Perkembangan manusia tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia dewasa. Kebutuhan untuk belajar, membangun relasi, dan menemukan pengalaman baru tetap menjadi bagian penting dalam setiap fase kehidupan. Perkembangan manusia sering kali dipahami sebagai perjalanan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Namun, apakah seseorang benar-benar berhenti berkembang ketika memasuki usia dewasa?
Memasuki usia 40 hingga 60 tahun, seseorang dapat menghadapi berbagai perubahan, mulai dari pensiun, anak yang mulai mandiri, hingga pergeseran peran dalam keluarga. Di tengah perubahan tersebut, kebutuhan untuk memiliki hubungan sosial, mencoba hal baru, dan menemukan makna kehidupan tetap menjadi bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Dalam psikologi perkembangan, konsep lifespan development menjelaskan bahwa manusia terus mengalami perkembangan sepanjang kehidupannya. Setiap fase memiliki tantangan sekaligus kesempatan untuk bertumbuh.
Perspektif inilah yang menjadi salah satu landasan lahirnya The Inner Room, sebuah social club yang menghadirkan ruang bagi individu berusia 40–60 tahun untuk mengeksplorasi pengalaman baru dan membangun hubungan sosial yang bermakna.
Tiga Perspektif Psikologi dalam Satu Ruang
Di balik The Inner Room terdapat tiga individu dengan latar belakang pendidikan psikologi, yaitu Kyrani Amara Dewi Avianto sebagai penggagas, bersama Aiman Zalika dan Nayla Kirana sebagai co-founder.
Menariknya, ketiganya memiliki ketertarikan yang berbeda. Aiman menaruh perhatian pada perkembangan anak, khususnya usia sekolah dasar. Kyrani berfokus pada lifespan development dan community psychology, sementara Nayla memiliki ketertarikan pada organizational psychology.
Perbedaan tersebut membentuk perspektif yang saling melengkapi dalam memahami manusia, baik dari perkembangan individu, lingkungan sosial, maupun dinamika kelompok.
Bagi Kyrani, perkembangan manusia tidak seharusnya hanya dibicarakan pada masa anak-anak dan remaja. Individu yang telah memasuki usia dewasa tetap memiliki kebutuhan untuk belajar, bereksplorasi, dan membangun relasi.
“Menurut saya, setiap fase kehidupan punya ceritanya masing-masing. Bertambahnya usia bukan berarti seseorang kehilangan kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru. Justru, setiap orang tetap berhak memiliki pengalaman, pertemanan, dan hal-hal yang membuat kehidupannya terasa bermakna,” menjadi gagasan yang mendasari pendekatan The Inner Room.
Middle Adulthood dan Kebutuhan untuk Tetap Terhubung
Dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson, masa dewasa madya berkaitan dengan konsep generativity versus stagnation. Fase ini menggambarkan dorongan individu untuk memberikan kontribusi, merawat, serta menciptakan sesuatu yang bermakna bagi orang lain dan generasi berikutnya.
Namun, perhatian terhadap fase ini tidak seharusnya hanya berpusat pada produktivitas. Kesejahteraan emosional dan sosial juga perlu diperhatikan.
Perubahan rutinitas setelah pensiun, misalnya, dapat membuka kebutuhan untuk membangun lingkungan sosial baru. Begitu pula ketika anak-anak mulai mandiri, seseorang mungkin perlu menemukan kembali aktivitas dan minat personalnya.
The Inner Room mencoba menjawab kebutuhan tersebut melalui pendekatan komunitas yang lebih fleksibel. Mengusung tagline “A Social Club for Your Next Chapter”, komunitas ini menghadirkan kegiatan berbasis pengalaman, eksplorasi minat, dan interaksi sosial.
Tidak ada biaya keanggotaan bulanan. Peserta dapat mengikuti kegiatan sesuai minat dan aktivitas yang diselenggarakan.
Gagasan utamanya sederhana: komunitas bukan hanya tempat berkumpul, melainkan ruang untuk merasa diterima, menemukan teman baru, dan menikmati pengalaman bersama.
Coffee Talks: Ruang Pertemuan dan Kehangatan dalam Kebersamaan
Gagasan The Inner Room mulai diwujudkan melalui pertemuan pertamanya, Coffee Talks, yang diselenggarakan pada 24 Oktober 2026 di Beezy Coffee, Bulungan, Jakarta Selatan. Berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk saling mengenal, bertukar cerita, dan membangun interaksi di luar rutinitas sehari-hari.
Pertemuan tersebut tidak hanya berpusat pada percakapan, tetapi juga pada pengalaman sederhana yang memungkinkan hubungan antarpeserta tumbuh secara alami. Hal ini sejalan dengan pendekatan The Inner Room yang memandang interaksi sosial sebagai salah satu bagian penting dari kesejahteraan manusia.
Dalam penyelenggaraan Coffee Talks, The Inner Room juga berkolaborasi dengan Asarasa untuk menghadirkan hidangan pada sesi makan siang. Kolaborasi ini memperluas pengalaman pertemuan, sebab kebersamaan tidak hanya dibangun melalui percakapan, tetapi juga melalui pengalaman berbagi makanan.
Aiman Zalika, salah satu co-founder The Inner Room, melihat kolaborasi tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna bagi peserta.
“Kolaborasi ini berangkat dari keinginan untuk menciptakan pengalaman yang tidak hanya mempertemukan orang melalui percakapan, tetapi juga melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanan, misalnya, bisa menghadirkan rasa akrab, mengingatkan seseorang pada rumah, atau bahkan pada masakan ibu yang menyimpan kenangan tersendiri.” — Aiman Zalika
Dalam konteks psikologi, makanan dapat menjadi pemantik ingatan autobiografis, yaitu ingatan tentang pengalaman personal yang memiliki keterikatan emosional. Aroma dan rasa tertentu dapat mengingatkan seseorang pada rumah, keluarga, maupun bentuk kasih sayang yang pernah diterima.
Dengan demikian, makan siang dalam Coffee Talks bukan sekadar pelengkap acara. Momen tersebut menjadi bagian dari pengalaman bersama yang mempertemukan percakapan, memori, dan kehangatan dalam satu ruang.
