Ada sebuah ironi yang kerap luput dari kacamata masyarakat modern: kita begitu cepat menghakimi mereka yang kehilangan kendali atas akalnya, tetapi abai pada kekejaman sistematis yang dilegitimasi oleh mereka yang merasa paling waras.
Data Kementerian Kesehatan lewat catatan Riskesdas hingga laporan mutakhir yang mencatat ribuan kasus pemasungan secara konsisten menunjukkan realitas pahit ini. Stigma sosial menempatkan penyintas gangguan jiwa di kasta paling bawah, dicap sebagai beban atau aib yang harus disembunyikan.
Namun, kekejaman itu tidak selalu berwujud rantai besi di ruang belakang rumah, atau sekedar pengurungan dalam kamar belakang yang dikunci. Sering kali, ia dimulai dari hal yang jauh lebih sunyi dan dianggap sepele: lisan dari orang terdekat. Di tengah himpitan masalah dan kepenatan hidup, orang-orang yang merasa dirinya “waras” kerap melontarkan kalimat ancaman yang dibungkus candaan atau dalih kelelahan, seperti celetukan ringan, “Awas ya kalau kambuh lagi, nanti kupasung!”
Bagi yang mengucapkannya, itu mungkin angin lalu. Tetapi bagi seseorang yang isi kepalanya sedang berkecamuk oleh badai depresi, kata-kata itu tidak pernah mendarat sebagai lelucon. Sebagian orang kerap menganggap korban terlalu baper ketika mereka menunjukkan trauma mendalam atas ancaman tersebut. Padahal, trauma psikologis tidak menunggu besi pengikat untuk tercipta; ancaman verbal yang dibungkus candaan bekerja layaknya pisau tumpul yang merobek sisa-sisa rasa aman.
Titik nadir itu makin sempurna ketika kita melihat bagaimana ketergantungan medis bekerja. Bagi seseorang yang berjuang dengan masalah kejiwaan, menenggak pil pertama di resep dokter adalah sebuah titik balik yang sunyi, sebuah gerbang tertutup, di mana mereka sadar bahwa hidupnya sejak detik itu resmi bergantung pada zat kimia. Ketergantungan itu bekerja layaknya efek domino. Ketika obat berjalan, hidup terasa tertata. Namun ketika stok menipis atau habis di tengah jalan, seluruh struktur runtuh seketika. Badai di dalam kepala meledak tanpa rem, memicu perilaku yang kerap dibaca orang luar sebagai tindakan “aneh”. Mulai dari gelisah hingga berbicara dengan diri sendiri.
Ironisnya, masyarakat di luar sana hanya melihat hasil akhirnya saja, lalu melontarkan kemarahan tanpa mau tahu bahwa ketergantungan itu adalah pilihan pahit yang terpaksa diambil demi bertahan hidup. Di sinilah letak ironi terbesar peradaban kita: mereka yang merasa paling “waras” kerap menjelma menjadi kelompok paling kejam, berlindung di balik jubah moralitas yang kaku. Orang-orang yang merasa hidupnya paling lurus dan benar sering kali menganggap diri mereka berhak menjadi hakim, padahal sistem berpikir merekalah yang sakit. Sebuah kewarasan semu yang dibangun di atas penderitaan orang-orang yang mereka singkirkan.
Pada akhirnya, akumulasi dari semua tekanan ini melahirkan sebuah pelarian yang paling pilu. Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan berubah menjadi ruangan penuh ranjau ancaman, penyintas dihadapkan pada satu pilihan ekstrem: nekat melangkah keluar rumah. Bukan untuk mencari masalah, melainkan mencari suaka perasaan yang tidak pernah diberikan oleh dunia orang waras.
Di jalanan, bahaya memang nyata, tapi dinginnya malam tidak pernah berpura-pura mencintai sambil membawa ancaman pasung. Sudah saatnya kita berhenti melihat kesehatan mental dari standar moral yang sempit. Mereka yang berjuang dengan luka kejiwaan tidak membutuhkan ancaman, melainkan belas kasih dasar sebagai manusia. Sesuatu yang ironisnya sering kali justru lebih banyak disimpan oleh mereka yang dianggap “gila” ketimbang dunia luar yang merasa paling waras.
