Ketika Tawa Menjadi Luka: Meme dan Batas Humor di Kalangan Gen Z

- Advertisement -

Meme sudah tidak asing lagi bagi generasi Z. Hampir setiap pesan atau video yang dikirim kepada teman selalu disisipi meme. Secara umum, meme dipahami sebagai ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam suatu budaya.

Istilah meme pertama kali diperkenalkan oleh Richard Dawkins, ahli biologi evolusioner, dalam bukunya The Selfish Gene (1976). Dawkins membutuhkan nama bagi “replikator” jenis baru, yaitu unit budaya yang menyebar melalui peniruan. Ia mengambil akar kata Yunani mimeme, lalu memendekkannya menjadi satu suku kata agar terdengar mirip dengan gene. Sementara itu, menurut KBBI, meme adalah cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sejenisnya, atau gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan tambahan kata atau tulisan untuk menghibur.

Namun, kini banyak orang memakai wajah seseorang sebagai objek meme dan menyebarkannya di media sosial tanpa izin. Padahal, tidak semua yang dianggap lucu aman bagi orang yang dijadikan objeknya. Menurut kami, meme dapat bergeser dari humor menjadi perundungan ketika orang yang ditertawakan tidak pernah menyetujui dirinya dijadikan bahan lelucon.

Persoalan pertama terletak pada cara kerja meme itu sendiri. Foto atau video seseorang diambil dari konteksnya, diberi teks sindiran, lalu menyebar dalam hitungan jam. Bagi pembuatnya, itu hanya iseng. Kalimat seperti “Santai aja, kan cuma bercanda,” “Baper banget jadi orang,” atau “Humor doang, kok” sering dipakai sebagai tameng. Bagi orang di dalam gambar, kendali atas citra dirinya hilang. Kesalahan atau momen buruknya terus disebarluaskan, dan semakin luas penyebarannya, semakin sulit jejak itu dihapus.

Kasus nyata di Indonesia memperlihatkan hal ini. Sebuah kajian pustaka menyebut Bowo Alpenliebe sebagai salah satu contoh orang yang menjadi viral dan terkenal setelah menjadi korban perundungan siber. Kajian yang sama merangkum bahwa dampak psikologis negatif bagi korban mencakup kesulitan mengatur emosi, stres, depresi, dan kesepian. Artinya, ketenaran tidak otomatis menyembuhkan luka, dan popularitas yang lahir dari ejekan tidak dapat dijadikan pembenaran atas ejekan itu.

Dari sisi budaya populer, penelitian resepsi terhadap film Budi Pekerti (2023) memuat pandangan seorang penyintas perundungan siber bahwa remix atau meme yang tampak seperti candaan tetap dapat tergolong perundungan. Film ini memang fiksi, tetapi ia mencerminkan kenyataan bahwa potongan video viral sering dinilai tanpa konteks yang utuh.

Sebagian pihak berargumen bahwa meme adalah bentuk kebebasan berekspresi dan satire, sehingga kepekaan yang berlebihan justru mematikan kreativitas. Argumen ini patut dihargai, terutama jika sasarannya adalah kebijakan atau tokoh yang berkuasa. Akan tetapi, satire yang sehat mengkritik tindakan atau kekuasaan, sedangkan perundungan menyerang pribadi seseorang, seperti wajah, fisik, atau kemalangannya. Orang biasa yang kebetulan terekam kamera tidak berada dalam posisi setara untuk membela diri di hadapan ribuan penonton.

Oleh karena itu, generasi Z perlu menerapkan “rem etika”, yaitu kebiasaan berhenti sejenak untuk menimbang dampak suatu unggahan terhadap orang lain sebelum membuat atau membagikannya. Seperti rem pada kendaraan, jeda singkat ini mencegah kita melaju terlalu jauh hingga melukai orang lain. Pertanyaan sederhananya: apakah orang di dalam gambar akan ikut tertawa, apakah yang diejek adalah tindakannya atau dirinya sebagai manusia, dan apakah kita sanggup berada di posisinya? Tanggung jawab tidak hanya melekat pada pembuat, tetapi juga pada penyebar, sebab setiap pembagian ulang memperpanjang usia penghinaan. Humor yang cerdas menertawakan situasi, bukan menjatuhkan manusia.

Abigael Delvia adalah mahasiswa Sastra Indonesia, Sumatera Utara. Dr. Gustianingsih, M.Hum. adalah dosen Sastra Indonesia, Sumatera Utara.

Referensi

- Advertisement -

Menjadi Viral dan Terkenal di Media Sosial, Padahal Korban Cyberbullying (Jurnal UNJ): https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jppp/article/view/11220

JawaPos, perilaku yang tanpa sadar termasuk perundungan di media sosial: https://jawapos.com/kepribadian/2607220252/jika-anda-pernah-melakukan-7-perilaku-ini-di-media-sosial-tanpa-disadari-anda-telah-melakukan-perundungan-menurut-psikologi

Analisis Resepsi “Cyberbullying” Film Budi Pekerti (Undip): https://eprints2.undip.ac.id/27018/7/LAMPIRAN.pdf

Apa Itu Meme? Begini Ciri-Ciri, Jenis, dan Contohnya (Lister.co.id): https://lister.co.id/blog/apa-itu-meme-simak-pengertian-ciri-ciri-jenis-dan-contohnya/

Facebook Comment
- Advertisement -