Sabtu, Juli 20, 2024

Indonesia, Negara Penangkap Hiu Terbanyak di Dunia

Sirip hiu banyak disukai sebagai santapan sehingga mereka diburu/naturepl.com/Cheryl Samantha Owen/WWF
Sirip hiu banyak disukai sebagai santapan sehingga mereka diburu/naturepl.com/Cheryl Samantha Owen/WWF

Hiu dianggap sebagai predator yang ganas dan menyeramkan. Penggambaran antagonis tersebut terbentuk di benak masyarakat akibat adegan-adegan di film-film aksi  maupun animasi. Kenyataannya, spesies ini butuh perlindungan. Sejak 14 September 2014, CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/Konvensi Perdagangan Internasional terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah) memberi perlindungan yang lebih serius terhadap lima spesies hiu yang kini statusnya terancam punah.

Berlawanan dengan citranya sebagai pemangsa yang ganas, faktanya ancaman manusia terhadap hiu lebih besar dibandingkan ancaman hiu terhadap manusia. Hiu sering diburu untuk diambil siripnya hidup-hidup (shark finning). Secara kejam, hiu-hiu yang telah dipotong siripnya tadi dibuang lagi ke laut. Sering kali hiu-hiu tanpa sirip itu akhirnya mati perlahan-lahan.

Ironisnya, salah satu laporan TRAFFIC (www.traffic.com) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penangkap hiu terbanyak di dunia selama tahun 2000 hingga 2010. Indonesia merupakan habitat bagi empat jenis hiu, yaitu oceanic whitetip shark dan tiga jenis hammerhead shark (scalloped hammerhead, smooth hammerhead, great hammerhead). Hiu-hiu tersebut selama ini menjadi komoditas yang diambil sirip, minyak, dan kulitnya untuk diekspor ke luar negeri.

Padahal hiu memiliki peran penting dalam siklus ekosistem laut. Sebagai predator teratas, hiu mengendalikan populasi hewan laut dalam rantai makanan. Populasi hiu yang sehat menjadi jaminan terjaganya kelimpahan ikan-ikan konsumsi manusia. Penangkapan besar-besaran terhadap hiu menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan dalam ekosistem laut dan berdampak negatif bagi ketahanan pangan. Untuk menarik perhatian publik akan pentingnya menjaga populasi hiu, 14 Juli didedikasikan sebagai “Shark Awareness Day”.

WWF Indonesia melakukan berbagai upaya terkait penyelamatan hiu, di antaranya mengimbau nelayan untuk tidak menggunakan kawat baja pada tali cabang rawai tuna demi mengurangi tangkapan samping (bycatch) hiu di perikanan tuna rawai panjang, dan melakukan advokasi pelaksanaan National Plan of Action Pengelolaan Hiu yang berkelanjutan melalui pendekatan ekosistem.

WWF Indonesia juga meluncurkan Save Our Sharks (#SOSharks), sebuah kampanye publik untuk menghentikan promosi kuliner, konsumsi, penjualan produk-produk hiu di restoran, hotel, ritel, toko online, dan media massa.

Publik memiliki kontribusi penting dalam perlindungan hiu. Langkah nyata guna mendukung kampanye #SOShark adalah dengan berhenti mengkonsumsi sirip hiu dan produk olahan hiu lainnya. Dengan demikian, secara tidak langsung para produsen dan penjual terdorong untuk menghentikan penjualan produk-produk dari hiu, serta mendukung media massa untuk berhenti mempromosikan kuliner hiu.[*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.