Video berdurasi pendek seperti TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels telah menjadi fenonema populer yang tak terpisahkan dari keseharian generasi muda. Dalam segala aktivitas kita sering sadar atau tidak sadar melihat konten video pendek hingga berjam-jam lamaya. Mulai dari perjalanan ke kampus, menunggu pesanan kopi, hingga sebelum tidur, jari-jemari kita tak bisa lepas dari layar gawai yang potongan menampilkan video cepat. Apakah kebiasaan ini hanya sekedar hiburan singkat, ataukah diam-diam mempengaruhi kemampuan otak dalam mengingat dan berkonsentrasi?
Sejak TikTok meluas ke seluruh penjuru dunia, diikuti dengan peluncuran YouTube Shorts dan Instagram Reels pada 2020, durasi tontonan masyarakat berubah signifikan. Hasil riset menunjukkan, rata-rata pengguna menghabiskan lebih dari 90 menit per hari menonton konten berformat singkat. Pola konsumsi ini melatih otak untuk terbiasa dengan rangsangan instan seperti visual, audio, dan humor yang cepat berganti. Beberapa pakar bahkan setuju bahwa fenonema ini dapat merugikan fungsi otak jangka panjang, khususnya memori kerja dan daya tahan konsentrasi.
Otak TikTok telah menjadi fenomena yang disoroti ilmuwan. Istilah ini merujuk pada pola perubahan kognitif seseorang akibat paparan video singkat yang berulang. Sebuah studi dari David & Roberts (2024) mengungkap bahwa intensitas menonton TikTok menurun dengan menurunnya kontrol diri dan meningkatnya perilaku phubbing, yakni kecenderungan mengabaikan orang di sekitar demi ponsel. Hal ini memberikan gambaran bahwa otak yang telah terbiasa dengan stimulus cepat mulai kesulitan mempertahankan fokus pada tugas-tugas yang panjang, seperti membaca buku, menulis, atau mendengarkan kuliah.
Ada juga penelitian lain yang menemukan bahwa kecanduan video bentuk pendek berhubungan langsung dengan menurunnya fungsi memori. Hasil penelitian dari Al-Leimon dan koleganya (2025) menunjukkan bahwa perhatian bertindak sebagai mediator: ketika perhatian cepat teralihkan, ingatan baru sulit terbentuk dengan baik. Akibatnya, informasi yang baru diterima lebih cepat hilang dari ingatan jangka pendek. Efek ini semakin nyata pada pelajar. Studi Mahmoudi & Taghiyareh (2024) menemukan bahwa paparan intensif terhadap video singkat berdampak negatif pada kemampuan konsentrasi akademik serta mengingat informasi yang dipelajari.
Tidak hanya daya ingat, aspek kesehatan mental juga terpengaruh oleh maraknya konsumsi video singkat. Sejumlah penelitian menemukan, penggunaan TikTok, Reels, dan Shorts secara berlebihan berhubungan dengan peningkatan tingkat kecemasan, penurunan kemampuan fokus, hingga munculnya perilaku kompulsif. Kondisi ini sering kali tidak disadari pengguna, karena platform memang dirancang agar membuat orang betah berlama-lama.
Gejala ini bisa muncul dalam bentuk kegelisahan ketika tidak memegang ponsel, kesulitan tidur akibat terlalu lama menonton sebelum istirahat, hingga penurunan produktivitas belajar maupun bekerja. Beberapa penelitian juga menyinggung hubungan antara penggunaan berlebihan dengan gangguan suasana hati (mood disorder), tetapi masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk memperkuat temuan ini
Kunci utama daya tarik aplikasi video pendek terletak pada algoritmanya. Aplikasi-aplikasi ini andal dalam mengatur rekomendasi konten berdasarkan preferensi pengguna. Begitu seseorang menonton atau menyukai satu konten, sistem akan otomatis menyodorkan video sejenis yang diyakini akan membuat mereka menonton hingga lupa waktu.
Tak bisa dipungkiri bahwa algoritma memang memberi kenyamanan, pengguna tidak perlu repot mencari hiburan karena semua konten yang disajikan terasa relevan. Tetapi di sisi lain, sistem ini memicu siklus tanpa akhir yang membuat pengguna sulit berhenti. Fenomena ini dikenal sebagai gulungan tak terbatas.
Meski demikian, konsumsi video singkat tidak sepenuhnya berbahaya. Banyak kreator konten memanfaatkan format ini untuk menyebarkan edukasi secara ringkas, mulai dari tips belajar, informasi kesehatan, hingga pengetahuan populer. Konten dengan durasi singkat justru memudahkan audiens memahami hal-hal baru dalam waktu cepat.
Dengan kata lain, efeknya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakan aplikasi tersebut. Jika ditonton secukupnya, video singkat bisa menjadi sarana belajar sekaligus hiburan. Tetapi jika dikonsumsi tanpa kendali, risikonya pada daya ingat, konsentrasi, dan kesehatan mental tidak bisa diabaikan.
Kuncinya adalah keseimbangan. Membatasi waktu menonton menjadi langkah awal yang dapat direkomendasikan. Beberapa ahli menyarankan penggunaan fitur screen time pada ponsel untuk mengingatkan pengguna agar tidak berlama-lama. Selain itu, penting untuk menggabungkan aktivitas digital dengan kegiatan lain yang melatih fokus, seperti membaca buku, menulis, atau bahkan olahraga ringan yang menyehatkan tubuh dan pikiran.
Selain itu, menjaga pola tidur juga penting tetap sehat. Kebiasaan menonton video pendek sebelum tidur terbukti bisa mengatur ritme sirkadian dan menurunkan kualitas istirahat. Hal itu sangat disayangkan karena tidur yang cukup sangat penting bagi proses konsolidasi memori.
Daftar Referensi
David, ME & Roberts, JA (2024). Otak TikTok: Sebuah investigasi tentang penggunaan video berdurasi pendek, pengendalian diri, dan phubbing . Jurnal SAGE
Rahayu, FS, Wulandari, K., & Christianto, S. (2025). Apakah Video Pendek Menyebabkan Penurunan Rentang Perhatian dan Gangguan Memori? IEEE Xplore
Arouch, S., Edgcumbe, D., Pezaro, S., & da Silva, K. (2025). Dampak Penggunaan Video Pendek terhadap Hasil Kognitif dan Kesehatan Mental: Tinjauan Sistematis . MedRxiv
Al-Leimon, O., Pan, W., Jaber, AR, & Al-Leimon, A. (2025). Reels to Remembrance: Perhatian Sebagian Memediasi Hubungan Antara Kecanduan Video Pendek dan Fungsi Memori pada Remaja . PMC
Mahmoudi, M. & Taghiyareh, F. (2024). Pengaruh Video Pendek terhadap Atensi Siswa . IEEE Xplore
