Senin, Juli 15, 2024

Pemerintah Harus Evaluasi Tata Kelola Penggunaan Alutsista

Personil TNI bersama Petugas PMI dan Basarnas melakukan evakuasi puing-puing pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara, Rabu (1/7). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.
Personil TNI bersama Petugas PMI dan Basarnas melakukan evakuasi puing-puing pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara, Rabu (1/7). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran menyatakan pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Medan pada Selasa [30/6] tidak bisa dikomersilkan. Namun, jika itu terjadi perlu adanya sebuah evaluasi tata kelola penggunaan alutsista.

“Evaluasi tata kelola penggunaan alutsista harus dilaksanakan jika ditemukan penjual tiket pesawat Hercules. Kalau menggunakan aset negara dengan tujuan komersial maka otomatis ini bagian yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara,” kata Sekretaris Jenderal Fitra Yenny Sucipto di Jakarta, Rabu [1/7].

Dia mejelaskan bahwa memanfaatkan aset negara dengan tujuan komersial harus memiliki transparansi dan akuntabilitas. Bahkan aset negara yang dikomersialkan harus masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak.

“Perlu transparansi dan akuntabilitas aset negara agar tidak disalah gunakan oleh elit tertentu. Aset negara yang dimanfaatkan dengan tujun mencari keuntungan ini yang harus diubah.”

Kalau pesawat Hecules dikomersialkan maka persyaratannya lebih ketat lagi seperti mempunyai asuransi bagi penumpang. Yenny beralasan pengetatan syarat tersebut karena ini menyangkut nyawa orang.

“Tidak ada kelola yang baik maka berdampak pada kerugian. Kerugian terjadi pada masyarakat karena tidak ada jaminan asuransi dan tidak mempunyai standarisasi harga tiket pesawat hercules,” katanya.

Menurut Yenny, pesawat Hercules tidak dikomersilkan karena tujuannya untuk pertahanan negara. Jadi tidak bisa digunakan seperti pesawat komersial lainnya yaitu Garuda, Merpati, Lion Air.

Seperti diketahui, warga Pematangsiantar, Oloan Pardamean Sinaga, keluarga korban jatuhnya pesawat Hercules, mengatakan lima keluarganya menaiki pesawat militer itu. Abangnya, Pendeta Sahat Sinaga, ikut serta di dalam pesawat tersebut.

Ia menuturkan, bahwa abangnya memesan tiket pesawat dari seorang jemaat GPdI di Natuna yang juga seorang anggota TNI bemarga Nababan. Dia membeli tiket dengan harga yang lebih murah tapi tidak dikasih tahu harganya.

Beberapa keluarga korban di Rumah Sakit Umum Pusat Adam Malik Medan ada yang mengatakan, biaya naik Hercules C-130 yang akhirnya jatuh adalah Rp 800.000 per orang.[*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.