Sabtu, Mei 25, 2024

Sistem Rayon Membantu Pemerataan Pendidikan

Ilustrasi sejumlah siswa lulusan SMP mendaftar dan mengumpulkan berkas di SMA Negeri 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (11/6). Dinas Pendidikan setempat menjamin tidak ada pungutan kepada siswa dalam pendaftaran yang berlangsung hingga Sabtu (13/6)/ ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi sejumlah siswa lulusan SMP mendaftar dan mengumpulkan berkas di SMA Negeri 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (11/6). Dinas Pendidikan setempat menjamin tidak ada pungutan kepada siswa dalam pendaftaran yang berlangsung hingga Sabtu (13/6)/ ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Dinas Pendidikan DKI Jakarta beserta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk membatasi jumlah calon siswa yang berasal dari luar rayon. Calon siswa dengan kartu keluarga terbitan setelah 1 April 2015 tidak bisa mendaftar di rayon pindahan. Kebijakan tersebut dilakukan mengingat banyak siswa yang pindah rayon dengan mengubah alamat kartu keluarga untuk masuk ke sekolah favorit.

Berdasarkan catatan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, peningkatan jumlah kepindahan kartu keluarga terjadi sejak diberlakukan kuota untuk anak-anak yang tinggal di rayon tempat sekolah berada. Pada 2014, kuota untuk anak yang tinggal di rayon setempat sebesar 45%. Pada tahun 2015, jumlahnya meningkat menjadi 55%. Padahal, sistem rayonisasi dapat melakukan pemerataan kualitas pendidikan.

Di DKI  Jakarta sendiri terjadi ketimpangan jumlah siswa. Seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA) di rayon lima yang terdiri dari Kecamatan Penjaringan, Pademangan, Taman Sari serta Tambora. Berdasarkan catatan Dinas Pendidikan pada 2014, setiap sekolah di rayon tersebut hanya menampung 60% hingga 75% dari kuota sekolah.

Kementerian Pendidikan mencatat hingga saat ini baru ada 15% dari seluruh Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di seluruh Indonesia yang telah memiliki capaian Standar Nasional Pendidikan. Sementara tingkat SMA baru 50% yang memenuhi standar tersebut.

Pengamat pendidikan, Itje Chodijah mengatakan rendahnya kualitas sekolah di Indonesia juga disebabkan oleh sistem sekolah favorit. “Selama ini kerap kali pemerintah daerah hanya memperbaiki mutu sekolah yang menjadi etalase. Artinya, pemerintah hanya meningkatkan sekolah tertentu yang menjadi sekolah favorit,” ujarnya. Menurutnya, pemerataan kualitas pendidikan dapat menekan angka putus sekolah. Hingga Desember 2014 terdapat 1,5 juta anak di DKI Jakarta yang putus sekolah.

Sistem rayonisasi menuntut pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas di setiap sekolah. Seperti yang dilakukan di Kota Bandung. Pemerintah setempat melakukan perbaikan sekolah melalui pemeratan guru berkualitas serta peningkatan sarana di sekolah. Selain itu, sistem rayon ini juga dapat menekan kemacetan mengingat jarak antara sekolah dan rumah siswa berdekatan.[*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.