Pada pertengahan Agustus 2025 lalu, beredar sebuah video yang menampilkan pidato Sri
Mulyani dengan pernyataan yang menuai perhatian publik, salah satunya adalah “guru adalah
beban negara”. Video tersebut dengan cepat menjadi viral dan memicu beragam respons,
termasuk kritik dari masyarakat.
Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, beredar klarifikasi bahwa video tersebut tidak pernah
benar-benar ada dalam konteks aslinya dan diduga merupakan hasil manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Pihak Kementerian Keuangan pun juga menegaskan bahwa video
tersebut bukan mempresentasikan pernyataan resmi. Video itu diketahui berasal dari pidato pada
Forum Konvensi Sains Teknologi dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus 2025 lalu.
Konten tersebut isinya kemudian dipotong serta dimanipulasi suaranya menggunakan teknologi
AI. Orang-orang yang sempat tersulut amarah pun merasa tertipu karena apa yang dilihat ternyata bukanlah suatu kebenaran dan mulai menyalahkan para pengguna AI yang meresahkan
dan tidak bertanggung jawab.
Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang lebih dari sekadar hoaks digital. Dari sinilah kita
mulai menyadari bahwa gagasan klasik dalam filsafat, seeing is believing (melihat berarti
percaya) perlahan mulai kehilangan pijakannya. Pengetahuan yang berasal dari pengalaman
indra sudah tidak terjamin lagi kebenarannya. Dengan AI seseorang dapat menciptakan foto,
video, suara, bahkan wajah manusia yang tidak pernah ada di dunia nyata. Pada awalnya hasil
editan AI masih kasar dan dapat dibedakan. Tetapi, kini editan AI mulai lebih halus sehingga
sulit membedakannya tanpa ketelitian.
Masalah ini bukan sekadar soal teknologi yang berkembang terlalu cepat. Melainkan pada
bagaimana cara kita bernalar dalam menghadapinya. Kita mulai berada dalam posisi ragu:
apakah yang kita lihat benar-benar sebuah kebenaran?
Kenapa Kita Gampang Percaya?
Mengapa kita begitu mudah tertipu? Jawabannya bukan karena kita bodoh, melainkan karena
adanya kekeliruan berpikir yang selama ini kita anggap wajar. Kekeliruan yang sering terjadi
yaitu:
Pertama, kita terbiasa untuk berpikir bahwa bukti visual adalah sesuatu yang benar. Padahal
dalam logika, ini adalah bentuk kesalahan berpikir (logical fallacy). sesuatu yang tampak
meyakinkan belum tentu menjadi suatu kebenaran. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan AI
untuk menghadirkan ilusi agar seolah-olah menjadi sesuatu yang tampak nyata bagi indra kita. Apa yang terlihat oleh mata kita kemudian diterima menjadi fakta yang dipercayai oleh otak kita.
Padahal bisa jadi ia hanyalah konstruksi digital yang dirancang dengan sangat cermat oleh AI.
Kedua, kita cenderung percaya bahwa sesuatu yang viral itu berarti benar. Ketika suatu konten
dibagikan oleh jutaan orang, ia memperoleh legitimasi semu dari banyak orang yang
mempercayainya. Padahal sesuatu yang viral tidak terjamin kebenarannya. Justru konten tersebut
hanyalah pancingan reaksi emosional bagi orang-orang yang melihatnya. Sayangnya algoritma
media sosial justru semakin memperparah kekeliruan ini. Semakin banyak yang bereaksi
terhadap materi konten itu, maka akan semakin luas informasi tersebut menyebar. Akibatnya
kesalahpahaman tersebut semakin masif. AI tidak menciptakan kesesatan berpikir ini, tetapi ia
mempercepat dan memperbesarnya.
Belajar dari Karl Popper: Cara Menyaring Kebenaran di Era AI
Lalu bagaimana kita seharusnya bernalar? Seorang filsuf, Karl Popper, menawarkan sebuah
pendekatan yang disebut falsifikasi. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya tampak
benar, tetapi juga harus terbuka untuk diuji, disangkal, atau dibuktikan salah. Dengan demikian,
sebuah klaim tidak cukup hanya dengan tampaknya yang terlihat meyakinkan, tetapi harus
mampu bertahan dari berbagai pengujian dan kritik.
Jika pendekatan falsifikasi diterapkan ke dalam ruang digital, maka kita perlu melatih cara
berpikir yang lebih kritis. Kita tidak hanya mempertanyakan “apakah informasi ini nyata?”, tetapi juga melatih pertanyaan “bisakah informasi tersebut diverifikasi dari sumber aslinya?” dan
“mungkinkah ini salah?”. Pertanyaan ini mencerminkan adanya pergeseran pola pikir yang lebih
kritis dalam memperoleh pengetahuan. Dari konsep epistemologi yang hanya pasif dan
mengandalkan kesan indrawi saja, menuju epistemologi yang lebih aktif, kritis, dan metodis.
Inilah yang disebut sebagai penalaran ilmiah, yaitu kemampuan untuk tidak hanya berhenti pada
kesan pertama, tetapi menguji semua informasi secara sistematis sebelum menerimanya sebagai
suatu kebenaran.
Perlukah Kita Meragukan Segalanya?
Namun, di sisi lain, ada jebakan baru yang tidak kalah bahaya. Jika kita mencurigai semuanya tanpa dasar yang jelas, dampaknya adalah kita bisa lumpuh secara epistemologi, yaitu tidak lagi
mempercayai apa pun. Kondisi ini justru menguntungkan penyebar disinformasi. Tujuan mereka
bukan hanya membuat kita agar percaya pada suatu kebohongan, melainkan juga berusaha
meruntuhkan kepercayaan kita terhadap kebenaran itu sendiri. Ketika kepercayaan ini runtuh
total, yang menang bukan lagi kebenaran, tetapi pihak yang paling keras menyebarkan informasi
palsu.
Karena itu, kecurigaan yang sehat bukan berarti sinisme. Melainkan kemampuan meragukan
sesuatu secara terukur, sambil berusaha tetap terbuka dan mempercayai kembali setelah berhasil
memverifikasi informasi tersebut dengan serius.
Pada akhirnya, tantangan terbesar kita bukan melawan kemajuan AI. Perkembangan teknologi
akan terus terjadi dan itu bukan sesuatu yang perlu dihentikan. Tantangan sebenarnya adalah
bagaimana cara kita dalam menyikapi segala informasi yang didapatkan. Ini menuntut
peningkatan literasi teknologi yang tidak hanya teknis, tetapi juga kritis dalam kehidupan
sehari-hari. Kita harus berhenti menganggap kecepatan menyebarkan informasi yang didapat
sebagai suatu kebaikan sebelum kebenarannya diverifikasi.
Kebenaran tidak akan mati oleh AI, tetapi ia menuntut kerja keras untuk ditemukan. Di era ini,
melihat saja jelas tidak lagi cukup. Kita harus belajar untuk meragukan sebelum mempercayai.
