Strawberry Generation dalam Blended dan Single Parent Family

Sandewa Jopanda
Sandewa Jopanda
Sandewa, seorang penulis dibeberapa artikel jurnal ilmiah, artikel populer dibuletin Kementerian Kebudayaan, dan Novel. Ia senang bekerja didunia pendidikan, konsultan akademis/sosial, dan literasi. Selain itu tetap aktif sebagai pembicara untuk organisasi dalam bidang kepemimpinan (Sekolah maupun tingkat Universitas). Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Sosiologi di Universitas Padjadjaran.
- Advertisement -

Kajian keluarga mulai menyasar pada isu-isu selain pola asuh, fungsi keluarga, dan bentuk interaksi harmonis di dalamnya, salah satunya mengenai perbandingan generasi. Generasi great depression yang lahir era perang atau pasca perang misalnya dianggap yang paling resilien karena selama hidup menyaksikan perang, mengalami wabah, dan terlibat dalam pembangunan ulang negara.

Sementara generasi seperti baby boomers yang penamaannya didasarkan pada ledakan bayi pasca pemulihan perang memiliki karakter lebih senang bertetangga sebagai penguatan solidaritas, workaholic karena masa pembangunan ulang negara memerlukan keseriusan dan mengejar kemakmuran.

Generasi stroberi atau dikenal juga dengan sebutan gen z, saat ini menarik dimata begitu banyak peneliti. Generasi ini lahir antara 1997-2012, dan penamaan stroberi merujuk pada kelompok yang tampak kuat dan menarik dari luar tetapi didalamnya rapuh, cepat putus asa, dan sering merasa kesepian ketika tidak merasa aman (Rivela et al, 2024).

Studi menunjukkan mereka berjuang dengan kelembutan mental (mental softness) saat menghadapi tekanan hidup (Aulia et al., 2022; Nurwindayani, 2025). Sayangnya generasi ini, sering mendapat asumsi negatif yang berlebihan atau dengan bahasa lebih halus seperti disampaikan Suryana (2025), kerentanannya nyata tetapi mendapat kesalahpahaman antargenerasi.

Menurut Temuan Suryana (2025) melalui penelitian metode campuran meskipun faktor sosial dan budaya memengaruhi persepsi tentang generasi stroberi atau gen z sebenarnya mereka juga menunjukkan motivasi dan ketahanan yang tinggi. Realitas yang tertangkap barangkali tidak sepenuhnya mendeskripsikan secara holistik dan lebih terukur.

Perdebatan mengenai karakteristik ini menarik bagi penulis, misalnya dengan kaitan antargenerasi yang disebutkan, bisa saja karakteristik generasi tersebut disebabkan oleh pola asuh. John W. Santrock dalam bukunya Life Span Development menyebutkan perkembangan kepribadian anak tidak hanya terbatas pada masa kanak-kanak tetapi juga hingga usia remaja dewasa bahkan dewasa awal.

Orang tua memegang peranan vital dalam pembentukan karakter tersebut. Pada konteks ini, orang tua yang dimaksud ialah yang tinggal bersama anak, menemani proses perkembangannya, dan memegang tanggung jawab secara fisik, finansial, emosional, psikis, dan sosial. Konsep tersebut berarti termasuk orang tua asuh dari kerabat, atau orang tua tiri/sambung, dan orang tua angkat.

Mengapa konsep orang tua tersebut yang penulis kemukakan?

Konsep ini lebih relevan saat ini dan berkaitan dengan generasi z di seluruh dunia menerima struktur keluarga yang berbeda dari konsep orang tua di keluarga tradisional. Struktur keluarga saat ini misalnya bisa bertipe keluarga orang tua tunggal (single parent family). Keluarga orang tua tunggal ini menitikberankan pada isu peran ganda, kesehatan mental, tekanan psikologis dan ekonomi, dan stereotip. Beberapa kemudian mengambil jalan untuk kembali menikah dengan pasangan baru yang memiliki anak atau tidak. Disinilah terbentuk blended family yang akan kita bahas.

Pada 2024, angka perceraian di Indonesia terdapat 408.347 kasus perceraian pada tahun 2024 (BPS Republik Indonesia, 2024). Di satu sisi, perceraian berarti memutuskan hubungan sosial yang intim, disisi lain menihilkan fungsi sosial yang harusnya diemban. Meskipun begitu, saat ini terdapat banyak blended family dan dalam beberapa aspek, struktur keluarga ini mampu melengkapi fungsi-fungsi keluarga yang sebelumnya terganggu.

Blended family (keluarga campuran) adalah unit keluarga yang terbentuk saat dua orang dewasa menikah, di mana salah satu (simple) atau keduanya (complex) sudah memiliki anak dari hubungan sebelumnya. Keluarga ini juga sering diartikan sebagai keluarga tiri atau di Indonesia dikenal dengan keluarga sambung.

- Advertisement -

Lalu apa kaitannya dengan generasi stroberi?

Studi menunjukkan faktor-faktor seperti pola asuh yang terlalu protektif, otoriter, serta pujian yang berlebihan mempengaruhi perkembangan kepribadian generasi stroberi (Aulia et al., 2022). Mereka menjadi pribadi yang cenderung kurang percaya diri atau bahkan tidak matang secara mental.

Studi keluarga juga sudah lama mengungkapkan pola asuh yang keliru tentu menghasikan dampak negatif bagi anak dimasa depan. Apalagi secara organik anak tumbuh dengan apa yang dilihatnya. Jika seorang individu generasi stroberi tumbuh dengan orang tua tunggal, jelas secara emosional ia tidak sepercaya diri anak-anak dengan keluarga lengkap.

Tentu ada faktor lain yang mempengaruhi baik secara eksternal maupun internal, misalnya karena pengaruh finansial (orang tua tunggal mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup), sosial (stigma anak yatim, utamanya dinegara Islam sehingga sering muncul perasaan inferior), psikis (timpangnya kasih sayang yang diterima).

Di kasus lain, individu generasi stroberi yang tumbuh dikeluarga campuran mengalami kecanggunggan pada orang tua sambung/tiri. Mereka juga mengalami proses readaptasi dengan keluarga baru baik dengan orang tua sambung, keluarganya, dan saudara sambungnya. Proses pendidikan di dalam keluarga ini juga memiliki perbedaan, paling tidak ada hal-hal tertentu yang tidak dikenali, dipahami, dan disukai selama ini.

Isu-isu tersebut menyebabkan perkembangan generasi stroberi yang semakin kompleks dan cenderung sukar untuk di tangkap realitasnya. Berdasarkan pembahasan itu, kita bisa mengatakan dekripsi mengenai karakteristik generasi stroberi juga harus menyangkut latar belakang tipe keluarganya.

Generasi Z bisa saja tidak seputus asa itu, tetap jika mereka hidup dalam keluarga orang tua tunggal kondisinya bisa lebih buruk. Sementara gen z dengan keluarga campuran kemungkinan bisa tumbuh sebagai pribadi yang rapuh atau justru lebih solid. Akhirnya, pola asuh orang tua dan tipe keluarga sangat mempengaruhi perkembangan karakter generasi stroberi.

Sandewa Jopanda
Sandewa Jopanda
Sandewa, seorang penulis dibeberapa artikel jurnal ilmiah, artikel populer dibuletin Kementerian Kebudayaan, dan Novel. Ia senang bekerja didunia pendidikan, konsultan akademis/sosial, dan literasi. Selain itu tetap aktif sebagai pembicara untuk organisasi dalam bidang kepemimpinan (Sekolah maupun tingkat Universitas). Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Sosiologi di Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment
- Advertisement -