Minggu, Januari 25, 2026

Ketika Sejarah Diceritakan dengan Empati: Bukan Sekadar Pahlawan

Jaka Ghianovan
Jaka Ghianovan
Dosen di perguruan tinggi Islam kota Tangerang. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center Research of Islamic Studies (CRIS) Foundation. Pecinta Studi al-Qur`an, ilmu Sosial dan Sejarah Islam juga Indonesia. Penikmat kopi susu dan travelling.
- Advertisement -

Pelajaran dari David Van Reybrouck: Melihat Revolusi Indonesia dari perspektif orang biasa dan mata internasional

Sejarah kemerdekaan Indonesia sering kali kita terima sebagai kisah besar tentang pahlawan, proklamasi, dan kemenangan nasional. Ia hadir rapi dalam buku pelajaran, pidato resmi, dan peringatan seremonial. Namun, ketika saya menamatkan buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern karya David Van Reybrouck, saya menyadari satu hal penting: sejarah ternyata bisa diceritakan dengan cara yang lebih manusiawi—tanpa kehilangan ketegangan politiknya, tanpa mengurangi makna perjuangannya.

David Van Reybrouck bukan orang Indonesia. Ia orang Belgia, penutur bahasa Belanda (Flemish), dan menulis buku ini dalam bahasa ibunya. Posisi itu, bagi sebagian orang, mungkin langsung menimbulkan kecurigaan: apakah orang asing bisa memahami sejarah Indonesia dengan adil? Namun justru di situlah kekuatan buku ini. Van Reybrouck tidak datang sebagai hakim, melainkan sebagai pendengar yang serius.

Selama lebih dari lima setengah tahun, ia menelusuri jejak revolusi Indonesia dengan metode yang jarang ditempuh secara konsisten: wawancara lintas kelas sosial dan lintas bangsa. Yang ia temui bukan hanya elit politik dan militer, tetapi juga orang-orang biasa—tentara rendahan, warga sipil, orang Indonesia yang pro-kemerdekaan, orang Indonesia yang pro-Belanda, hingga orang Indo-Belanda yang terjepit di antara dua dunia.

Sejarah, dalam buku ini, bukan milik mereka yang berdiri di podium saja, melainkan juga mereka yang hidup di gang-gang sempit dan barak-barak tentara.

Van Reybrouck juga berani menempatkan revolusi Indonesia dalam konteks global. Ia menunjukkan bahwa Proklamasi 1945 terjadi dalam ruang hampa kekuasaan pasca-Perang Dunia II, ketika Jepang telah kalah, Belanda porak-poranda secara ekonomi, dan dunia sedang ditata ulang oleh kekuatan besar. Ia membagi periode revolusi ke dalam fase-fase yang tidak biasa: tahun Inggris, tahun Belanda, tahun Amerika, hingga tahun PBB. Pembabakan ini membuat kita sadar bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar hasil duel dua pihak, melainkan bagian dari pertarungan geopolitik internasional.

Yang membuat buku ini terasa dekat adalah cara Van Reybrouck bercerita. Ia tidak terjebak dalam bahasa akademik yang kering. Ia memakai metafora—masyarakat kolonial dianalogikan seperti kapal dengan tiga dek: dek atas untuk orang Eropa, dek tengah untuk “Timur Asing”, dan dek bawah untuk pribumi. Diplomasi kemerdekaan digambarkan seperti permen bola yang dibagi tidak selalu adil, tergantung siapa yang memegang kendali. Metafora-metafora ini sederhana, tetapi justru membantu pembaca membayangkan struktur ketidakadilan kolonial secara konkret.

Tokoh-tokoh dari Belanda seperti Haji Pocke Prinsen atau Piet van Staveren juga Joop Hueting, begitu  pula tokoh sekaliber Sutan Syahrir muncul bukan sebagai catatan kaki, melainkan sebagai manusia dengan pilihan-pilihan sulit. Dari mereka, kita belajar bahwa sejarah tidak selalu soal hitam dan putih. Ada loyalitas yang terbelah, ada keberanian yang lahir dari posisi tak terduga, dan ada kemanusiaan yang melampaui identitas nasional.

Dalam konteks pendidikan, buku Revolusi juga mengingatkan kita bahwa cara sejarah diajarkan kadang terlalu sempit. Generasi muda sering mendapat narasi tunggal yang menekankan pahlawan besar dan peristiwa monumental, sementara kisah orang-orang biasa, dilema moral, dan kompleksitas diplomasi internasional jarang disentuh. Hal ini bukan soal menilai perjuangan bangsa secara negatif, melainkan memberi ruang bagi pemahaman yang lebih utuh: bahwa sejarah bukan sekadar kejayaan, tapi juga perjalanan manusia dengan pilihan sulit, keberanian, dan kompromi.

Dengan memperluas perspektif ini, kita dapat membentuk generasi yang lebih kritis, empatik, dan mampu menempatkan pengalaman kemerdekaan dalam konteks global sekaligus lokal.

Bagi saya pribadi, buku ini tidak “mengganggu” dalam arti meruntuhkan keyakinan tentang kemerdekaan Indonesia. Sebaliknya, ia justru memperkaya. Memang, bagi pembaca Indonesia yang terbiasa dengan narasi tunggal versi negara, beberapa bagian mungkin terasa mengejutkan. Namun kejutan itu sehat. Ia memaksa kita berpikir ulang, bukan untuk menyangkal sejarah, melainkan untuk memahaminya secara lebih dewasa.

- Advertisement -

Di titik inilah buku Revolusi memberi pelajaran penting bagi cara kita mengajarkan sejarah kepada generasi muda. Bahwa mencintai bangsa tidak harus berarti menutup mata terhadap kompleksitas masa lalu. Bahwa mendengar suara orang kecil tidak melemahkan heroisme, justru menguatkannya. Dan bahwa empati—bahkan dari orang asing—bisa menjadi jembatan untuk memahami diri kita sendiri dengan lebih jujur.

Mungkin sudah saatnya kita membuka ruang yang lebih luas dalam membaca sejarah: tidak hanya sebagai kisah kemenangan, tetapi juga sebagai pengalaman manusia yang penuh kontradiksi. Dalam hal ini, David Van Reybrouck telah memberi contoh bahwa sejarah Indonesia bisa ditulis dengan hormat, empati, dan kedalaman—bahkan dari luar batas kebangsaan.

Jaka Ghianovan
Jaka Ghianovan
Dosen di perguruan tinggi Islam kota Tangerang. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center Research of Islamic Studies (CRIS) Foundation. Pecinta Studi al-Qur`an, ilmu Sosial dan Sejarah Islam juga Indonesia. Penikmat kopi susu dan travelling.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.