Sastra Indonesia Mendunia: Seberapa Jauh Suaranya Terdengar?

Sukma Dea Andini
Sukma Dea Andini
Nama saya Sukma, saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga.
- Advertisement -

Siapa yang tidak tahu Bumi Manusia? Novel karya Pramoedya Ananta Toer ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dibaca jutaan orang di seluruh dunia. Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan pun tak kalah hebat, keduanya berhasil menembus pasar internasional dan mendapat sambutan luar biasa dari pembaca global. Fakta ini membuktikan bahwa suara sastra Indonesia sudah terdengar di dunia. Namun, seberapa jauh sebenarnya suara itu terdengar, dan apa yang membuatnya bisa sampai sejauh itu?

Peran Penting Penerjemahan

Penerjemahan sastra bukan perkara sederhana. Hal ini bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan seni tersendiri yang menuntut pemahaman mendalam terhadap budaya dan jiwa sebuah karya. Dalam sastra Indonesia, kekuatan terbesar justru terletak pada kekhasan diksi. Kata “rindu” misalnya, tidak bisa begitu saja dipadankan dengan miss atau longing dalam bahasa Inggris karena terdapat kedalaman rasa yang berbeda. Begitu pula kata “guyub,” “lebur,” atau ratusan kata lain dalam bahasa Indonesia yang mengandung kekhasan lokal tanpa padanan tepat dalam bahasa lain.

Namun kenyataannya, infrastruktur penerjemahan sastra Indonesia masih sangat terbatas. Pada 2025, Kementerian Kebudayaan membentuk Laboratorium Penerjemah Sastra karena masih banyak karya sastra Indonesia yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maupun bahasa-bahasa lain di dunia. Fakta ini sekaligus menjawab pertanyaan yang selama ini menggantung: jika karya seperti Cantik Itu Luka saja sudah berhasil diterjemahkan ke lebih dari 38 bahasa dan Laskar Pelangi beredar di 130 negara, bayangkan berapa banyak karya Indonesia lainnya yang masih terkunci di balik tembok bahasa karena tidak ada yang menerjemahkannya.

Berbeda dengan Indonesia, Korea Selatan dan Jepang telah lebih dulu mengambil langkah konkret dalam mendukung penerjemahan karya sastra mereka ke panggung global. Korea memiliki Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea) sejak 1996 dan Jepang memiliki Japan Foundation (JF) sejak 1972. Kedua negara tersebut secara rutin membuka program hibah penerjemahan dan publikasi karya sastra setiap tahun. Program ini menawarkan dukungan dana yang cukup besar bagi para penerima terpilih, sehingga berhasil menarik minat penerjemah dan penerbit dari berbagai negara untuk menerjemahkan serta menerbitkan karya-karya sastra penulis Jepang dan Korea Selatan.

Diakui, tapi Belum Didengar Sepenuhnya

Lalu, seberapa jauh suara sastra Indonesia terdengar? Cukup jauh untuk diakui, namun belum diterima secara utuh. Sastra Indonesia tidak kekurangan kualitas, namun masih kekurangan jembatan yang kokoh untuk menyeberangkan suaranya ke dunia.

Membangun jembatan itu butuh komitmen jangka panjang, seperti dibentuknya lembaga penerjemahan yang serius, penerjemah yang memahami jiwa budaya Indonesia, dan kesadaran kita bersama bahwa setiap kata dalam bahasa Indonesia terlalu berharga untuk hilang dalam terjemahan yang ceroboh. Sebab, yang membuat sebuah suara didengar bukanlah kerasnya penyampaian, tetapi bagaimana maknanya sampai kepada orang lain.

Sukma Dea Andini
Sukma Dea Andini
Nama saya Sukma, saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga.
Facebook Comment
- Advertisement -