Film ini menceritakan kisah Gema (Omara Esteghlal), seorang anak tunggal yang tumbuh dengan minim kasih sayang dari orang tuanya. Sejak kecil, Gema terbiasa hidup sendiri di rumah karena kedua orang tuanya jarang hadir secara emosional. Papanya bekerja sebagai motivator bisnis yang menipu banyak orang, bahkan menjadikan istri dan anaknya sebagai bagian dari strategi untuk meyakinkan peserta seminar agar mau berinvestasi. Sementara itu, mamahnya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah untuk arisan dan berbagai kegiatan sosial lainnya.
Kondisi tersebut membuat Gema tumbuh menjadi anak yang pendiam dan kesepian. Di sekolah, ia kerap dijauhi dan diledek oleh teman-temannya dengan sebutan “camen” atau cacat mental. Perceraian orang tuanya semakin memperburuk kondisi emosional Gema. Ia akhirnya tinggal bersama mamahnya, namun hubungan mereka pun tidak hangat. Gema terbiasa melihat mamahnya gonta-ganti lelaki, bahkan panggilannya kepada sang ibu berubah menjadi “kakak”.
Saat dewasa, Gema tetap tinggal di rumah peninggalan orang tuanya meskipun rumah tersebut masih dalam sengketa. Namun, ia bersikap masa bodoh terhadap hal itu. Kesepian justru semakin terasa karena mamahnya tidak lagi tinggal bersamanya. Di tempat kerja pun, Gema menjalani hari-hari yang sunyi. Ia jarang diajak mengobrol oleh rekan-rekannya dan merasa canggung untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
Suasana kantor mulai berubah menjadi lebih hangat dan penuh empati setelah kabar meninggalnya papa Gema tersebar. Rekan-rekannya—Adriana (Shindy Huang), Kerin (Mawar de Jongh), Danu (Mario Caesar), Ilham (Ardit Erwandha), Naya (Nada Novia), serta atasannya Cokro (Muhadkly Acho)—mulai sering menyapa, menyemangati, dan mengikuti keinginan Gema untuk menghiburnya. Namun, perhatian itu hanya bertahan sementara.
Ketika perhatian mulai berkurang, Gema yang haus akan kasih sayang memilih jalan pintas dengan berbohong demi tetap menjadi pusat perhatian. Ia mengabarkan kematian omah opahnya, kucing peliharaannya, hingga mamahnya. Puncaknya, Gema bahkan memalsukan kabar kematian dirinya sendiri. Danu, yang sejak awal merasa curiga, akhirnya membongkar kebohongan tersebut. Akibatnya, teman-teman kantor Gema merasa sangat kecewa.
Dilanda rasa bersalah dan kesedihan, Gema memutuskan memberikan kado kepada rekan-rekannya sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Pada titik ini, terungkap pula bahwa bukan hanya Gema yang berbohong. Teman-temannya pun menyimpan kebohongan masing-masing, seperti Danu yang mengaku rutin berlibur ke luar negeri, padahal hanya mengedit foto dan membeli oleh-oleh di Pasar Senen.
Peran Orang Tua dalam Kesehatan dan Kecerdasan Emosional Anak
Orang tua merupakan figur pertama dalam kehidupan anak. Pola asuh, kehadiran emosional, serta contoh yang diberikan orang tua sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan emosional anak. Anak yang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman sejak kecil cenderung tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental dan emosional.
Sebaliknya, ketika orang tua tidak menjalankan perannya secara maksimal dan gagal memberikan kasih sayang yang cukup, anak berpotensi mencari perhatian dan cinta dari orang lain atau tempat lain. Hal inilah yang dialami Gema. Kurangnya peran dan kasih sayang dari papa dan mamahnya membuat ia terbiasa berbicara dengan foto masa kecilnya sebagai pelarian emosional.
Ketika seseorang yang haus kasih sayang akhirnya mendapatkan perhatian, kehilangan perhatian tersebut akan terasa sangat menyakitkan. Begitu pula dengan Gema yang menginginkan perhatian teman-temannya secara terus-menerus, tanpa menyadari bahwa setiap orang memiliki kesibukan dan fokus hidup masing-masing. Dari sini, terlihat jelas bahwa peran orang tua sangat besar dalam membentuk kestabilan emosi anak hingga dewasa. Bahkan, dalam realitas sehari-hari, anak dengan orang tua yang selalu hadir pun masih berpotensi mengalami gangguan emosional, terlebih jika harus menghadapi perceraian dan pengabaian.
Sekali Berbohong, Akan Terus Berbohong
Kebohongan yang dilakukan Gema bukanlah kebohongan biasa. Dari sisi psikologis, perilakunya dapat dikaitkan dengan istilah mythomania, yaitu kondisi ketika seseorang menyampaikan kebohongan berupa cerita fiktif atau khayalan yang dicampur dengan kenyataan. Pengidap mythomania sebenarnya menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan adalah kebohongan, namun tetap melakukannya demi mendapatkan simpati dan perhatian—persis seperti yang dilakukan Gema.
Menurut Halodoc (2022), penyebab pasti mythomania memang belum diketahui secara jelas. Namun, kondisi ini diduga dipengaruhi oleh lingkungan, pergaulan, serta pola asuh yang diterima sejak kecil.
Pepatah “sekali pembohong, tetap pembohong” juga diperkuat oleh penelitian yang diterbitkan dalam Nature Neuroscience. Tali Sharot dari Departemen Psikologi Eksperimental University College London dan timnya menemukan bahwa perilaku tidak jujur berkaitan dengan perubahan aktivitas amigdala, bagian otak yang berperan dalam pengolahan emosi. Melalui pemindaian fMRI, mereka menemukan bahwa semakin sering seseorang berbohong, semakin menurun pula respons emosional yang muncul.
Awalnya, kebohongan memicu konflik batin dan respons emosional yang kuat. Namun, seiring meningkatnya frekuensi kebohongan, respons tersebut semakin melemah, sehingga kebohongan terasa lebih mudah dilakukan. Penurunan aktivitas amigdala paling jelas terjadi ketika kebohongan dilakukan demi kepentingan pribadi. Artinya, keuntungan diri sendiri dapat menjadi pendorong utama perilaku tidak jujur yang terus berulang selama kebohongan tersebut tidak terungkap.
Pelajaran Berharga untuk Kita Semua
Dari film ini, saya belajar bahwa kecerdasan intelektual dan emosional tidak hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan, tetapi juga oleh lingkungan, terutama keluarga. Dalam diri setiap orang mungkin tersimpan keinginan untuk diperhatikan, dicintai, dan divalidasi.
Namun, memenuhi luka batin dan inner child dengan cara yang keliru—seperti kebohongan—justru berpotensi melukai diri sendiri dan orang lain. Film Tinggal Meninggal mengingatkan kita bahwa luka yang tidak disembuhkan dapat menjelma menjadi perilaku yang merugikan, bukan karena niat jahat, melainkan karena kebutuhan emosional yang tidak pernah terpenuhi.
