Pernahkah Anda merasa ada yang “salah” saat melihat video seorang kakek renta menangis tersedu-sedu di TikTok karena diberi segepok uang, sementara kamera smartphone tepat berada beberapa sentimeter di depan wajahnya? Ada musik sedih yang dipaksakan masuk ke telinga kita, dan tiba-tiba saja, kolom komentar penuh dengan doa serta emoji menangis.
Di titik itu, kemiskinan tidak lagi menjadi masalah sosial yang harus kita tuntaskan bersama. Ia telah berubah menjadi pertunjukan. Ia telah menjadi sirkus. Kita sedang menyaksikan sebuah era di mana penderitaan orang lain tidak lagi memicu tindakan nyata, melainkan hanya menjadi pemantik engagement yang estetik.
Manusia yang Menjadi Properti Syuting
Mari kita jujur: dalam konten-konten filantropi teatrikal seperti itu, si penerima bantuan bukanlah subjek utama. Mereka hanyalah “properti”. Secara etis—meminjam pemikiran Immanuel Kant—manusia seharusnya menjadi tujuan akhir, bukan alat. Namun dalam sirkus digital ini, orang miskin dijadikan alat untuk membangun citra sang pemberi agar terlihat bak malaikat di mata netizen.
Ada ketimpangan kuasa yang menjijikkan di sini. Seseorang yang sedang lapar atau terhimpit utang hampir tidak punya pilihan untuk menolak kamera. Mereka “setuju” direkam bukan karena sukarela, tapi karena mereka butuh makan. Memanfaatkan kerentanan seseorang demi konten, apa pun alasannya, adalah sebuah kegagalan moral yang dibungkus dengan pita kebaikan.
Katarsis Semu di Balik Layar Gawai
Bahayanya, sirkus ini menciptakan apa yang saya sebut sebagai “katarsis semu”. Kita, sebagai penonton, merasa sudah menjadi orang baik hanya karena menekan tombol like atau menulis “Amin” di kolom komentar. Kita merasa sudah membantu dunia, padahal kita hanya sedang mengonsumsi penderitaan orang lain sebagai hiburan sambil lalu.
Efeknya sangat mematikan bagi nalar publik. Kita jadi terbiasa melihat kemiskinan sebagai sesuatu yang “indah” jika dibalut narasi kedermawanan individu. Kita lupa bahwa kemiskinan adalah luka sistemik, kegagalan negara, dan cacatnya distribusi ekonomi. Kita berhenti menuntut perubahan kebijakan karena kita terlalu asyik menonton pahlawan-pahlawan kesiangan yang membagikan receh di depan kamera.
Nihilisme Kepedulian: Jika Tak Direkam, Tak Berarti Membantu?
Kita sedang bergerak menuju masyarakat yang nihilistik. Seolah-olah, kebaikan itu tidak ada harganya jika tidak ada bukti digitalnya. Ada semacam kecemasan bagi para konten kreator: “Apa gunanya memberi kalau tidak bisa jadi konten?”
Ini adalah racun bagi ketulusan. Ketika empati hanya bekerja jika ada insentif algoritma di baliknya, kita sebenarnya sedang kehilangan kemanusiaan kita. Kepedulian kita tidak lagi organik; ia mekanis, ia digerakkan oleh tren, dan ia haus akan validasi.
Kembalikan Kebaikan ke Ruang Sunyi
Jika kita benar-benar peduli pada kemiskinan, langkah pertamanya bukanlah dengan menyalakan kamera, melainkan dengan mematikan haus akan pujian. Keadilan sosial tidak akan pernah tegak di atas pondasi pamer harta berbalut sedekah.
Kita perlu kembali pada apa yang saya sebut sebagai “Altruisme Sunyi”. Membantu karena memang ada nyawa yang perlu disambung, bukan karena ada feed yang perlu diisi. Sudah saatnya kita berhenti memberikan panggung bagi para penunggang penderitaan. Jangan biarkan jempol kita memberi makan pada ego seseorang yang menjual harga diri sesamanya demi segenggam followers.
Sebab pada akhirnya, membantu adalah tentang memanusiakan manusia—bukan memotret mereka di titik terendah hidupnya untuk kemudian dipamerkan ke seluruh dunia. Kebaikan tidak butuh tepuk tangan; ia hanya butuh ketulusan yang sunyi.
