Pernahkah kamu merasa jadi orang paling munafik sedunia? Momen ketika kamu memberikan nasihat dengan begitu meyakinkan kepada orang lain, padahal kamu sendiri melakukan hal yang sebaliknya. Kalau pernah, tenang, kamu tidak sendirian. Fenomena ini sudah menjadi rahasia umum dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam urusan menjaga pola hidup sehat. Secara teori, hampir semua orang sadar manakah kebiasaan yang sehat, dan mana yang bisa merusak tubuh. Tetapi, balik lagi, tahu teori itu satu hal, melakoni praktik dalam keseharian adalah urusan yang beda cerita.
Antara pengetahuan dan realitas lapangan sering kali ada jurang yang sangat lebar. Hal ini terdengar jauh lebih ironis jika dijumpai di kalangan tenaga kesehatan. Sebagai tenaga kesehatan (nakes), tentu berada di barisan terdepan dalam memberikan arahan dan implementasi hidup sehat kepada pasien. Lucunya, di saat yang sama, kami justru sering terjebak dalam pola hidup yang tidak sehat. Kami sibuk merawat dan mengingatkan orang lain, tapi lupa merawat diri kami sendiri.
Di ruang perawatan, poliklinik, atau tempat pelayanan kesehatan lainnya, memberikan edukasi adalah bagian dari tugas utama kami. Dengan wajah meyakinkan dan suara penuh empati, kami menasihati pasien: “Pak, Bu, tolong tidurnya dijaga ya, jangan begadang supaya daya tahan tubuhnya tidak drop,” atau “Jangan terlalu stres dan jangan terlalu kelelahan ya, agar proses pemulihannya cepat.” Kalimat-kalimat itu meluncur begitu mulus dan bijak dari mulut kami, seolah-olah kami adalah sosok yang sangat tertib dan disiplin dalam menjaga kesehatan.
Namun, mari kita intip realitas yang sebenarnya terjadi di balik layar kehidupan seorang nakes. Menurut saya, di sinilah letak komedi satir dari profesi ini. Setiap hari saya bisa dengan fasih meminta pasien untuk menghindari begadang demi kesehatan mereka, tapi malam harinya justru saya sendiri yang harus melek sampai subuh.
Apakah saya begadang karena keasyikan menonton film, scrolling media sosial tanpa arah, hingga bermain game? Tentu tidak. Kebiasaan tidak tidur ini terpaksa dilakukan karena tumpukan tugas, beban kerja yang padat, tuntutan akademis, serta tanggung jawab profesional yang harus diselesaikan tepat waktu. Dunia kesehatan menuntut presisi dan kesiapan yang tinggi, dan sering kali harga yang harus dibayar untuk memenuhi semua itu adalah waktu istirahat kami sendiri.
Bayangkan saja, setelah seharian berinteraksi dengan banyak orang, mendengarkan berbagai keluhan, serta memastikan pelayanan kesehatan berjalan sesuai standar, energi emosional dan fisik kami sudah pasti akan terkuras habis. Namun bukannya langsung melepas lelah di atas kasur, jam kerja berikutnya justru sering dilanjutkan dengan menyelesaikan tumpukan laporan, mempersiapkan tugas akademis, atau berdiskusi hingga tengah malam. Tubuh ini dipaksa beroperasi jauh melampaui kapasitas idealnya.
Menurut pandangan saya, keadaan ini menciptakan sebuah dilema moral dan fisik yang cukup berat. Sebagai orang yang mempelajari anatomi, fisiologi, dan berbagai dampak buruk bagi tubuh, saya memahami betapa berbahayanya kebiasaan ini bagi organ fisik maupun kesehatan mental. Saya mengetahui bagaimana fungsi imunitas menurun, bagaimana ritme sirkadian terganggu, serta bagaimana kesehatan mental pelan-pelan terkikis saat seseorang kurang tidur. Tapi di sisi lain, tuntutan peran dan sistem seolah tidak memberikan pilihan selain mengorbankan kesehatan pribadi demi menyelesaikan kewajiban.
Dampaknya tentu saja berantai dan merembet ke mana-mana. Ketika tubuh sudah sangat lelah akibat kurang tidur dan pikiran jenuh oleh beban tugas, energi untuk menjaga pola hidup ideal biasanya sudah habis. Rasa lelah yang menumpuk membuat kita kehilangan motivasi untuk sekadar menyiapkan makanan bernutrisi. Saat ada waktu luang sedikit saja, pilihan paling praktis adalah langsung mencari comfort food seadanya, mengonsumsi makanan manis untuk memicu energi instan, atau sekadar rebahan seharian, demi memulihkan tenaga. Pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan yang kurang sehat itu menjadi pelarian instan untuk sekadar bertahan hidup di tengah padatnya rutinitas.
Situasi seperti ini kerap mendatangkan rasa bersalah yang tersembunyi. Ada Situasi serupa sering pula menimbulkan rasa bersalah terselubung. Ada pergulatan batin saat kita sadar diri ini tidak menjadi contoh yang ideal. Rasanya seperti ada beban moral ketika kita menuntut pasien untuk memprioritaskan kesehatan mereka, sementara sistem hidup kita sendiri sedang berantakan. Namun di titik inilah kita disadarkan akan sebuah kenyataan penting bahwa ada batas yang sangat jelas antara dedikasi profesi dan pengabaian diri.
Pada dasarnya, tulisan ini bukan dibuat untuk mencari pembenaran atas gaya hidup yang tidak sehat, apalagi memaklumi kebiasaan begadang. Tulisan ini adalah sebuah refleksi jujur bahwa menyadari sesuatu itu baik tidak otomatis membuat kita mudah menjalankannya, bahkan untuk seorang tenaga kesehatan sekalipun. Mendidik pasien untuk hidup sehat memang sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab profesi kita. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa nakes bukanlah manusia super yang kebal dari rasa lelah, stres, dan jenuh.
Sebelum kita sibuk memastikan orang lain hidup sehat dan pulih, sudah saatnya kita para nakes mulai belajar untuk lebih jujur pada kondisi tubuh sendiri, berani mengatur skala prioritas, menetapkan batasan yang sehat, dan tidak lupa untuk menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu.
