Seorang pengguna media sosial membuka beranda dan menemukan konten berdurasi 30 detik berjudul “Lima tanda kamu mungkin ADHD”. Sebagian besar tandanya terasa cocok dengan dirinya dan kolom komentar dipenuhi pengguna lain yang mengaku mengalami hal serupa. Situasi ini lazim dialami Generasi Z. Banyak pengguna lalu menyimpulkan bahwa dirinya mengalami attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini disebut swadiagnosis (self-diagnosis), yaitu penentuan kondisi psikologis diri sendiri tanpa pemeriksaan profesional.
Fenomena ini perlu diperhatikan karena kebutuhan layanan kesehatan mental memang tinggi. Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 melaporkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10-17 tahun (34,9 persen) mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir, tetapi hanya 2,6 persen dari mereka yang memanfaatkan layanan kesehatan mental (UGM, 2022). Istilah masalah mencakup kondisi yang lebih luas daripada gangguan yang didiagnosis secara klinis.
Di sisi lain, media sosial menjadi sumber informasi alternatif dengan kualitas yang bervariasi. Karasavva dkk. (2025) dalam PLOS ONE menganalisis 100 video bertagar #ADHD terpopuler di TikTok dan menemukan bahwa kurang dari separuh klaim tentang gejala sesuai dengan kriteria diagnostik klinis. Kondisi ini memunculkan pertanyaan filosofis: siapa yang berhak menentukan bahwa seseorang sakit? Tulisan ini menjawabnya melalui pemikiran Michel Foucault, Jean Baudrillard, dan Jean-Paul Sartre, lalu menawarkan sikap yang lebih kritis terhadap konten kesehatan mental di media sosial.
Foucault berpendapat bahwa pengetahuan tentang kesehatan jiwa tidak netral, tetapi berkaitan dengan kuasa. Pihak yang berhak menentukan mana yang “normal” dan mana yang “menyimpang” turut mengatur cara individu memandang dirinya. Proses ini disebut normalisasi. Dahulu kewenangan itu dipegang institusi medis. Kini kreator konten, komunitas daring, dan algoritma ikut menentukan gejala yang paling sering ditampilkan.
Madsen dan Raikhel (2025) dalam SSM – Mental Health mewawancarai 25 mahasiswa di Chicago dan menemukan bahwa seluruh partisipan lebih sering melihat konten diagnosis dari orang awam daripada dari tenaga profesional. Foucault juga menjelaskan bahwa kuasa bekerja paling efektif ketika individu mau memeriksa dan menggolongkan dirinya sendiri. Swadiagnosis dapat dilihat dengan cara yang sama: seseorang memeriksa dirinya, tetapi daftar yang dipakai berasal dari media sosial.
Jika kewenangan kini tersebar, mengapa konten dari orang biasa dapat terasa begitu meyakinkan? Baudrillard menjawabnya lewat konsep hiperrealitas, yaitu kondisi ketika tanda (kata/citra) terlepas dari rujukan aslinya dan beredar sendiri sehingga tampak lebih nyata daripada realitas, mirip peta yang lebih dipercaya daripada wilayahnya. Contohnya istilah object permanence, yang semula merujuk pada tahap perkembangan bayi, tetapi di TikTok dimaknai ulang sebagai kelupaan sehari-hari yang dikaitkan dengan ADHD (Chevalier, 2024, dalam Philosophy, Psychiatry, & Psychology). Makna istilah klinis pun bergeser mengikuti konten yang paling banyak ditonton.
Pergeseran itu memengaruhi keyakinan pengguna. Hasan dkk. (2023) menemukan bahwa konten yang menormalkan kecemasan mendorong swadiagnosis melalui identifikasi dengan pembuat konten. Schiros dkk. (2025) menemukan bahwa paparan misinformasi ADHD menurunkan akurasi pengetahuan, tetapi meningkatkan keyakinan. Akibatnya, batas antara pengalaman normal dan gangguan menjadi kabur. Sulit berkonsentrasi atau suasana hati yang berubah-ubah dapat dialami siapa saja dan tidak otomatis menandakan ADHD atau gangguan bipolar. Kecenderungan menafsirkan pengalaman normal sebagai gangguan disebut patologisasi.
Namun, pengguna tidak sepenuhnya pasif. Partisipan dalam studi Madsen dan Raikhel skeptis terhadap akurasi konten. Dari sepuluh partisipan yang merasa cocok dengan suatu diagnosis tanpa pemeriksaan, hanya lima yang bersedia menyebut dirinya melakukan swadiagnosis. Sebagian memandang praktik ini dapat dimaklumi apabila layanan profesional sulit diakses. Label memberikan bahasa, pengakuan, dan komunitas, tetapi bukan terapi. Perlu dicatat bahwa sampel studi tersebut hanya 25 mahasiswa di Amerika Serikat, sehingga temuannya tidak dapat digeneralisasi.
Jika pengguna cukup kritis, siapa yang bertanggung jawab atas kesimpulan yang diambil? Sartre menjawabnya melalui eksistensialisme: manusia bebas menentukan dirinya lewat pilihan dan tindakan, bukan lewat label yang diberikan kepadanya. Ia menyebut sikap berlindung di balik sifat yang dianggap tetap, misalnya “memang begini adanya”, sebagai itikad buruk (mauvaise foi). Label diagnostik yang diterima tanpa pemeriksaan dapat menjadi bentuk itikad buruk. Sebaliknya, penolakan terhadap semua label semata-mata karena berasal dari media sosial juga menghindari pemeriksaan. Foucault menekankan pengaruh struktur, sedangkan Sartre menekankan kebebasan individu. Keduanya dapat dipadukan: pengaruh eksternal memang ada, tetapi tanggung jawab memeriksa informasi tetap berada pada individu.
Penentuan kondisi sakit tidak bertumpu pada satu pihak. Pengalaman individu menjadi data awal, pengetahuan klinis menilai durasi, tingkat keparahan, dan dampak terhadap fungsi sehari-hari, dan platform digital turut membentuk kosakata yang digunakan. Oleh karena itu, ada tiga langkah yang dapat diterapkan. Pertama, Generasi Z perlu memperlakukan swadiagnosis sebagai hipotesis, bukan kesimpulan. Kedua, pengguna perlu memeriksa dasar keahlian pembuat konten, karena kemiripan cerita tidak membuktikan diagnosis. Ketiga, apabila keluhan menetap dan mengganggu aktivitas, pengguna perlu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Apabila akses terbatas, konseling kampus atau puskesmas dapat menjadi langkah awal.
Dengan demikian, informasi di media sosial lebih tepat diposisikan sebagai pertanyaan awal, bukan jawaban akhir. Sebelum menyimpulkan bahwa suatu label sesuai dengan diri sendiri, pertanyaan yang layak diajukan adalah apakah label tersebut benar-benar menjelaskan pengalaman pribadi atau hanya cocok dengan cerita orang lain.
Daftar Pustaka
Baudrillard, J. (1988). Simulacra and simulations. Dalam M. Poster (Ed.), Jean Baudrillard: Selected Writings. Stanford University Press.
Foucault, M. (1977). Discipline and Punish. Pantheon Books.
Sartre, J.-P. (1943). Being and Nothingness.
Penulis: Queena Frederica Grinaldi Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
