Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Namun bagi Gigi, angka tersebut justru menjadi bukti bahwa mereka adalah salah satu band terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Konser GIGINFINITY yang digelar di Istora Senayan pada 24 Agustus 2024 lalu bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan sebuah persembahan musik yang layak didengar berulang kali, bahkan jika Anda melewatkan momen langsungnya di venue.
Menonton rekaman konser GIGINFINITY 2024 di channel YouTube, satu hal yang langsung terasa adalah kualitas sound yang memanjakan telinga. Setiap instrumen terdengar begitu detail dan jernih, setiap vokal Armand Maulana mengalun dengan presisi tanpa ada bagian yang hilang atau tenggelam. Ini bukan hanya soal teknis yang bagus, tapi juga pembuktian bahwa Gigi memang serius dalam memberikan pengalaman musik terbaik untuk para pendengarnya, baik yang hadir langsung maupun yang menyaksikan melalui layar.
Kejernihan audio yang dihasilkan membuat konser ini berbeda dari rekaman konser band lain. Anda bisa mendengar setiap petikan senar gitar Dewa Budjana, setiap ketukan stick drum Gusti Hendy, setiap dentuman bass Thomas, dan setiap nafas Armand di antara lirik. Inilah mengapa GIGINFINITY 2024 bukan hanya untuk ditonton, tapi layak untuk didengar berkali-kali.
Petikan Gitar Dewa Budjana
Salah satu momen yang paling memukau dalam konser tersebut adalah saat Dewa Budjana memainkan “Kembalilah Kasih”. Gitaris yang telah malang melintang di kancah musik jazz internasional ini seolah tak pernah kehabisan ide dalam setiap petikannya. Jari-jarinya menari di atas senar dengan begitu luwes, menciptakan alunan nada yang tiada henti.
Yang menarik, jika kita menyimak dengan cermat, petikan gitar Dewa bukan sekadar pengiring. Ia seperti berdialog dengan suara khas Armand Maulana, saling mengangkat satu sama lain. Setiap riff dan melodi yang dimainkan Dewa seakan menjadi tangga yang mengantar vokal Armand mencapai puncak emosionalnya. Kedua musisi ini memang sudah sangat paham betul bagaimana cara saling melengkapi, hasil dari tiga dekade bermusik bersama.
Begitu pula dengan “Kepastian yang Kutunggu”, di mana alunan melodi mengalun sempurna. Dewa Budjana bukan hanya bermain, ia seperti menari-nari dengan gitarnya. Setiap nada yang keluar penuh ekspresi, penuh jiwa, dan yang paling penting: penuh rasa. Inilah yang membuat musik Gigi berbeda. Mereka tidak sekadar memainkan lagu, mereka menghidupkannya.
Fondasi Kokoh dari Thomas dan Gusti Hendy
Kehebatan sebuah band tidak hanya ditentukan oleh vokal dan gitar yang mencolok. Di balik gemerlap petikan Dewa dan suara melengking Armand, ada fondasi kokoh yang dibangun oleh Thomas Ramdhan di bass dan Gusti Hendy di drum.
Bass Thomas terdengar sedap dan tepat di setiap bagian lagu. Ia tahu kapan harus menonjol, kapan harus mundur, dan kapan harus menjadi jembatan antara gitar dan drum. Sementara itu, Gusti Hendy memberikan ketukan yang presisi namun penuh feel. Drumming-nya tidak over, tidak kurang, tapi pas di titik yang membuat lagu-lagu Gigi terasa hidup dan mengalir dengan natural.
Kombinasi keempatnya, Armand, Dewa, Thomas, dan Gusti menciptakan chemistry yang sulit ditiru. Mereka bukan empat musisi yang kebetulan main bareng. Mereka adalah satu kesatuan yang sudah saling memahami tanpa perlu banyak kata. Inilah keajaiban Gigi yang mungkin tidak banyak disadari, meskipun formasi inti hanya berempat, di konser GIGINFINITY 2024 alunan musik mereka terdengar penuh warna, berlapis dimensi, dan menciptakan hegemoni musikal yang kuat.
Anda akan menemukan lapisan-lapisan musik yang begitu kaya. Ada harmoni vokal yang mengambang di belakang vokal utama Armand. Ada variasi petikan gitar Dewa yang berubah dari lembut menjadi galak dalam satu lagu. Ada pergerakan bass Thomas yang tidak monoton, kadang bergerak mengikuti melodi, kadang menciptakan counter melody sendiri. Dan ada dinamika drum Gusti yang tahu kapan harus ledak, kapan harus subtle. Hegemoni musik mereka tercipta bukan karena banyaknya instrumen atau musisi tambahan, melainkan karena setiap elemen ini paham betul bagaimana mengisi ruang audio dengan efektif. Mereka tidak saling berebut untuk terdengar, tapi saling memberi ruang dan pada saat yang tepat, bergabung menciptakan klimaks yang menggetarkan.
Inilah bukti kedewasaan bermusik. Gigi tahu kapan harus sederhana, kapan harus grand, dan bagaimana mengeksekusinya dengan presisi. Dan di GIGINFINITY 2024, kematangan ini terasa begitu nyata dan memukau.
Sebelum Mati Harus Nonton Konser Gigi
“Jangan mati sebelum ke Banda Neira,” kata Sutan Syahrir yang melegenda itu. Nah, sebagai fans Gigi, saya punya versi sendiri: “Harus tetap giat dan gigih—sebelum menutup usia, setidaknya sekali harus nonton konser Gigi secara langsung!” Sampai hari ini, saya belum pernah merasakan atmosfer konser Gigi dari dekat. Setiap kali menonton ulang GIGINFINITY atau penampilan-penampilan mereka di YouTube, selalu muncul rasa yang sama yaitu sesal. Mengapa saya tak menjadi bagian dari riuh yang bergemuruh di depan panggung itu?
Menyaksikan Gigi live bukan sekadar mendengarkan musik. Itu adalah pengalaman emosional yang tidak bisa digantikan oleh rekaman sehebat apa pun. Melihat langsung Dewa memainkan gitarnya, merasakan langsung dentuman drum Gusti, mendengar bass Thomas yang menggelegar, dan menyanyikan bersama ribuan orang di bawah arahan Armand, itu adalah bucket list yang harus segera saya wujudkan.
Jika Anda belum mendengarkan rekaman konser GIGINFINITY 2024, segeralah cari di YouTube. Pasang earphone atau headphone terbaik Anda, dan nikmati bagaimana empat musisi inti ini ditambah brass section yang apik, menciptakan magic yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah bersatu selama tiga dekade. Tiga puluh tahun sudah berlalu. Dan semoga, infinity yang mereka janjikan benar-benar terwujud. Karena Indonesia masih sangat membutuhkan Gigi, band yang telah menjadi legenda hidup di industri musik Tanah Air. Untuk Gigi: terima kasih telah menjadi bagian dari hidup kami. Tetaplah berkarya, tetaplah bernyanyi, dan jangan pernah berhenti membuat musik yang menyentuh hati.
