal, sekedar persyaratan administrasi. Jabatan karir ASN dipengaruhi faktor politik. Partai tidak melakukan pengkaderan secara baik karena siapa saja bisa menjadi calon anggota legislatif atau kepala daerah. Hal terpenting memiliki amunisi keuangan dan akses ke penguasa partai. Kondisi seperti ini melahirkan pemimpin karbitan. Pemimpin yang lahir karena privilege atau hak istimewa, bukan karena prestasi. Saatnya belajar ke Singapura.

Dedi Arman
Dedi Arman
Peneliti Pusat Riset Kewilayahan- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.