Manusia memiliki kepercayaan mutlak menyebut diri rasional. Begitu yakin membangun hierarki seolah tanpa emosional. Faktanya manusia adalah makhluk emosional yang berfikir, dari keyakinan diri tanpa melihat kanan kiri, seolah menghilangkan emosi merupakan bentuk kematangan diri.
Semakin menghilangkan perasaan seolah puncak dari hierarki yang diciptakan. Ironisnya sudah terlihat sejak awal: keyakinan untuk menjadi paling superior itu sendiri lahir dari emosi. Dari rasa ingin menang, ingin diakui, ingin istimewa. Sepandai itu manusia membangun istana rasionalitas, fondasinya tetaplah perasaan. Sepandai itu manusia membangun rasionalitas dari pondasi emosi sampai menjadi sebuah kepercayaan. Lalu, jika pondasi keyakinan pun bersifat emosional, bagaimana Islam sebagai sistem kepercayaan memandang kenyataan ini?
Makhluk Emosional yang Berfikir
Lelaki dan perempuan erat dengan mana yang lebih rasional satu dengan yang lain. Pada sains modern dari meta-analisis besar oleh Janet Shibley Hyde menunjukkan bahwa perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan lebih mirip daripada berbeda, sebuah temuan yang ia sebut gender similarities hypothesis.
Sedangkan Joseph LeDoux, peneliti neurosains dari New York University, menemukan bahwa informasi yang masuk lewat pancaindra langsung menuju amigdala (pusat emosi) hanya dalam 12 milidetik. Sementara itu, informasi yang sama membutuhkan waktu 300–400 milidetik untuk mencapai korteks prefrontal (tempat logika dan penalaran bekerja). Secara harfiah, otak kita sudah merasa sebelum sempat berpikir. Inilah mengapa kita menarik tangan dari kompor panas sebelum sadar itu panas.
Tapi manusia tidak suka disebut tidak rasional. Seperti yang diteliti oleh Jonathan Haidt disebut “the emotional dog and its rational tail” lebih piawai dalam menyusun justifikasi setelah keputusan sudah dibuat secara emosional. Antonio Damasio melangkah lebih jauh. Dalam studinya terhadap pasien dengan kerusakan pada bagian otak yang memproses emosi, ia menemukan sesuatu yang mencengangkan: tanpa emosi, manusia justru tidak bisa mengambil keputusan sama sekali. Mereka tidak menjadi “lebih rasional”. Mereka menjadi lumpuh. Berjam-jam memilih jenis pulpen, tak mampu memutuskan karier, atau terjebak dalam analisis tanpa akhir. Emosi bukan pengganggu logika, ia adalah fondasi yang tanpanya logika ambruk.
Bahasa Bayi
Mari kita lihat ke baju yang kita pakai, orang lain pakai, atau baju yang kita beli, dan kita miliki karena kita simpan. Baik dari warna, model, semuanya berdasarkan murni pada apa yang kita suka, bahkan jika kita mendapatkan referensi dari yang orang lain pakai dasarnya tetap sama, yaitu kita beranggapan baju itu keren, baju itu bagus, baju itu cantik dan intinya “Gue suka.” Dua kata itu adalah emosi murni. Ia tidak butuh data, tidak menunggu analisis. Ia hanya merasa. Dan dari perasaan itulah seluruh penampilan kita cara kita menjalani hari, cara kita memperlakukan orang, cara kita membangun keyakinan bermula.
Dalam dunia baju, seragam adalah puncak rasionalitas. Fungsional. Serba guna. Tidak peduli siapa pemakainya : tinggi, pendek, gemuk, maupun kurus semua sama. Cocok untuk bekerja, cocok untuk acara resmi, tidak akan ketinggalan zaman. Seragam tidak bertanya, “Kamu suka warna apa?” Ia hanya menyodorkan satu jawaban: pakai ini, dan kau sah menjadi bagian dari kelompok.
Tapi justru di situlah letak paradoksnya. Seragam adalah baju yang paling jauh dari selera pribadi. Ia tidak peduli apakah kau suka atau tidak. Ia direkayasa untuk meniadakan preferensi personal. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, seorang manusia mungkin berpikir: “Aku tidak memilih ini. Ini bukan aku.”
Mereset Hidup: Ketika Sang Pencipta Memahami Baju Ciptaan-Nya
Islam tidak tersinggung dengan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk emosional. Justru Al-Qur’an menempatkan qalb, hati, sebagai pusat pemahaman: “Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami” (QS. Al-Hajj: 46) mengisyaratkan bahwa kesadaran sejati bukan lahir dari logika dingin, melainkan dari hati yang hidup. Tetapi hati bisa salah memilih, dan disinilah Al-Qur’an memperingatkan tentang orang yang “menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al-Jatsiyah: 23) manusia yang menyulap selera pribadi menjadi kompas tertinggi, memakai baju keyakinan apa pun yang sedang ia sukai, tanpa peduli apakah baju itu cukup tebal untuk badai atau cukup longgar untuk perjalanan panjang.
Maka Islam menyodorkan seragam: syariat. Ia tidak bertanya apakah kau suka atau tidak, karena ia tahu selera manusia mudah lelah, mudah bosan, mudah tergoda. Apa yang hari ini terasa keren, besok bisa menjadi memalukan. Seragam ini tidak dirancang untuk membunuh warna-warni kehidupan, melainkan untuk memastikan bahwa di musim dingin yang tak terduga, kau tidak menggigil hanya karena jaket pilihanmu terlalu tipis. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216). Di balik setiap larangan ada pengetahuan tentang ukuran tubuhmu sendiri, karena yang menjahit baju itu adalah yang menciptakanmu.
Dan pada akhirnya, seragam itu tidak pernah dimaksudkan untuk membunuh selera kita, ia disodorkan oleh Sang Penjahit yang tahu persis lekuk tubuh kita, karena Ia sendiri yang menciptakan kita.
