Jumat, April 19, 2024

Taman Bawah Tanah Pertama di Dunia

Taman ini diharapkan menjadi tempat berkumpul masyarakat umum/LOWLINE/RAAD STUDIO
Taman ini diharapkan menjadi tempat berkumpul masyarakat umum/LOWLINE/RAAD STUDIO

Memanfaatkan bekas stasiun bawah tanah di Manhattan.

Lembaga nirlaba Lowline dan Raad Studio, biro arsitektur berbasis di New York, Amerika Serikat, sedang menggalang dana di situs Kickstarter untuk mendukung pendanaan proyek pembangunan taman di stasiun bawah tanah.

Tempatnya adalah sebuah lokasi bekas stasiun kereta listrik di kawasan Timur Bawah Manhattan. Tepatnya di bawah Jalan Delancey, dekat Jembatan Manhattan yang kesohor itu.

Stasiun ini dibuka pada 1908, namun ditutup pada 1948, karena layanan kereta listrik dihentikan. Sejak saat itu stasiun seluas 4 ribu meter persegi ini dibiarkan mangkrak.

James Ramsey, pendiri sekaligus Direktur Raad Studi, menemukan tempat ini pada 2009. Sejak saat itu ia berusaha mewujudkan taman di bawah tanah ini.

“Meski terbengkalai selama 6 dekade, masih banyak tempat yang menakjubkan di sini. Seperti bekas batuan jalan, rel kereta yang melintang, dan atap berbentuk kubah,” ujar Ramsey.

“Bangunan bersejarah ini berada di lokasi yang padat dan tidak hijau. Karena itu, ada kesempatan untuk membuatnya menjadi hijau, dan menjadi tempat umum.”

Proyek ini akan menjadi taman pertama yang berada di bawah tanah. Nantinya taman ini akan difungsikan sebagai taman umum yang akan diisi banyak tanaman, kursi dan meja, hingga pemajangan karya seni.

“Visi kami adalah membuat taman bawah tanah yang menakjubkan. Bisa menghadirkan tempat tetirah sekaligus atraksi budaya di salah satu kawasan urban paling padat di dunia,” kata juru bicara organisasi Lowline, lembaga yang didirikan James Ramsey dan Daniel Barasch.

Target penggalangan dana sekitar US$ 200 ribu. Penggalangan akan diakhiri pada 8 Juli. Dana yang terkumpul akan dipakai untuk membiayai pengembangan perihal teknis, sekaligus untuk membangun laboratorium yang akan dibuka untuk umum pada musim gugur tahun ini. Hingga saat ini sudah ada 3.300 penyumbang, dengan dana terkumpul mencapai US$ 155.186.

“Ini tantangan tersendiri, karena ini proyek desain untuk kalangan umum,” kata Barasch.

Lowline didukung banyak pesohor. Mulai dari pendiri situs Craiglist, Craig Newmark, hingga artis Hollywood seperti Lena Dunham dan Adrian Grenier.

Meski begitu, tak urung muncul banyak pertanyaan. Misalnya, bagaimana pencahayaan taman dan bagaimana sumber energinya.

Nyatanya masalah teknis seperti itu telah dipikirkan jauh-jauh hari. Untuk membawa cahaya alami dari atas taman, sang desainer James Ramsey telah membuat sistem pantulan pencahayaan berbasis panel tenaga surya. Alat pemantul cahaya ini akan ditempatkan di sekeliling taman dan atap.

Panel tenaga surya ini akan mengalirkan cahaya melalui kabel fiber optik. Kabel ini akan terhubung dengan panel berbentuk kubah, yang akan mendistribusikan cahaya alami ke seluruh taman.

“Teknologi ini akan mengalirkan cahaya matahari yang dibutuhkan, bisa untuk fotosintesis, menumbuhkan pohon dan tanaman,” kata juru bicara Lowline. “Selama hari masih terang, kami tidak memerlukan listrik untuk menerangi taman. Pada malam hari, cahaya buatan yang akan menerangi taman.”

Persiapan pembangunan taman ini telah dimulai sejak 2012. Saat itu mulai dilakukan studi kelayakan dan uji coba pembangunan. Pada September 2012 tim Lowline membangun prototipe taman ini dalam skala penuh, dan dipamerkan untuk umum.

Saat ini tim Lowline mengadakan pembicaraan dengan birokrat dari kantor pemerintahan dan Metropolitan Transit Authority, lembaga negara yang mengurusi stasiun dan stasiun transit.

Selain dari Kickstarter, dana juga diharapkan datang dari sponsor swasta dan pemerintah. Pada akhir 2017 diharapkan dana yang terkumpul mencapai US$ 60 juta. Jika semua sesuai rencana, taman bawah tanah pertama di dunia ini akan dibuka pada 2018.

Desain taman ini masih dalam tahap pengembangan. Untuk membantu pembangunan, Lowline dan Raad Studio bekerja sama dengan Signe Nielsen, Kepala Biro Arsitektur Mathews Nielsen, untuk membangun skema taman.

“Taman ini akan banyak tumbuhan rambat, berbagai jenis kaktus, dan tumbuhan konsumsi seperti mustard greens dan radicchio,” kata Barasch. “Bahkan kami sedang mencoba kemungkinan menanam stroberi di sini.”

Visi Lowline dan Raad Studio ternyata sangat panjang. Proyek ini akan dianggap sebagai proyek pencontohan. Ke depan, mereka ingin mengubah tempat-tempat yang terbengkalai untuk menjadi taman.

“Kami tidak akan berhenti hanya di taman ini. Selanjutnya kami akan mulai memanfaatkan banyak stasiun bawah tanah lain yang sudah lama mangkrak,” kata Barasch. [*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.