Penangkapan Presiden Nicolas Maduro melalui operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1) lalu, sesungguhnya bukan sekadar pergantian rezim, melainkan adalah turbulensi yang hebat bagi tatanan global. Laporan terbaru dari sejarawan geopolitik Vijay Prashad dan Carlos Ron dalam artikel: The current situation in Venezuela: a government in charge, a people resilient, pada situs web Peoples Dispatch, menyebutkan bahwa agresi dengan nama sandi Operasi Absolute Resolve tersebut melibatkan kekuatan militer yang jauh lebih besar dan masif daripada operasi Shock and Awe di Irak, pada tahun 2003 (peoplesdispatch.org, akses 09/01/2026).
Caracas yang tengah menjadi puing dan gelap gulita akibat gempuran, pengacakan sinyal, dan pengeboman udara, oleh militer Amerika Serikat, atas instruksi Donald Trump, ternyata memunculkan spekulasi liar, yang tidak berbasis fakta, hanya menggunakan logika yang tidak menyeluruh, alias parsial belaka: apakah Presiden ad interim Delcy Rodriguez, adalah ordal (orang dalam) pemerintahan yang terlibat dalam konspirasi penangkapan Maduro demi kompromi politik dengan Donald Trump melalui kesepakatan minyak?
Sejujurnya, saya sendiri agak jengah dengan tudingan terhadap Delcy Rodriguez ini, khususnya karena itu biasanya berasal dari mereka yang tidak paham situasi sama sekali, akan tetapi bersikap seolah-olah paham. Kalau dalam epistemologi, orang-orang seperti ini adalah mereka yang “tidak tahu kalau dia tidak tahu.”
Hal inilah yang kemudian membuat saya mencoba mencari informasi, di berbagai sumber. Pada akhirnya, saya menemukan laporan oleh Vijay Prashad dalam situs web Peoples Dispatch ini.
Vijay Prashad, sesungguhnya bukan sekadar jurnalis biasa belaka, yang bersangkutan adalah intelektual publik dengan reputasi mendunia. Ia adalah Direktur Tricontinental: Institute for Social Research. Vijay telah menulis lebih banyak buku tentang sejarah serta geopolitik Dunia Ketiga (The Global South)—lebih dari tiga puluh buku. Di lingkungan akademis (termasuk UGM), nama Prashad sangat dihormati sebagai pakar yang memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam isu anti-imperialisme dan hubungan internasional.
Selain itu, penulis pendamping artikel laporan tersebut, adalah Carlos Ron. Ia merupakan Presiden Simón Bolívar Institute, yang sekarang sedang menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Venezuela untuk wilayah Amerika Utara.
Dalam artian, data yang disajikan oleh mereka dalam laporan ini (seperti rincian Operasi Absolute Resolve dan isi pembicaraan Delcy dengan Trump) berasal dari sumber tangan pertama di dalam pemerintahan, atau dengan kata lain adalah informasi A satu, bukan sekadar rumor atau gosip murahan.
Kembali ke persoalan langkah politik Delcy Rodriguez, yang kontroversial tadi. Dalam membaca langkah Delcy, kita butuh pemahaman yang mendalam terkait kondisi riil Venezuela terkini, yaitu adanya “kepungan maut” yang sedang dihadapi Venezuela. Secara teknis, negara tersebut sedang berada di titik terendah dalam kedaulatan ekonomi. Ini berdasarkan fakta bahwa dengan cadangan kas yang hanya cukup untuk membiayai gaji militer dan polisi sampai akhir Januari, Delcy Rodriguez tengah berdiri di persimpangan jalan yang sulit bahkan hampir mustahil. Tanpa sokongan dana segar, sebuah pemerintahan revolusioner pun, pasti akan kolaps dari dalam sebelum berkesempatan untuk mempertahankan diri dari serangan luar.
Langkah untuk membuka akses 50 juta barel minyak ke AS dengan tarif tinggi, yaitu mekanisme harga pasar internasional, ini sesungguhnya merupakan sebuah diplomasi tarik ulur yang pahit tapi rasional. Di salah satu grup WhatsApp, saya bilang mudah-mudahan ini strategi diplomasi. Setelah saya cek di laporan Vijay Prashad dan Carlos Ron, ternyata betul adanya. Ini merupakan strategi menukar komoditas dengan waktu. Sebagaimana dilaporkan oleh Prashad, Rodriguez sedang berusaha untuk mengubah ‘aset mati’—minyak yang tertahan akibat blokade Trump—menjadi likuiditas atau dana segar yang sangat mendesak guna menyambung hidup rakyat Venezuela. Sejarah mencatat, Delcy adalah putri dari tokoh Liga Sosialis, yang tewas disiksa rezim lama. Oleh karena itu, baginya, pengkhianatan bukanlah sebuah pilihan. Langkah Delcy ini sesuai dengan frasa Yunani, Salus Populi Suprema Lex, atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.
Mendiang Hugo Chavez juga pernah menyatakan ini dalam pidatonya kalau tidak salah. “Walaupun harus ke neraka, asal demi rakyat Venezuela, saya siap!”.
Kondisi yang dilematis ini, yang membuat langkah menjual minyak pada Amerika Serikat diambil, terjadi karena dukungan dari sekutu tradisional seperti Tiongkok dan Rusia belum Jelas. Kedua negara tersebut belum memberikan payung perlindungan yang nyata terhadap agresi langsung AS di Karibia. Tiongkok, secara riil memang mengecam keras serangan tersebut, akan tetapi, secara militer mereka tidak punya kemampuan untuk memukul mundur hiper-imperialisme AS di wilayah tersebut. Dalam kesendirian geopolitik inilah, Venezuela terpaksa menggunakan daya tawar terakhirnya, yaitu minyak. Delcy mengerti sekali bahwa satu-satunya bahasa yang dipahami Trump adalah bisnis dan energi. Inilah yang mendorong Delcy untuk menggunakan akses minyak sebagai alat untuk memperkuat posisi tawar Venezuela. Khususnya supaya agresi militer tidak berlanjut dan mengakibatkan kehancuran total bangsa dan negara Venezuela.
Walaupun demikian, melabeli langkah ini dengan sikap “menyerah”, sesungguhnya adalah kesimpulan yang terlalu dini. Laporan dari lapangan menguatkan bahwa dalam setiap perundingan, Delcy tetap menuntut pembebasan Maduro dan Cilia Flores tanpa syarat. Ia sedang menjalankan Realpolitik Revolusioner, atau bersedia lentur secara taktis untuk menyelamatkan substansi yang lebih besar, yaitu kelangsungan hidup bangsa Venezuela di hadapan kekuatan militer paling mematikan di dunia, militer Amerika Serikat.
Untuk kita bangsa Indonesia, krisis ini adalah pengingat betapa rapuhnya kedaulatan sebuah negara dan bangsa di hadapan hukum rimba ekonomi-politik abad ke-21. Apa yang sedang dilakukan Delcy Rodriguez merupakan bukti bahwa kedaulatan energi seringkali harus diperjuangkan lewat siasat yang cerdik di tengah kepungan negara pemangsa global, Amerika Serikat. Nasib “Revolusi Bolivarian” kini bergantung pada sejauh mana diplomasi tarik ulur ini mampu memberikan ruang napas pada rakyatnya untuk tetap tegak berdiri.
